
Peek-A-Boo!
It’s strange, you’re different
I stop this game and I look at you again
I’m not afraid, because I just felt
That a new story will begin
•Red Velvet•
Ruby berjalan dengan langkah kesal mendekati Mr.Zhang, "aku ingin Miss Vanya kembali membimbingku!!" sahutnya. Baik Louis maupun Vanya yang berada tidak jauh dari Mr.Zhang mendengar dengan jelas perkataan Ruby.
"Tidak!! anda tetap bersama Miss Jessica,Ruby.. Beliau merupakan pilihan terbaik untuk membimbingmu!" tukas Mr.Zhang tegas tanpa melihat Ruby,dia bersungguh-sungguh tentang bersikap tegas pada Ruby.
"Mr.Zhang.." rengek Ruby, sebenarnya Ruby merasa berat untuk memohon kembali pada Vanya. Tapi,melihat kebersamaan Louis dan Vanya membuatnya pasrah jika harus memohon pada Mr.Zhang, disisi lain..dia juga membenci Jessica dan tidak ingin kembali pada Jessica.
"Tidak,Miss Ruby..keputusanku sudah bulat. Anda tetap bersama Miss Jessica, tidak ada yang bisa merubah hal itu" tukas Mr.Zhang kembali.
Louis menatap tawa Vanya yang menghilang saat mendengar pembicaraan antara Ruby dan Mr.Zhang, "Vanya..bukankah anda ingin mengajariku mengoperasikan mesin fotokopi?" sergah Louis.
"ah..ya..maafkan aku.. ayo kita ke mesin fotokopi" sahut Vanya saat tersadar.
Louis mengikuti Vanya menuju ruang kecil di sudut kantor mereka,dimana tempat mesin foto kopi berada. Ruby bahkan tidak bisa mengalihkan pandangan matanya pada mereka berdua. Dia kembali menatap Mr.Zhang dengan tajam lalu berbisik padanya "Kembali pada Vanya merupakan pilihanku dan juga permintaan terakhirku!! Selanjutnya aku berjanji akan serius,uncle.. aku mohon padamu.." lirih Ruby dengan suara berbisik.
__ADS_1
Mr.Zhang membisu "kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu??"
Ruby mengangguk dengan cepat "tentu saja!"
Mr.Zhang kenbali menghela nafas "aku akan membicarakannya pada Vanya terlebih dahulu, uncle tidak bisa menjanjikan apa-apa. Jika Vanya menolak,mau tidak mau..kamu harus kembali pada Miss Jessica"
Ruby melirik Jessica yang menatap komputernya dengan tatapan dingin dan sesekali memegang kacamata merahnya, Ruby bergidik "uncle.. kamu yakin dia itu manusia?" tanya Ruby sambil berbisik "aku merasa dia sepertinya jelmaan siluman boneka salju" lanjutnya.
Mr.Zhang melongo mendengar perkataan Ruby "jangan kamu katakan dia jelmaan olaf (boneka salju yang di film Frozen)!".
Ruby menggeleng dengan serius "Olaf begitu imut,mini,dan lucu.. dia sungguh bertolak belakang dengannya!" jawab Ruby serius.
Vanya menjelaskan tentang bagaimana cara mengoperasikan mesin foto kopi, tapi Louis bukannya mendengarkan dengan seksama melainkan menatap Vanya begitu dalam. Vanya akhirnya menyadari jika Louis sejak tadi menatapnya.
"Sepertinya saya bukan mesin fotokopi,sir Louis.." sahut Vanya dengan nada sedikit kesal.
"Louis!" sergah Louis.
"Ha?" Vanya menatap Louis dengan bingung.
"Panggil aku Louis,Vanya.." sahut Louis dengan nada sedikit berbisik sambil perlahan mendekati tubuh Vanya.
Menyadari Louis yang semakin mendekatinya,Vanya berjalan mundur hingga tubuhnya menyentuh mesin fotokopi dan hampir terjatuh. Louis bergegas menarik tubuh Vanya dan akhirnya Vanya malah jatuh dalam dekapan Louis. Louis menatap Vanya dengan lembut. Perlahan wajah Vanya mulai memerah,hingga tidak sanggup melihat wajah Louis.
"A..apa yang kamu lakukan?" bisik Vanya dengan gugup.
"Aku? Aku hanya memandang bidadari begitu..indah.." jawab Louis dengan suara sedikit berbisik.
__ADS_1
Wajah Vanya semakin merah mendengar jawaban Louis.
"Sir Lo..Louis.."
"Louis,Vanya.. panggil namaku.." bisik Louis.
Vanya seakan meleleh di dekat Louis,dia yang biasanya begitu dingin dan masa bodoh tapi di dekat Louis membuatnya kehilangan kata-kata dan tenaga.
"Ehem!!"
Louis dan Vanya terkejut dan bergegas berdiri di posisi mereka kembali.
"Sepertinya aku mengganggu kalian?" tanya Ruby dengan suara datar dan terkesan kesal. Dia tidak menyangka,mengikuti Louis dan Vanya akan membuatnya melihat pemandangan yang mampu membakar dirinya.
"Sudah tahu tetap diganggu.." gumam Louis sendiri, Vanya menahan tawa mendengar ucapan Louis.
Ruby menatap keduanya dengan tajam, "Miss Vanya..bolehkah aku berbicara empat mata dengan anda?".
Louis menatap Vanya dan Ruby bergantian, "mengapa tidak enam mata? lebih rame lebih asyik bukan?"
"Ini hanya antara dua wanita,Louis.." sahut Ruby lembut.
Louis memutar kedua bola matanya, "fine..fine.."
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Vanya saat dia dan Ruby berada di lorong sepi yang jarang dilewati pegawai apalagi di jam-jam sibuk begini.
Ruby memutar tubuhnya dan menatap Vanya "Aku hanya ingin mengatakan sesuatu pada anda,Miss Vanya.. Louis adalah milikku!!"
Vanya sedikit terkejut akan topik pembicaraan Ruby "milikmu?" sahut Vanya "yang aku tahu.. Louis adalah miliknya sendiri.. Jika ada yang mengklaim dia adalah milik seseorang,aku yakin.. hanya kedua orang tuanya yang berhak akan itu"
Ruby meremas tangannya "aku tidak perlu menjelaskan jika aku menginginkan Louis,bukan?!"
__ADS_1