Hotel Prince

Hotel Prince
Lidya atau Ryans


__ADS_3

Hujan deras menyiram seluruh isi bumi ini menambah kegelapan pada malam yang mulai larut. Lidya berlari keluar rumah Luckas,melangkahkan kakinya dengan cepat mencoba mengapai gerbang depan rumah Luckas. Hujan yang begitu lebat seakan seakan membantu Lidya menyembunyikan tangisannya dalam kegelapan. Hatinya begitu perih, rasa sakit hati akan perlakuan keluarga Luckas ditambah pedihnya karena dia harus dipaksa meninggalkan pria yang dicintainya. Jika harus jujur,Lidya sangat tidak ingin memilih berpisah dari Luckas tapi dia lebih tidak ingin Luckas memilih berpisah dengan keluarganya.


Luckas mengejar Lidya yang mulai menjauh, hingga akhirnya tangannya berhasil menggapai tangan kiri Lidya.


"Lepaskan aku,Luckas!!!" pekik Lidya mencoba melepaskan tangan Luckas darinya.


"tidak!!" balas Luckas


"lepaskan aku..aku mohon.. aku tidak ingin berubah pikiran,Luckas!!" ucap Lidya lirih


"rubahlah!!!! aku ingin kamu menarik ucapanmu!! Apa hanya sedangkal itu perasaanmu padaku??" ucap Luckas dengan marah.


Luckas menarik Lidya jatuh ke pelukannya,dia begitu mencintai wanita yang dipelukannya ini,bagaimana mungkin dia tega memutuskan hubungannya. Banyak wanita yang mendekatinya tapi Luckas tahu mereka mendekatinya hanya karena status sosial ataupun karena kekayaan keluarganya. Dia memilih Lidya karena dia tahu Lidya berbeda dengan wanita-wanita lainnya.


Lidya menangis begitu keras menjerit melepaskan semua kepenatan yang ada dihatinya,berat rasanya jika dia harus berpisah "aku sungguh mencintaimu, Luckas..tapi-"


"Cukup!!Cukup hanya kata itu yang ingin aku dengar Lidya!! tidak ada kata tapi!! Aku mencintaimu,tidak akan ada yang bisa memisahkanku darimu sekalipun keluarga Ryans!!" Luckas semakin mempererat pelukannya,dia tidak ingin melepaskan Lidya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kediaman Ryans,


dua pasang mata tengah melihat Luckas dan Lidya dari jendela besar yang berada di ruang tamu. Martha tersenyum melihat pemandangan indah yang tengah dia lihat,sedangkan Arthur terlihat tidak begitu gembira. Dora yang telah kehilangan kata-katanya, kembali ke kamarnya dengan kepalanya yang masih berdenyut kencang. Martha merasa bahagia melihat anak laki-lakinya yang begitu lembut dan begitu menyayangi Lidya,belum pernah dia melihat sisi itu dari anaknya. Diam-diam Martha bersyukur Luckas bertemu dengan Lidya jauh sebelum ide pertunangan ini dimulai. Jika saja Lidya belum bertemu dengan Luckas,mungkin Luckas akan diam saja tanpa menolak ide bodoh ini. Dan Martha merinding memikirkan anaknya harus bertunangan bahkan menikahi wanita yang tidak dicintainya.


Martha menatap kearah suaminya dengan tatapan yang dingin "kamu serius dengan perkataanmu??!!".


Martha berasal dari keluarga terpandang,sehingga hubungannya dengan Arthur dulu tidak memiliki hambatan apapun seperti yang sedang dihadapi anaknya. Martha dan Arthur saling jatuh cinta, Dora tidak keberatan dengan hubungan mereka.


"Arthur, kamu sungguh tidak mengenal anakmu sendiri.." sahut Martha sambil menggelengkan kepalanya "Dengan sifat Luckas,aku yakin dia akan memilih gadis itu!! Lagi pula apa salahnya dengan gadis itu?? Dia terlihat baik, cantik dan juga begitu mencintai Luckas!!"


"Kita lihat saja nanti..apakah gadis itu masih 'mencintainya' saat Luckas bukan apa-apa" ucap Arthur sambil tertawa sinis.


Arthur dan Dora beranggapan Lidya hanyalah wanita matre yang sekedar mengincar kekayaan Luckas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Hotel Winter,New York


Luckas menatap Lidya yang tertidur,mata Lidya terlihat bengkak karena menangis semalaman. Luckas mengelus pipi Lidya yang sembab. Dia tahu Lidya sebenarnya tidak ingin berpisah dengannya,begitu juga dirinya. Luckas duduk disisi tempat tidur mereka, Luckas sudah bertekad untuk menemui Freya. Menemui Freya mungkin satu-satunya jalan baginya sekarang. Mudah bagi Luckas untuk meninggalkan Ryans dan memilih Lidya,tapi dia tahu Lidya tidak akan memaafkannya jika dia meninggalkan keluarganya dan Lidya akan meninggalkannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


disaat yang sama,


London,kediaman Green.


Malam itu,Freya tengah berbaring ditempat tidurnya yang berwarna pink. Dan bukan hanya tempat tidurnya tapi hampir seluruh kamarnya yang girlish didominasi oleh warna pink. Freya melihat foto-foto Luckas,tidak sulit mendapatkan foto Luckas. Freya dengan mudah bisa mendapatkan foto Luckas hanya dengan berselancar di dunia maya karena Hotel Ryans sangatlah terkenal, sehingga Luckas selalu menghiasi majalah bahkan televisi.


Freya tersenyum, angan-angannya melambung tinggi saat memikirkan dirinya akan mendampingi Luckas di pelaminan. Freya bahkan membayangkan dirinya dibalut pakaian pengantin yang berwarna pink pastel 'aku akan menjadi pengantin yang paling cantik'


Orang tua Freya,terutama ibunya sebenarnya tidak ingin menerima pertunangan ini karena usia Freya yang berusia 22 tahun. Mereka menganggap jika Freya masih tergolong terlalu muda. Tapi,Freya yang diam-diam mendengar ide pertunangan ini,dengan cepat menyetujui..bahkan Freya sendiri langsung menyampaikan pada Dora.


__ADS_1


__ADS_2