Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Give and Take


__ADS_3

It's a game of give & take


Life's a game of give & take


early in the morning


get your concentration on your meditation


take the right direction


for future destination, for future destination


•Santana•



Louis menarik Ruby dengan kasar, Ruby benar-benar telah melewati batas. Ruby bahkan berani menggodanya di depan banyak orang, dan kali ini..Ruby bahkan mendekatinya dan menggodanya di depan Vanya. Hal itu sedikit membuat Louis risih dan juga kesal. Dia menarik Ruby menuju bagian lantai atas perusahaan, taman mini.



"Berapa kali aku harus menjelaskannya padamu,Ruby?! Hentikan ini semua!! Aku tahu kamu menyukaiku tapi tidak denganku.. Karenanya,hentikan semuanya!" tukas Louis dengan kasar.



Seulas senyuman menghiasi wajah oriental Ruby, dia bahkan tidak bergeming akan ucapan Louis. "Kamu menyukai Vanya,bukan?"



Pertanyaan yang seketika membungkam mulut Louis, "ti..tidak..apa maksudmu?!"



Ruby kembali tersenyum "jika tidak..mengapa kamu melarangku mendekatimu? Dan tatapan matamu pada Vanya begitu jelas"



"A..apa yang kamu katakan?! aku melarangmu mendekatiku tidak ada hubungannya dengan Vanya!"



Ruby menggelengkan kepalanya "kamu tidak bisa membohongiku,Louis.. dan kamu tahu? Jika sebenarnya Vanya juga menatapmu dengan pandangan yang sama seperti kamu menatapnya"



"Aku tidak mengerti.."



Ruby tertawa kecil, menambah kebingungan pada Louis yang masih menatapnya "begitulah laki-laki.. tidak pernah peka. Vanya juga menyukaimu!"



Louis terdiam.

__ADS_1



"Louis.. aku juga perempuan. Hanya dari melihat tingkah Vanya saja, aku tahu dia menyukaimu.." sahut Ruby dengan serius "dan aku membantumu.."



"Membantuku?!"



"Tentu saja! Kamu pikir aku mendekatimu karena apa?!" dalih Ruby, satu-satunya cara supaya Louis mau menerimanya adalah..dia harus menerima dan mengakui perasaan Vanya pada Louis,begitu juga sebaliknya. Jika tentang bagaimana selanjutnya Louis dengannya, Ruby hanya bisa tersenyum "....*cukup waktu yang membantuku.. Aku tidak yakin jika aku tidak bisa membuat Louis jatuh cinta padaku*!" gumam Ruby dalam hati.



"Kamu bercanda..!"



"Aku serius,Louis.. apakah kamu tidak memperhatikan Vanya yang selalu terbakar cemburu saat aku mendekatimu?" tanya Ruby.



Louis terdiam,mencoba mengingat-ingat sikap Vanya. Dan memang benar,setiap Ruby mendekati Louis.. Vanya selalu berubah menjadi kesal dan tidak jarang untuk keluar dari ruangan. Louis tersenyum, "apakah aku harus mempercayaimu?"



"Tentu saja! Karena hanya aku yang bisa membantumu!" sahut Ruby dengan sombong.




"Baiklah! Aku akan menerima bantuanmu!" sahut Louis.



"*Gotcha*!!" pekik Ruby dalam hati, namun dia tetap menjaga wajahnya dengan tenang. Dia kembali menghiasi wajah manisnya dengan sebuah senyuman "tentu saja,Louis.. tapi-"



"Tapi apa?"



"Jika aku membantumu...apa yang bisa kau berikan padaku?" tanya Ruby.



"Maksudmu?"



Ruby tertawa kecil "Louis.. aku bukan pekerja amal yang membantumu tanpa imbalan. Kamu tahu? *Give and take*.. jika aku membantumu,bukankah kamu juga harus memberiku sesuatu sebagai imbalannya?"

__ADS_1



Louis mengerutkan keningnya "apa yang kau inginkan?"



Ruby terdiam sejenak "aku meminta dirimu menjadi milikku selama 24 jam"



"Hah?!"



"Anggap saja kamu menjadi kekasih palsuku.. Aku hanya meminta waktumu 24 jam.. Bukankah sesuai dengan apa yang ku berikan? Aku bahkan membantumu lebih dari 24 jam!" sahut Ruby.



Louis kembali membisu, "kamu tidak meminta yang aneh-aneh,bukan?!"



Ruby tertawa "aku perempuan,Louis.. menurutmu siapa yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan jika aku meminta yang aneh-aneh?!"



Louis tersenyum lalu mengulurkan tangannya "Baik! Deal!"



Ruby membalas uluran tangan Louis "Deal!!"



Tidak tahu berapa kali dalam seminggu ini, Vanya berperang melawan rasa mual yang menyerangnya tiap pagi. Bahkan beberapa kali Vanya harus kabur diam-diam dari ruang kerjanya setiap rasa mual menyerangnya. Di tambah setiap saat melihat kedekatan Ruby pada Louis. Dan beberapa hari ini,Vanya bahkan menyadari jika Louis mulai dekat pada Ruby dan bahkan sering membalas godaan Ruby.


Vanya mencengkram tangannya sendiri, dia bingung bagaimana harus mengatakannya pada Louis. Dia merasa Louis harus tahu akan kehamilan anaknya,tapi kedekatan Louis dan Ruby selalu berhasil membuatnya mengurungkan niatnya.


Vanya hanya bisa tersenyum sinis, "bagaimana mungkin aku tega merusak hubungan mereka yang mulai mesra?" lirih Vanya sendiri.


Dan melihat Vanya yang terpuruk dalam kesedihan, membuat Ruby semakin bahagia. Dia semakin gila mengumbar kemesraan pada Louis. Bahkan semua orang beranggapan jika Ruby dan Louis telah berpacaran,tanpa ada yang berani menanyakan kepastiannya.


Mr.Zhang pernah bertanya hal itu pada Ruby secara pribadi. Dan Ruby mengiyakan hal itu pada Mr.Zhang. Mr.Zhang hanya bisa menggeleng, "apakah dia tahu tentang latar belakangmu?" tanya Mr.Zhang.


Ruby mengangkat kedua bahunya "sepertinya tidak.. bukankah tidak ada orang yang tahu akan hal itu,bukan?"


"Sampai sekarang, sepertinya belum ada yang tahu.." jawab Mr.Zhang.


Ruby terdiam,dia mengingat seseorang "hanya satu yang tahu.."


"Siapa?" tanya Mr.Zhang penasaran, karena yang dia tahu belum ada yang bertanya padanya.


"Vanya" jawab Ruby.

__ADS_1



__ADS_2