Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Bekerja sama


__ADS_3

Siang harinya.. Dokter Rudy kembali ke ruangan memeriksa kondisi Vanya, seulas senyuman lega terpancar dari wajah dokter Rudy.


"Selamat,mister.. nona Vanya telah melewati masa kritisnya.. dia akan baik-baik saja.." sahut dokter Rudy.


Seketika Louis merasa lega, wajahnya yang awalnya muram akhirnya dapat tersenyum kembali. Dia menatap Vanya yang masih belum membuka matanya itu.. perlahan dia mengelus lembut kening Vanya.


"Terima kasih.. sungguh terima kasih,dokter.." sahut Louis dengan penuh rasa syukur.


Dokter Rudy hanya tersenyum dan mengangguk, "semua juga karena Nona Vanya yang begitu kuat.. Baiklah.. saya harus pergi memeriksa pasien lain" sahut dokter Rudy, "oh ya.. mengenai pisau yang menancap di tubuh nona Vanya.."


Raut wajah Louis kembali berubah menjadi serius.


"Aku telah mengamankannya dan telah menyerahkannya pada pihak berwajib..seperti yang telah di beritahu pihak berwajib sebelumnya.." lanjut dokter Rudy kembali, "aku sangat berharap anda dapat langsung menangkap pelakunya" sahut dokter Rudy lalu berjalan keluar meninggalkan Louis dan Vanya.


Louis menatap Vanya kembali, "aku berjanji akan menangkap siapapun yang telah menyakitimu seperti ini!!" tukas Louis.


Tok..tok..


Louis menoleh ke sumber suara, wajahnya kembali tersenyum.


"Lidya.." lirihnya.


Lidya mendekati Louis dan memeluk adiknya, adik satu-satunya yang selalu layaknya tetap anak kecil di matanya. Mendapat pelukan dari kakaknya seakan menjadi penyemangat tersendiri bagi Louis, dia memang membutuhkan seseorang yang bisa mendukungnya.

__ADS_1


"Dia akan baik-baik saja.." bisik Lidya sambil menepuk punggung adiknya yang tanpa dia sadari jika tubuh kecil adiknya dulu,kini telah begitu besar.. Saat itu juga, Lidya sadar, Louis telah dewasa.


"Terima kasih,Lidya.." sahut Louis,lalu melepaskan pelukan kakaknya "bukankah kalian pasti lelah akan penerbangan kalian?. Mengapa Chandra mengantar kalian kesini?!"


"Jangan menyalahkannya,bro.." sahut Luckas sambil mendekati Louis, "Kami yang memaksanya untuk mengantar kami ke sini.. terutama Lidya, dia ingin segera bertemu Vanya"


"Benar,Louis.. Aku tidak dapat beristirahat sedetikpun sejak kamu meneleponku" lanjut Lidya.


Louis menundukkan kepalanya, "maafkan aku"


"Mengapa kamu minta maaf pada kami?" tanya Lidya dengan bingung, "adik.. aku adalah kakakmu!!. Dan sudah tentu aku harus ada untukmu, kapanpun!!!" tukas Lidya dengan tegas namun lembut.


Louis merasa terharu akan ucapan kakaknya, dia sangat tidak menyangka.. hanya kehadiran kakak dan kakak iparnya saja,cukup membantunya.


Tok..tok..


Pertemuan mengharukan itu terhenti karena ketukan pintu. Terlihat dua orang petugas pihak berwajib berjalan masuk ke dalam ruangan. Baik Louis maupun Luckas.. raut wajah keduanya seketika berubah menjadi serius.


"Selamat sore,mister!" sahut salah satu petugas tersebut "saya dari kepolisian.." lanjutnya sambil menjulurkan tangan kanannya.


Louis membalas uluran tangan mereka, "Louis" sahutnya.


"Saya petugas Satya dan ini adalah rekan saya, Praba" sahut petugas tersebut.

__ADS_1


Louis mengangguk, "bagaimana hasil penyelidikannya,pak?"


Raut wajah kedua petugas tersebut terlihat cerah, ternyata mereka telah mendapatkan titik terang yang telah membantu mereka menemukan tersangka yang menyakiti Vanya, "kami telah menerima pisau yang dipakai tersangka untuk melukai nona Vanya.." sahut Satya "dan..kami langsung melakukan pemeriksaan dan kami menemukan sidik jari pelaku..".


Lidya bernafas lega, "apakah sudah tahu siapa pelakunya?"


Satya menatap rekannya, "kami sudah memeriksanya.. namun, sepertinya.. pelakunya bukanlah warga sini..atau lebih tepatnya,bukan dari Indonesia.." sahut Praba.


"A..apa?!" secercah harapan yang awalnya mulai menghampiri Louis, tapi..seketika menjadi gelap kembali.


Lidya menghampiri Louis dan menepuk pundaknya. Sedangkan Luckas mendekati kedua petugas tersebut, "apakah memungkinkan jika kami membantu proses penyelidikan?".


Satya dan Praba saling menatap satu sama lain,lalu kembali menatap Luckas bersamaan.


Luckas tersenyum,aura penuh wibawanya kembali mencuat dan membuat kedua petugas tersebut merasa sedikit tertekan akan hal itu, "kami.. harus menemukan dan menangkap pelakunya!! Apapun!! Bagaimanapun!!" tukas Luckas dengan tegas, "pengacara saya,Richard.. akan segera menemui anda, dan jika tidak keberatan.. dia akan membantu memeriksa sidik jari tersebut dengan kepolisian New York!"


"Ne..New York?!" sahut Satya tidak percaya.


"Ya.. saya tidak memastikan jika pelakunya berasal dari sana.. Tapi,tidak ada salahnya jika kita mencoba,bukan?!" lanjut Luckas.


Rencana Luckas yang membawa Richard,pengacaranya ternyata berguna. Richard adalah pengacara yang terkenal di New York dan dia juga memiliki koneksi dengan berbagai orang yang berasal dari kalangan hukum. Tidak sulit bagi Richard untuk membantu proses penyelidikan Vanya. Ditambah,Richard telah lama bekerja dengan Luckas dalam mengurus masalah hukum..baik untuk bisnis maupun pribadi.


Satya dan Praba mengangguk bersamaan, "kami sangat berterima kasih akan hal itu.. Sebab kami juga sangat berharap dapat segera menangkap pelaku yang telah melukai nona Vanya" sahut Praba yang diiringi anggukan dari rekannya,Satya.

__ADS_1



__ADS_2