
Chandra diam-diam menatap Louis yang tengah serius dengan pekerjaannya, berulang kali dia melirik Louis yang masih juga terlihat begitu dingin.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Louis tiba-tiba.
Refleks membuat Chandra terkejut, "ah..ya..ah...aku.." sahut Chandra dengan gugup.
Louis meletakkan pena yang sedari tadi berada dalam genggaman tangan kanannya, dia menatap Chandra dengan tatapan serius, "duduklah.." sahut Louis sambil menunjuk kearah kursi yang berada di depan mejanya. Chandra memaki dirinya sendiri yang seakan mengorek lubang kuburnya sendiri. Dengan langkah berat,dia pun menuruti perintah Louis, sebab memang kenyataannya dia memiliki pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Chandra sejak pertemuan mereka dengan Lee bersaudara itu. Seulas senyuman kecil menghiasi wajah Louis yang terkesan dingin di mata Chandra, "ada apa,Chandra?"
Chandra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, "maaf,sir.. sebenarnya saya tidak berani bertanya pada anda. Sebab sepertinya pertanyaanku tidak berhubungan dengan pekerjaan" sahut Chandra dengan suara semakin mengecil, layaknya seorang murid yang sedang gugup menghadapi gurunya.
"Tentang Lee's Ship?" tanya Louis.
Chandra tercengang, "ba..bagaimana anda--"
Suara tawa keluar dari mulut Louis, "bagaimana saya tahu?. Sejak kemarin,wajahmu begitu jelas terlihat di penuhi oleh rasa penasaran"
Kali ini, gantian Chandra yang tertawa kecil dan kembali menggaruk kepalanya, "maafkan saya,sir.."
Louis menggelengkan kepalanya, "kamu tidak perlu minta maaf,Chandra.. Saya sendiri tentu akan penasaran jika berada dalam posisimu.. Hanya.." Louis melirik Chandra "aku tidak akan seberani dirimu untuk bertanya pada atasanku"
Chandra menundukkan kepalanya, mendengar ucapan Louis membuatnya merasa menyesal, "maafkan saya jika telah melewati batas,sir.. dan anda tidak perlu menjawabku,sir.." sahutnya pelan.
Louis menggelengkan kepalanya, "tidak apa. Jika kamu bertanya apakah aku mengenal kedua Lee bersaudara sebelumnya.. maka jawabanku ya! Bukan hanya saya... Vanya juga mengenali mereka. Kami bahkan saling mengenal satu sama lain. Tapi, tidak dengan hubungan kami. Karenanya saya tidak ingin Vanya bertemu dengan mereka berdua lagi" wajah Louis terlihat sedikit muram, "saya yakin tanpa harus saya jelaskan.. kamu sendiri juga mengerti saat melihat reaksi Vanya saat bertemu salah satu ataupun keduanya bukan?".
Chandra mengangguk, walau tanpa harus mendapat penjelasan lebih rinci. Chandra telah tahu adanya hal buruk yang terjadi diantara mereka berempat. Dan dia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi, dia telah mendapatkan jawaban walau tidak terperinci.. dia telah puas.
__ADS_1
"Dan.. satu hal lagi.. Vanya adalah kekasihku" sahut Louis sambil menatap Chandra dengan tajam.
Pernyataan yang bagaikan sebilah pisau yang menusuk tubuhnya, "a.."
Louis tersenyum,sebuah senyum yang terlihat penuh kemenangan. Sudah lama Louis menyadari jika Chandra memiliki perasaan terhadap Vanya. Tatapan mata Chandra selalu terlihat berbeda saat dirinya menatap Vanya, "aku hanya ingin memberitahumu dulu.. Setidaknya sebelum orang lain mendengar kabar tentang hubungan kami" lanjut Louis.
Wajah Chandra terlihat muram, sejak Vanya bertemu dengan Louis.. dia telah tahu jika keduanya memiliki hubungan tapi berulang kali juga dia tidak ingin menerima kenyataan itu.
Hard Rock Cafe, Bali.
Peter terlihat meneguk minuman beralkoholnya di salah satu kursi bar yang tersedia. Ya,dia sendirian..tanpa di temani Ruby yang mungkin juga tengah menikmati waktunya selama masih berada di Bali. Ruby sendiri telah jatuh cinta dengan keindahan Bali dan memilih menikmati 'liburan' ini selama beberapa hari sebelum kembali ke New York.
"Kamu yakin dengan ini?" tanya Peter sambil menatap memo yang di sodorkan pria tersebut.
Pria tersebut mengangguk, "sangat yakin!! Anda tidak perlu membayar kami jika salah!" sahut salah satu pria yang berambut ikal panjang yang terikat asal.
__ADS_1
Peter terkekeh mendengar jawaban pria itu, aksen bahasa Inggris pria itu terdengar lucu di telinga Peter.
"Dan.. dia tinggal sendirian,sir.." lanjut teman pria yang sejak tadi hanya diam.
Seulas senyuman lebar langsung menghiasi wajah Peter, "kamu yakin?"
"seratus persen!" jawab mereka serentak.
Peter mengeluarkan sebuah amplop putih yang telah berisi lembaran uang dollar, dan meletakkannya dengan kasar diatas meja, "ambilah!! Aku akan menghubungi kalian kembali jika aku membutuhkan kalian lagi!" sahut Peter sambil kembali meneguk minumannya.
Salah satu pria itu bergegas meraih amplop putih itu dan melirik isinya, yang otomatis membuat dia dan temannya menunjukkan deretan gigi mereka.
__ADS_1
"Dengan senang hati,sir.. kapanpun anda membutuhkan kami!!" sahut mereka sambil langsung pergi dari tempat itu, meninggalkan Peter yang tengah tertawa. Tawa yang sangat sanggup membuat orang lain bergidik. Hanya Peter yang tahu arti dari tawanya itu.