
Luckas menyodorkan salah satu kartu berwarna hitam yang dikeluarkan dari dompetnya "simpan ini,Lidya"
"tidak,Luckas..aku bukanlah istrimu dan bukan hakku untuk menerima uangmu" tolak Lidya dengan halus, dia bukanlah tipe wanita yang mau menerima uang dari kekasihnya..bahkan saat berpacaran dengan Rico, Lidya tidak pernah mau menerima uang darinya walau hanya sekedar uang jajan menurut Rico, tapi Lidya menolaknya "Sesuai perkataanmu,biarkan aku menjadi diriku sendiri,Luckas".
Luckas memeluk Lidya,bagaimana mungkin dia tidak percaya akan pilihannya..Lidya sosok wanita yang mandiri dan tidak pernah merengek meminta sesuatu padanya,walau Luckas dapat dengan mudah memberikan apapun yang dia inginkan bahkan lebih dari itu, namun Lidya selalu menolaknya. Lidya pernah berkata pada Luckas jika statusnya yang sebagai kekasihnya bukanlah menjadi tanggung jawabnya untuk memenuhinya secara material.
########
Keesokan harinya di Cafe Uptown,Washington.
Cafe Uptown terlihat begitu ramai,suasana interior di desain begitu apik layaknya seperti kota mini kecil yang berada didalam ruangan. Banyak pengunjung dari berbagai kalangan usia yang suka mengunjungi cafe ini. Beragam menu fushionnya juga tidak kalah menarik dan juga sangat enak menambah nilai tambah buat cafe yang baru berumur enam bulan itu.
Lidya duduk manis di salah satu meja yang berada di dalam cafe itu. Blouse berkerah V berwarna kuning dengan hiasan ikatan pita dibagian belakang ditambah dengan balutan celana panjang berwarna putih,semakin menonjolkan kulit putih dan mulus Lidya. Tidak sedikit pria-pria melirik kearah Lidya.. Lidya memesan jasmine tea sambil menunggu kedatangan Martha, dan selama itu juga Lidya merasa gugup. 'bagaimana jika beliau tidak menyukaiku? apa yang harus saya bicarakan dengan beliau? bagaimana jika beliau juga memaksaku meninggalkan Luckas?'. Berbagai pertanyaan mengalir dalam benaknya, hingga tiba-tiba Martha menepuk lembut bahunya hingga membuatnya terkejut.
"oh..maafkan aku,Liyda..apakah aku membuatmu terkejut?" sahut Martha yang menyesal telah menepuk bahu Lidya.
__ADS_1
"tidak..tidak,tante..aku..aku hanya sedikit melamun hingga tepukan ringan dari tante membuatku terperanjat" balas Lidya disertai senyuman sambil berdiri mempersilahkan Martha untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Martha mengangguk tersenyum sambil duduk di kursinya "apakah kamu telah lama menungguku..maafkan aku,Lidya.. tante tidak menyangka jika jam segini,jalanan akan sangat macet"
Lidya menggeleng "anda tidak terlambat,tante. Aku-lah yang terlalu cepat datang,jadi tante tidak perlu merasa bersalah"
Martha kembali tersenyum dan memanggil salah satu pelayan untuk memberikan menu padanya "kamu terlihat cantik hari ini,Lidya"
"terima kasih. Tapi anda yang terlihat lebih menawan dari pada saya,tante" balas Lidya,perkataan Lidya tulus benar adanya. Blouse sutra berwarna putih dipadu dengan celana berwarna coklat membuat Martha terlihat begitu elegan, bukan..apapun yang dipakai Martha,selalu terlihat menawan dan elegan.
"Jika begitu..maka kita berdua sama-sama cantik hari ini" canda Martha diiringi tawa dari mereka berdua "apa yang dikatakan Luckas padamu jika aku ingin menemuimu?" tanya Martha sambil memesan segelas jus mangga kesukaannya.
Martha tertawa terbahak-bahak memperlihatkan kedua lesung pipinya "benarkah??"
Lidya mengangguk perlahan.
__ADS_1
"jadi..kamu tidak keberatan untuk 'berkencan' denganku?" tanya Martha.
"tentu aku tidak keberatan.." Lidya terdiam sejenak "tapi..apakah tante menemuiku bukan karena ingin berbicara denganku?". Lidya merasa jika Martha bukan hanya sekedar ingin bertemu dengannya.
Martha tersenyum lembut "seperti kata Luckas,sayang.. tante hanya sekedar ingin berkencan saja.. lebih tepat lebih ingin mengenalmu. Dan sebenarnya tante ingin merasakan rasanya memiliki anak perempuan.." Martha mendekatkan kepalanya sambil sedikit berbisik "seperti yang kamu tahu..tante hanya memiliki anak laki-laki,bukan?"
Lidya tertawa,diam-diam dia merasa lega karena Martha tidak meminta hal yang sama dengan Dora dan Arthur.
"apakah kamu keberatan,Lidya?" tanya Martha lembut.
Lidya dengan cepat menggelengkan kepalanya "suatu kehormatan jika tante ingin menganggapku sebagai anak perempuan tante.."
Martha tersenyum "maka..anggaplah tante sebagai ibumu. Jangan merasa malu atau sungkan padaku" sahut Martha, nada bicara Martha yang begitu lembut dan ramah membuat Lidya merasa nyaman berada dekat dengan Martha.
Lidya mengangguk "maka..aku tidak akan sungkan menganggap tante sebagai ibuku.."
__ADS_1
"dan..call me "mom" " lanjut Martha