Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Surprise


__ADS_3

Louis mematikan ponselnya,sejak tadi di mengabaikan semua panggilan dari Luckas,Lidya atau siapapun itu. Dia memilih menghabiskan waktu bersama Vanya di kamar itu...okay,jangan berpikiran yang aneh ya,readers🤣.


Berulang kali Vanya memohon pada Louis untuk membiarkannya pulang,namun semuanya tidak diindahkan oleh Louis. Akhirnya mereka menghabiskan waktu bersama,mengobrol panjang lebar, Vanya menceritakan tentang dirinya selama di Beijing dan juga apa yang terjadi antaranya dan Peter. Hingga akhirnya dia tertidur di dalam dekapan Louis.


Louis menatap wajah Vanya yang tengah tertidur lelap,berulang kali juga senyuman menghiasi wajahnya. Dia sangat tidak menyangka dapat bertemu Vanya di Bali.


Perlahan,Vanya membuka kedua matanya. Dan wajah Louis yang pertama kali di lihatnya. Vanya kembali meringkuk, "jangan menatapku seperti itu" sahut Vanya sambil tersipu.


"Mengapa?" tanya Louis, "Aku hanya menatap apa yang menjadi milikku"


Wajah Vanya kembali merona, "si..siapa juga yang milikmu".


"Kamu,Vanya! Sekarang..sampai selamanya!" sahut Louis tegas.


"Su..sudah jam berapa ini?!. Sepertinya sudah sore!. Lihatlah! Kamu bahkan membuatku bolos kerja" tukas Vanya yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tidak perlu memikirkan itu!. Kamu bahkan tidak perlu bekerja jika kamu menginginkannya"


Vanya menatap Louis dengan tajam, "Aku serius!"


"Begitu juga denganku!"


Vanya bangkit dan duduk di tempat tidur sambil menatap Louis, "apakah tidak apa-apa kamu juga tidak bekerja?"


Sambil bangkit berdiri,Louis mengangkat kedua bahunya "tentu saja!"


Vanya memutar kedua bola matanya, "kau pikir hotel ini milik keluargamu?!"


"Hmm..hampir lebih kurang seperti itu!"


"Louis!! Aku serius!!" pekik Vanya, dia tidak ingin Louis mendapat masalah akan pekerjaannya karena hari ini tapi Louis hanya tertawa.


"Aku lapar.." sahut Louis.


"Aku tidak lapar!!" jawab Vanya kesal.


krukk..


Vanya kembali menunduk, dia memaki perutnya yang berbunyi disaat yang tidak tepat itu. Sejak bangun, cacing di perut Vanya telah menuntut untuk diisi. Sebab sejak tadi,mereka tidak makan siang dan hanya berada di kamar seharian.

__ADS_1


Mendengar suara keroncongan perut Vanya,Louis tertawa terpingkal-pingkal. Dan itu membuat Vanya kembali malu, dia hanya menundukkan kepalanya dan berjalan perlahan menuju pintu kamar dan membukanya.


Louis mengejar Vanya dengan masih terkekeh, "Vanya.. maafkan aku.. ayo,ku antar pulang!" sahut Louis.


Vanya menepis tangan Louis, "aku akan pulang sendiri"


Louis kembali memegang tangan Vanya dan menggenggamnya dengan erat, "tidak akan ku biarkan! Dan aku tidak ingin melepaskan tangan ini lagi!" tukasnya.


"Lo--"


"Louis!!" suara sapaan yang lebih terdengar membentak terdengar tidak jauh dari mereka. Lidya berlari mendekati mereka dan langsung meluncurkan pukulan di kepala adiknya itu, Louis mengerang kesakitan.


"Apa yang kamu lakukan?!" pekik Louis yang tidak menerima pukulan dari kakaknya,terlebih di hadapan Vanya.


"Hukuman karena kamu yang tiba-tiba menghilang!! Aku begitu ce--" Lidya tidak melanjutkan perkataannya saat matanya baru menyadari adanya sosok Vanya di dekat mereka, "Rose?!".


Vanya kebingungan dan tersenyum canggung, "Lidya..ka..kalian saling kenal?"


Louis meraba-raba kepalanya yang masih sakit akibat pukulan Lidya, "Dia kakakku"


"Kakak?!!!"


"Ja..jadi..tentang bekerja disini..?"


Lidya tersenyum, "tentu saja itu tidak ada.."


"Ta..tapi mengapa kamu membohongiku?"


"Aku hanya ingin melihat kondisi hotel dan juga memeriksa pegawai hotel..dan ternyata, kamu sangat berkompeten,Rose" sahut Lidya.


Vanya masih kebingungan, "sebentar... aku masih tidak mengerti.. Mengapa kamu memeriksa hotel ini?"


"Tentu saja!. Hotel ini miliknya" tukas Louis.


Lidya menatap Louis tajam, "milik suamiku!"


"Sama saja bukan?" sahut Louis pelan.


"Apa?!" Vanya tidak menyangka,Louis serius akan perkataannya tadi.

__ADS_1


"Tapi.. mengapa kalian bisa bersama?" Lidya langsung menatap Louis dengan tajam lalu berbisik, "kamu tidak bermain api,bukan?!"


Louis memutar kedua bola matanya, "Lidya.. dia adalah Vanya"


"Vanya?" Lidya terdiam sejenak lalu secara refleks membuka lebar mulutnya karena syok, "Vanya, kekasihmu itu?!"


Vanya kembali tersipu mendengar perkataan Lidya. Sedangkan Louis tersenyum lebar, "kami memang telah di takdirkan bersama"


"Aku akan membawa Vanya untuk makan malam terlebih dahulu.. kalian pulanglah terlebih dahulu" jelas Louis.


"Waktu yang tepat!! Bagaimana jika kita makan malam bersama?" tawar Lidya.


Vanya menatap Louis dengan pandangan memohon untuk menolak tawaran Lidya, tapi..


"Ide bagus!" balas Louis, "Aku juga ingin memperkenalkanmu pada seseorang.." sahut Louis.


Kedua kaki Vanya lemas begitu saja, begitu banyak kejutan yang menimpanya hari ini.



Mereka berempat duduk di salah satu meja restoran yang terletak tidak terlalu jauh dari hotel.



"Jadi.. kamu adalah Vanya?" tanya Luckas sambil menatap Vanya dan Louis bergantian.



"Lihatlah..aku bahkan belum memperkenalkan kalian" potong Louis langsung, "Vanya.. ini adalah kakakku dan sepertinya kalian telah saling kenalan sebelumnya" sahut Louis sambil menunjuk Lidya, "dan..pria yang di sampingnya adalah Luckas Ryans, pemilik dari hotel Ryans sekaligus suami dari kakakku"



"Luckas Ryans?" Vanya terdiam mendengar nama yang terasa tidak asing.



Louis tersenyum, "benar.. Luckas Ryans.. nama yang pernah kamu sebutkan sebagai kekasihmu dulu" lanjut Louis yang langsung membuat Vanya kembali syok.


__ADS_1


__ADS_2