
Don't try to explain your mind
I know what's happening here
One minute, it's love
And, suddenly, it's like a battlefield
One word turns into a war
Why is it the smallest things that tear us down
My world's nothing when you're gone
I'm out here without a shield, can't go back, now
•Jordin Sparks•
Sudah dua hari ini, Lidya mengurung diri dikamar. Dia bahkan meminta cuti pada Elena. Elena bahkan kebingungan saat Lidya yang biasanya tidak pernah meminta cuti,tiba-tiba meminta cuti padanya dan tanpa alasan yang jelas. Namun,Elena juga tidak ingin terlalu perhitungan pada Lidya sebab Lidya sendiri berjanji tetap mengurus kerjaannya walau dia dalam masa cuti. Lagipula, dibandingkan dengan perjuangan dan kerja keras Lidya selama beberapa tahun ini tidak sebanding jika Elena harus perhitungan soal masa cuti Lidya.
Dan selama dua hari berturut-turut juga Luckas datang ke rumah mereka tiap malamnya,walau harus berakhir dengan pertengkaran dan diusir oleh Louis. Luckas bahkan membawa beragam mainan baru untuk Ayles namun Lidya menolaknya "Kamu sudah tidak perlu memanjakannya!",ucapan Lidya yang begitu keras dan tajam menusuk hati Luckas. Lidya bahkan menghindarinya.
Sampai akhirnya Louis sudah tidak tahan melihat Luckas yang masih begitu bersikeras datang menemui Lidya dan Ayles tiap malam. Dia memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Luckas, dia menunggu kehadiran Luckas malam itu. Saat itu,Lidya dan Ayles tengah keluar untuk berbelanja beberapa pakaian musim dingin yang baru untuk Ayles
Benar saja,tidak lama kemudian..terlihat mobil Luckas yang berhenti di depan rumah Lidya. Dengan cepat,Louis berjalan mendekati mobil Luckas.
"Ikuti aku!" sahut Louis dengan dingin saat Luckas baru saja keluar dari mobilnya.
Luckas hanya diam seribu bahasa dan mengikuti Louis hingga akhirnya mereka berhenti disebuah taman yang tidak jauh dari rumah Lidya. Louis berbalik dan menatap Luckas.
"tidak bisakah kau berhenti mengganggu kami lagi??!!" sahut Louis dingin.
"tidak!"
"kau!!" Louis merasa geram.
"maafkan aku,Louis..aku tidak bisa..bukan!! aku tidak akan pernah berhenti!!" tukas Luckas.
__ADS_1
Louis menghela nafas "apakah kamu tidak tahu jika hubungan kalian telah berakhir?"
"ya..aku tahu!!"
Louis menatap tajam kearah Luckas.
"tapi aku ingin memulainya kembali, awal yang baru!" lanjut Luckas.
Louis tertawa keras "kau sedang bermimpi,tuan muda!!!"
"aku serius dengan ucapanku,Louis!! Aku tidak akan pernah melepaskan kakakmu!!"
"walau itu semua demi kebahagiaan Lidya?!"
Luckas mengerutkan keningnya "apa maksudmu?"
Luckas membisu '*apa kehadiranku begitu menyiksa bagimu,Lidya*?' sahut Luckas dalam hati.
"karenanya..berhentilah,Luckas!! sebelum dia benar-benar memutuskan untuk menghilang kembali di hadapanmu!!"
"apa maksudmu?!" tukas Luckas.
Louis mengangkat kedua bahunya "kita tidak akan pernah tahu apa yang dipikirkannya..mungkin saja jika kamu memaksanya,dia akan memutuskan kembali menghilang seperti...tiga tahun yang lalu?"
Luckas terperanjat dan terdiam sejenak "maafkan aku,Louis..Aku tidak ingin menyerah kali ini!! Aku harus memperbaiki semua kesalahan yang ku perbuat!!"
"terserah pada anda,tuan muda. Jika saja aku tidak ditahan oleh Lidya. Aku sudah tidak sabar untuk mendaratkan pukulanku di wajah tampanmu itu!!"
"mengapa tidak?!"
__ADS_1
"kau.. jangan memberi bensin di api kecil,brother!!"
"bagaimana jika aku berniat menyiram bensin di apimu??"
"maka aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran--" sahut Louis sambil mendaratkan pukulan di wajah Luckas.
Luckas tersungkur di rerumputan dan berusaha bangkit kembali.
"kamu seharusnya tidak memaksaku,Luckas!! Aku sudah menahan-nahan amarahku padamu sejak saat aku ke rumahmu!!" sahut Louis sambil kembali melayangkan pukulan di wajah Luckas.
Luckas kembali tersungkur,darah segar mulai mengalir dari sudut bibirnya.
Louis menyadari Luckas sengaja tidak membalasnya,akhirnya menghentikan pukulannya.
"sudahlah,pergilah.. aku tidak bernafsu memukulmu lagi.."
"jangan berhenti,Louis.."
Louis menatap tajam kearah Luckas "apa maksudmu!! mengapa kamu begitu ingin memukulmu?? Apakah supaya kamu bisa menarik simpati Lidya dengan wajah babak belurmu itu?"
Luckas tertawa perih "percayalah..aku tidak akan mengatakan apapun pada Lidya.."
Louis memalingkan wajahnya "terserah padamu..aku malas meladeni orang sepertimu.." sahut Louis sambil berjalan pergi meninggalkan Luckas.
Kediaman Lidya,
Lidya dan Ayles akhirnya kembali pulang ke rumahnya setelah berbelanja beberapa pakaian baru untuk Ayles. Selama perjalanan,Ayles duduk manis di carseat khusus untuk anak sambil menikmati cookies coklat favoritnya.
Lidya melirik Ayles dari bayangan kaca spion mobil sambil tersenyum "mommy tidak menyangka anak mommy begitu cepat tumbuh besar..bagaimana mungkin pakaian musim dinginmu tahun lalu sudah tidak muat di tubuhmu,sayang?" sahut Lidya lembut.
Ayles tertawa menunjukkan lesung pipinya "Ailes uda besal"
Lidya tertawa "benarkah?? jika sudah besar,maka Ayles sudah bisa makan wortel untuk makan malam hari ini" goda Lidya.
Ayles mematung seketika "no..no..no..mami" sahutnya sambil menggoyangkan jari telunjuknya "ailes masi kecilll.." ucapnya panjang.
__ADS_1