Hotel Prince

Hotel Prince
Ketakutan Lidya


__ADS_3

di Hotel Ryans,


Musim liburan mulai berakhir membuat hotel terlihat sepi dari biasanya. Sudah seminggu ini Luckas berada di London,mengurus hotel Ryans yang disana. Memang beginilah kehidupan Luckas,selalu pulang pergi dari satu cabang ke cabang lain. Dan sudah seminggu ini juga Luckas tidak memberi kabar pada Lidya, terkadang dia hanya mengirim pesan singkat saja.


"I miss you.." Lidya membaca pesan terakhir yang dia terima dari Luckas dua hari yang lalu. Lidya mencoba mengerti posisi Luckas yang selalu disibukan dengan pekerjaannya, dan Lidya tidak bisa menuntut perhatian lebih dari Luckas. Tapi terkadang saat memikirkan Luckas yang jarang menghubunginya, Lidya mulai merasa cemas. Kenangan pahit tentang Rico membuatnya takut akan terjadi lagi padanya.


"Lidyaaa!!!!" Gina berlari kearahnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"ada apa,Gina? apakah Miss Rainy mencariku?" tanya Lidya.


Pretina yang berjalan santai ke arah Lidya membantu Gina menjawab pertanyaan dari Lidya "tentu tidak..dia hanya tidak sabar memberitahumu akan gosip yang baru dia dengar"


"gosip?" tanya Lidya heran.


Pretina melipat kedua tangannya tepat dibawah dadanya "benar,dan itu mengenai Bos kita"


"Bos?? maksud kalian Luckas Ryans?"


"tentu saja Luckas Ryans,Lidya..sejak kapan kita memiliki bos lainnya?" sahut Gina.


"Gosip apa?"


"jadi..ada gosip jika bos kita telah memiliki pacar.." jawab Gina.

__ADS_1


Sekujur tubuh Lidya menegang,keringat dinginnya mulai mengalir. Hubungannya dengan Luckas selama ini hanya menjadi rahasia bagi mereka berdua, Lidya meminta Luckas merahasiakannya karena status mereka.


"pa..pacar??"


Gina menyodorkan handphonenya yang sudah ada artikel berita mengenai Luckas. Lidya membacanya sambil mencoba menahan gemetar di tangannya.


'KELUARGA GREEN TELAH MENGUMUMKAN PERTUNANGAN PUTRI TUNGGAL MEREKA DENGAN PUTRA TUNGGAL KELUARGA RYANS'


Hanya membaca headline artikel itu saja langsung membuat kedua tangan Lidya kehilangan tenaganya. Handphone Gina hampir terjun bebas dari tangan Lidya.


"Handphonekuuu..." pekik Gina yang dengan refleks menangkap handphonenya.


Freya Green.. satu-satunya putri tunggal dari keluarga Green yang juga pemilik Hotel Green. Walau hotel Green tidak sebanyak dan sesukses Hotel Ryans yang telah memiliki beberapa cabang dimana-mana, tapi Keluarga Green merupakan keluarga yang sangat terpandang di London. Freya Green sendiri merupakan model terkenal,walau tubuhnya tidak memiliki tinggi seperti model umumnya tapi wajah dan status sosialnya sudah lebih dari cukup membuatnya terkenal.


"Lidya?!" Pretina mengguncang tubuh Lidya yang tengah membeku "kamu..baik-baik saja?"


Pretina khawatir melihat Lidya yang terlihat pucat "Kamu ingin pulang? wajahmu terlihat pucat"


Lidya menggeleng "aku tidak ingin berhadapan dengan Rainy..aku sudah terlalu sering izin"


"pulanglah..lagipula jam kerja kita sendiri sudah hampir selesai.." sahut Pretina "Jika si killer itu mencarimu,kami akan mengatakan jika kamu tengah membantu tamu mencari antingnya yang hilang". Gina mengangguk menyetujui perkataan Pretina.


"terima kasih..mungkin memang istirahat yang aku butuhkan sekarang" sahut Lidya "dan aku tidak akan melupakan budi kalian" Lidya tersenyum, dia sungguh bersyukur memiliki teman seperti Pretina dan Gina.

__ADS_1


"kamu cukup mentraktir kami makan enak,Lidya.." sahut Gina sambil menunjukkan deretan giginya yang putih.


Lidya tertawa "kalian bisa memilih restoran yang kalian suka..dan aku akan mentraktir kalian"


"aku akan memilih restoran yang mahal.." sahut Gina yang bergurau.


Lidya mencoba memasang senyuman di wajahnya "tenang saja... treat on me!"


-----------


apartemen Lidya.


Lidya mencoba menghubungi Luckas tapi nomor Luckas sudah tidak aktif. Lidya mulai mengetik dan mengirimkan pesan pada Luckas, walau dia tahu Luckas tidak akan membalasnya ataupun membacanya.


"Luckas..ada apa dengan berita itu? kamu dimana? Hubungi aku jika kamu menerima pesan ini"


Lidya merebahkan dirinya di kasurnya yang empuk. Kepalanya semakin berat dan mulai berdenyut, Lidya menatap handphonenya berharap Luckas membaca dan membalas pesannya. Tapi hasilnya nihil, menunggu balasan Luckas yang lama membuat Lidya tertidur lelap dalam penantiannya.


'Maafkan aku yang pengecut ini, Lidya.


Pertunangan ini tidak dapat dibatalkans, aku tidak bisa menolak perintah dari keluargaku. Tapi..aku sungguh menyanyangimu, maafkan aku. Aku akan menikah dengan Freya bulan depan. Jalani hidupmu dengan tegar, tanpaku. Aku akan mendoakan kebahagianmu, Lidya. I love you'


Lidya terkulai lemas,ketakutannya menjadi kenyataan. Air matanya mengalir tanpa henti, rasa rindu,benci,kecewa,marah bercampur menjadi satu. Lidya ingin menjerit sekencang-kencangnya, tapi tenaganya seakan hilang dari tubuhnya.

__ADS_1


 


 ~~


__ADS_2