
I'm a mess, I'm a loser
I'm a hater, I'm a user
I'm a mess for your love, it ain't new
•Bebe Rexha•
"Kerennn.." gumam Louis tanpa sadar.
Vanya dan Ruby serentak menoleh kearah Louis yang tengah terpesona pada Vanya. Vanya sedikit tersipu malu namun dengan cepat mengontrol dirinya.
"ehem!" sahut Vanya "harap anda dapat fokus dan berkonsentrasi saat bekerja,sir Louis..".
Louis yang tersadar,hanya bisa cengengesan "maaf.. kata-kata anda tadi terdengar begitu keren di telingaku,Miss Vanya..".
Kedua mata Ruby memancarkan aura kesal "biasa saja.." bisiknya, dan dia sadar jika Vanya mendengar ucapannya.
Vanya bahkan tidak menggubris Ruby Lee, "kalian dapat duduk di sana.. ada dua meja kosong yang telah disiapkan untuk kalian berdua..".
Belum sempat Louis menjawab, Ruby menarik Louis untuk menuju tempat kerja mereka.
"hei.." seru Louis.
"Tidakkah kau mendengarnya? Dia menginginkan kita untuk fokus dan serius.. dia bukan guru TK!! dan itu cukup melukai harga diriku!" sahut Ruby.
"Dia memang bukan guru TK,gadis mungil--"
"Ruby!! Ruby Lee!! itu namaku!!" potong Ruby, dia merasa terusik akan tatapan Louis pada Vanya.
__ADS_1
Louis hanya diam,dia duduk di tempat kerjanya yang bersebelahan dengan Ruby. Setelah mereka berdua duduk,Louis mendorong kursi kerjanya yang memiliki roda kecil.. mendekati Ruby.
"Gadis mungil.. eh,sorry..Ruby.." sahutnya pelan.
Ruby yang baru mengeluarkan ponselnya dari tas Gucci-nya,menatap Louis. Louis membalas menatap Ruby yang perlahan mulai salah tingkah.
"a..ada apa?!" tanya Ruby sambil memalingkan wajahnya kembali.
Louis tidak melepaskan tatapannya dan akhirnya tersenyum "gadis mungil..kamu..tidak jatuh cinta padaku kan?" bisik Louis.
Sontak membuat Ruby terkejut dan wajahnya perlahan memerah "ka..kamu bercanda?!! ba..bagaimana mungkin a...aku jatuh cinta padamu?! ka...kamu bukan siapa-siapa!!" serunya tanpa sadar.
Louis tertawa kecil "baguslah!!".
Jantung Ruby berdebar kencang, dia sangat tidak menyangka Louis bisa menanyakan hal itu padanya. Dan lebih bodohnya,dia juga tidak menyangka jika dia akan memberikan jawaban yang begitu berlawanan dengan kenyataan, dan juga terdengar..merendahkan?
"Tidak..tidak,gadis mungil.. tidak perlu memikirkan hal itu.. karena seorang *gentleman* tidak akan perhitungan pada wanita.." balas Louis.
Tawa kecil menghiasi wajah Ruby. Louis tersenyum saat melihat Ruby yang tertawa.
"Ehem!! Jika kalian berdua ingin bermesraan.. aku sangat menyarankan untuk tidak disini!". Suara Vanya mengejutkan keduanya.
Vanya meletakkan tumpukan berkas di depan mereka berdua. Ruby dan Louis saling menatap satu sama lain dengan bingung. Vanya menarik sebuah kursi dan memposisikannya di tengah-tengah antara mereka berdua. Ruby kembali cemberut,namun tidak bisa memprotes Vanya akan hal itu.
Vanya mengambil beberapa lembar kertas yang telah di klip menjadi satu, "saya hanya menjelaskan satu kali saja. Jadi,jika di antara kalian tidak mengerti..segera tanyakan padaku. Jangan membuatku harus menjelaskannya berulang-ulang kali dengan pertanyaan yang sama,ok?".
"Siap!!" jawab Louis,sedangkan Ruby hanya membisu tidak ingin menjawab Vanya. Bagaimanapun Ruby belum terbiasa akan diperintah oleh orang lain. Dia yang biasanya memerintah dan dilayani sejak kecil, tiba-tiba harus dihadapkan oleh Vanya,seorang pegawai perusahaan ayahnya yang sekarang memerintahnya dan mengaturnya.
__ADS_1
Vanya menjelaskan perlahan secara detail apa yang harus mereka kerjakan, dia bahkan memberi contoh pada mereka berdua. Louis memperhatikan dengan seksama, sedangkan Ruby.. kepalanya mulai pusing saat menatap isi lembaran kertas yang sedang dijelaskan Vanya.
"...jadi,kalian harus memeriksa rincian *packing list* (data rincian) ini,dan kalian harus menghitung dan menggabungkan barang yang sama dalam satu *packing list* ini ya.. karena satu klip ini adalah customer yang sama dan di satu *container* yang sama.." jelas Vanya.
Louis mengangguk "baiklah,saya mengerti..".
Vanya tersenyum,dia tidak menyangka Louis yang terlihat kekanak-kanakan,ternyata begitu cepat mengerti dan serius saat bekerja. Vanya menoleh menatap Ruby yang tengah melamun, "dan..bagaimana dengan anda,Miss Ruby?".
Ruby tersadar dari lamunannya dan menatap Vanya dengan sedikit malu "aku masih bingung.." bisiknya, mengakui hal itu di dekat Louis,seakan membuat mencoreng mukanya sendiri.
Vanya menghela nafas "apakah kamu sejak tadi mendengarkanku?!" tanya Vanya.
"Ten..tentu saja!!" balas Ruby.
"Baik.. Jika memang anda mendengarkanku, sekarang di bagian apa yang membuat anda belum mengerti??" tanya Vanya.
Rasa malu kembali menjalar diri Ruby "se..semuanya..".
Louis sedikit terkejut,dia menatap Ruby yang menahan malu "kamu belum mengerti?"
Vanya menatap Louis dan Ruby kembali "Baiklah,Miss Ruby.. saya akan menjelaskannya sekali lagi pada anda.. Dan anda Sir Louis, anda bisa mengerjakannya terlebih dahulu selama aku menjelaskan ulang kembali pada Miss Ruby..".
Louis mengangguk "siap!!".
Vanya menjelaskannya secara perlahan dari awal pada Ruby, dan hasilnya tetap sama.. Ruby belum sepenuhnya mengerti. Dan inilah salah satu alasan Ruby menolak bekerja di perusahaan ayahnya. Dia tidak berminat dan merasa tidak mampu,hanya melihat angka-angka di lembaran kertas itu saja telah membuatnya pusing dan mual.
__ADS_1
"Miss Ruby?!" hadrik Vanya yang kembali membuyarkan lamunan Ruby Lee.