Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Peter Lee (3)


__ADS_3

Sharron langsung jatuh pingsan saat mendengar suara tembakan, suara teriakan Ruby memenuhi ruangan.


Darah mulai mengalir deras membasahi karpet lantai berwarna hitam yang berada di kamar Peter.


Suasana seketika menjadi tegang, Ruby bagaikan merasakan keheningan sesaat setelah suara tembakan. Suara jeritan para pelayan rumah mereka terdengar begitu tajam.


Para detektif bergegas mendekati Peter Lee yang tengah meringis kesakitan, "Peter Lee!!! kami tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan, dan percobaan pemerkosaan terhadap Miss Vanya Rosanne. Anda memiliki hak untuk berdiam diri, dan apapun yang anda katakan bisa dipakai sebagai bukti di muka pengadilan untuk memberatkan kasus anda". Kedua tangan Peter Lee di borgol oleh salah satu detektif tersebut.


Sesaat sebelum Peter menarik pelatuk pistol miliknya, seorang petugas polisi terlebih dahulu menembak tangan Peter, dan setelahnya mereka langsung menangkap Peter tanpa menggubris teriakan kesakitannya.



Di saat yang sama.. Vanya,Louis beserta Luckas dan Lidya tengah ngobrol santai di penthouse Luckas. Setelah Timothy memberitahu hasil pemeriksaan Vanya,hasil pemeriksaan yang menyatakan Vanya tidak ada masalah apapun, hanya disarankan untuk tidak berolah raga ataupun kerja terlalu berat karena pasca operasi akibat tusukan pisau di perutnya.



Louis langsung merasa lega, termasuk Lidya. Ayles dan Alysse menyukai Vanya,begitu juga sebaliknya.



"Aunty.. kamu sangat cantik sekali.." puji Ayles.



Vanya tersenyum dan membelai pipi Ayles lalu menggendong Ayles ke pangkuannya, "benarkah? terima kasih,Ayles.. Aunty begitu senang mendengarnya.."



Ayles tertawa, "sungguh!! Aunty mau jadi pacar Ayles?"



Lidya dan Luckas saling menatap lalu tertawa bersamaan, sedangkan Louis langsung menggendong Ayles turun dari pangkuan Vanya, "*sorry about that*, bandit!! Aunty adalah milik uncle,sayang.."



Wajah Ayles seketika muram, "mengapa aunty bisa menjadi milik uncle??!! Aunty adalah aunty!!"



Louis mencubit pipi keponakannya, "aunty Vanya akan menjadi istri uncle!!"



Ayles menatap Vanya dengan pandangan lemas, "benarkah?"



Vanya tertawa, "belum tentu,sayang.. Aunty belum menerima lamaran dari uncle"



"Hei!!" tukas Louis "setelah semuanya.. apa kita masih hanya sekedar teman?!"



Vanya menatap Louis lalu menjulurkan lidahnya, "kamu yang belum memberikan kejelasan!! Lebih baik aku bersama Ayles yang begitu pemberani melamarku!"



Louis mendengus kesal,lalu menatap ke arah berlawanan dengan Vanya. Lidya tertawa, "Louis.. Vanya telah memberimu lampu hijau.. kamu masih belum mengerti?"

__ADS_1



"Jika aunty bukan istri uncle.. maka menikah dengan Ayles saja.." sahut Ayles kembali. Lidya dan Luckas kembali tertawa.



"Lihatlah.. bahkan Ayles mendahuluimu!!" sahut Lidya.



Vanya tertawa kecil, "aku akan ke kamar sebentar..".



Lidya mengangguk,menatap kepergian Vanya dari ruangan mereka. Lidya berpaling dan melirik adiknya dengan kesal.. dia akhirnya pindah duduk tepat di sebelah Louis, "dasar bodoh!!" bisik Lidya "Vanya menginginkan kamu melamarnya!!"



"Jika memang sudah sama suka.. buat apa pakai acara melamar segala?!. Tinggal "yuk".. kan sudah cukup!" sahut Louis.



Lidya menepuk kepala Louis, "kamu pikir bisa seenak jidatmu,main "yuk" gitu saja?!"



Louis mengelus kepalanya yang dipukul Lidya, "dasar perempuan!".



Luckas hanya tertawa, "kamu memang tidak romantis,Louis!"




"Kamu lupa? Bukankah kamu melihatnya saat aku melamar Lidya di bioskop?!" sahut Luckas.



"Ah.. iya.. kamu benar.." sahut Louis pelan.



"Jangan menyia-nyiakan Vanya lagi,Louis!" sahut Lidya.



Louis menyeruput air putihnya, "tidak akan!", seulas senyuman menghiasi wajahnya.. tentu,dia telah memiliki rencana tersendiri yang khusus untuk Vanya.



*Drrtt..drrtt*..



Suara getar ponsel Luckas menghentikan pembicaraan mereka secara otomatis. Luckas bergegas mengangkatnya setelah dia melihat nama yang ada di layar.



"Halo,sir.." sapa Richard.

__ADS_1



"Bagaimana,Richard?"



"Semua telah selesai" sahut Richard sambil tersenyum penuh kemenangan.



"Benarkah?"



"Benar sekali,sir.. anda dapat tenang karena saya telah memastikan Peter Lee telah mendapatkan hukuman yang setimpal" jelas Richard.



Luckas menatap Louis lalu bernafas lega, "terima kasih,Richard.. Semua berjalan sempurna?"



"Walau sedikit kendala..namun,semuanya telah berakhir dengan baik. Peter Lee sempat mengancam untuk bunuh diri dengan pistol miliknya,namun..berhasil di gagalkan.."



"Baiklah.. saya mengerti!! Pastikan dia mendapat hukuman yang setimpal,Richard"



"Baik..pasti!!"



"Dan.. terima kasih atas kerja kerasmu,Richard.." sahut Luckas.



Richard tersenyum, "dengan senang hati membantu anda,sir"



Setelah mengakhiri pembicaraannya,Luckas menatap Louis sambil tersenyum, "Aku punya kabar baik untukmu,Louis!. Peter Lee telah berhasil ditangkap!!"



Refleks,Louis bangkit berdiri dari tempat duduknya, "su..sungguh?!"



Luckas mengangguk, "dan aku memastikan dia akan mendapatkan hukuman berat yang tidak akan pernah dia bayangkan!"



Vanya baru saja kembali masuk ke dalam ruangan itu,tidak sengaja mendengar pembicaraan Luckas dengan Louis.. "Be..benarkah???"



Semua orang menatap Vanya, Louis berlari kecil memeluk Vanya dengan erat "sekarang.. tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi,Vanya!!! Tidak akan ada!!"


__ADS_1


Vanya menitikkan air mata, dia terisak.. air mata yang sangat melepaskan beban ketakutannya yang selama ini dia pendam.. "hik..hik...ter...terima kasih.. sungguh terima kasih.." isaknya.



__ADS_2