Hotel Prince

Hotel Prince
Right Here Waiting


__ADS_3

Oceans apart day after day


And I slowly go insane


I hear your voice on the line


But it doesn't stop the pain


•Richard Marx•



"a...apa--" Lidya menjadi gugup seketika setelah mendengar ucapan Darren.



Darren tersenyum "aku yakin kamu sudah menyadari perasaanku padamu,Lidya. Tapi ketahuilah..aku telah menyukaimu saat kamu masih di Boston dan bahkan saat kamu masih dalam keadaan hamil..aku tidak peduli apapun statusmu,Lidya" sahut Darren dengan serius, dia semakin yakin akan perasaannya saat dia tidak sengaja mengetahui Lidya yang masih single dari Elena.



Lidya menatap Darren tidak kalah serius "Darren..terima kasih karena telah menyukaiku. Tapi, yakinlah..aku bukanlah pasangan yang cocok dan tepat untukmu"



"Setidaknya pertimbangkanlah terlebih dahulu,Lidya..aku akan menunggumu" sahut Darren.



"Darren--"



"ah...dingin sekali.. tidakkah kamu mengajakku masuk ke dalam rumahmu?" potong Darren.



Louis mengintip dari jendela menatap Lidya dan Darren dari dalam rumah sambil menggendong Ayles yang baru terbangun dan mencari ibunya.



'*siapa pria itu*?'



Ayles yang menyadari sosok ibunya dari jendela,refleks memanggil ibunya "mamiiiiiiiii~".



Louis terpaksa menggendong Ayles keluar untuk bertemu ibunya.

__ADS_1



"good morning,sayang.." sahut Lidya sambil menggendong Ayles dari pelukan pamannya.



Louis menatap Lidya sambil melirik Darren,Lidya terkekeh..dia mengerti maksud lirikan Louis "Jadi..Louis..kenalin ini teman aku,Darren.. dan Darren ini adik laki-laki aku,Louis" sahut Lidya sambil melirik keduanya.



Darren tersenyum ramah,sambil mengulurkan tangan kanannya pada Louis "Halo..senang berkenalan dengan anda,Louis"



Louis membalas uluran tangan Darren "senang berkenalan dengan anda juga,Darren. Lidya,mengapa kamu tidak mempersilahkan tamu kita untuk masuk ke dalam rumah?"



"ah..kamu benar Louis.. maafkan aku. Cuaca dingin begini,tentu akan lengkap dengan segelas kopi panas dan roti hangat yang baru matang.." sahut Lidya.



"hanya membayangkannya saja telah membuatku meneteskan air liur, Lidya.." sahut Darren.



"jadi.. tunggu apa lagi.. segera hangatkan tubuhmu,Darren" sahut Louis.




"bukankah aku sudah mengatakan padamu? dia temanku.." jawab Lidya sambil berbisik juga.



"sungguh? Tapi sepertinya ada pancaran tanda hati dari matanya saat menatapmu"



Lidya menyiku Louis dengan kuat hingga membuatnya meringis kesakitan. Darren menatap Louis dengan kebingungan "kamu baik-baik saja, Louis?" tanya Darren.



Louis mencoba tersenyum "te..tentu,Darren.." sahutnya sambil menatap Lidya yang terlihat masa bodoh.



New York,

__ADS_1


Louis berjalan masuk ke dalam ruangan Elena, Elena sedikit bergidik saat Luckas masuk ke dalam ruangannya. Aura Luckas terasa begitu berbeda dari sebelumnya.


"Bagaimana kabar anda,Luckas?" tanya Elena sambil menyuruh sekretarisnya untuk membuat dua cangkir teh hangat untuknya dan Luckas.


"Sejak kepergian Lidya..mungkin kabarku tidak akan pernah baik lagi,Elena" jawab Luckas dengan dingin.


Elena menatap Luckas dan sedikit merasa kasihan pada Luckas yang begitu kehilangan Lidya, 'okay..mungkin rencana Louis sedikit keterlaluan..Luckas terlihat begitu terpuruk' gumam Elena dalam hati.


"ada apa anda memanggilku ke sini?" tanya Luckas.


"ah..tidak..aku hanya mendapat info dari karyawanku jika anda hampir tiap hari datang ke sini"


Raut wajah Luckas kembali muram "maafkan aku jika kehadiranku mengganggu anda..tapi,tidak tahu mengapa aku merasa suatu saat Lidya akan kembali ke sini" sahut Luckas.


Sekretaris Elena mengetuk pintu dan mengantarkan dua cangkir teh hangat.


"minumlah,Luckas.." sahut Elena.


"terima kasih.." sahut Luckas pendek tanpa menyentuh teh tersebut.


"apakah aku boleh bertanya sesuatu pada anda,Luckas?"


"silakan"


"Apakah anda keberatan jika anda menceritakan padaku apa yang terjadi diantara anda dan Lidya?"


Luckas terdiam dan sesekali menghela nafas "aku mengaku aku salah,Elena dan aku mencoba memperbaiki semuanya. Aku juga tahu Lidya kecewa padaku,tapi aku tidak ingin kehilangannya.. aku..aku begitu mencintainya. Dan bahkan jika dia ingin aku mati supaya bisa memaafkanku,aku tidak akan keberatan!" tukas Luckas.


Elena tercengang,dia berdiri menuju mejanya dan menulis sesuatu diatas kertas memo dan menyodorkan pada Luckas setelahnya.


Luckas menatap kertas tersebut dengan bingung "apa ini?"


"alamat"


"alamat siapa?"


Elena tersenyum canggung "Maafkan aku,Luckas. Lidya tidak berhenti kerja,dia hanya mengambil cuti untuk menenangkan dirinya sekaligus merayakan natal bersama keluarganya di Lexington"


Luckas menatap Elena dengan tatapan menusuk "kamu--"


"jangan salahkan aku,Luckas. Lidya sendiri juga memintaku merahasiakan keberadaannya padamu, dan tentang kebohonganku soal dia berhenti kerja..hal itu hanya sekedar ide bodoh dari Louis semata yang ingin membalasmu"


"dan mengapa anda sekarang berubah pikiran?"


"aku tersentuh saat melihat kegigihan anda,Luckas. Dan aku tidak sanggup harus merahasiakan hal ini lebih lama.. karenanya--" Elena menunjuk kertas memo di tangan Luckas "aku memberimu hadiah itu.."


Luckas menatap kertas memo yang ada di tangannya.


"pergilah,Luckas. Kali ini jangan pernah lepaskan dia lagi. Aku yakin..Lidya pasti juga sedang menunggumu.." sahut Elena.

__ADS_1



__ADS_2