
Vanya langsung memberikan surat pengunduran dirinya di perusahaan Lee's Ship. Dan dirinya bergegas pergi ke Washington sebelum Peter keluar dari penjara,dan kembali mencarinya. Sebab sangat mudah bagi seorang Peter Lee bebas begitu saja, cukup menelepon pengacaranya keluarga mereka maka semua akan selesai dalam hitungan jam, dan sebelum itu terjadi.. Vanya ingin bergegas pergi dari Beijing, dan satu-satunya tujuannya adalah Louis.
Vanya teringat akan perkataan Louis terakhir kali jika dia akan tinggal di Washington untuk sementara waktu untuk mendapatkan pelatihan akan pekerjaan barunya.
Tanpa memiliki informasi jelas tentang keberadaan Louis,Vanya mengambil resiko untuk pergi ke Washington. Dia tidak dapat berpikiran jernih lagi,yang dia inginkan sekarang hanyalah menemui Louis.
Sudah tiga hari ini,Vanya mencoba mencari jejak Louis,namun hasilnya selalu nihil. Dia menyesali dirinya yang dulu memutuskan semua komunikasinya dengan Louis atas dasar perintah Peter.
"Mulai hidup barumu di Beijing,buang semua masa lalumu dan juga ganti nomor ponselmu,Vanya.. Aku mengatakan ini semua karena untuk kebaikanmu" itulah yang Peter katakan padanya dulu saat Vanya baru menginjakkan kakinya di Beijing.
Vanya melempar bantal yang ada di pelukannya hingga tersungkur di lantai kamar hotel yang dingin, "bajingan!! Mengapa aku dulu begitu polos!!" pekiknya pada dirinya sendiri karena mengingat perkataan Peter padanya dulu.
Vanya menggapai tas kecilnya kembali keluar dari ruangan kamar yang sudah dia tempati selama tiga hari ini. Vanya masuk ke dalam lift hotel,dia ingin keluar sekedar menghirup udara segar sambil memikirkan cara untuk bisa menemukan Louis. Berulang kali Vanya mulai putus asa,dia bahkan mengutuk dirinya yang bahkan tidak mengenal pasti keluarga ataupun tentang Louis,padahal dirinya bahkan sempat mengandung anak Louis, "Sial!!" rutuk Vanya kembali. Sesaat sebelum dia melihat adanya poster tentang Hotel Ryans yang akan melebarkan sayapnya di Bali,Indonesia.
"Bali?" gumam Vanya sendiri. Dia meraih ponselnya dari tas mininya dan mengetik "Bali" di mesin pencarian. Wajahnya tersenyum saat melihat betapa indahnya pulau dewata itu, hingga pintu lift terbuka. Vanya langsung berjalan mendekati resepsionis hotel.
"Selamat pagi,Miss..ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis wanita yang masih terlihat begitu muda.
"Emm..saya melihat poster yang terpasang di lift tentang hotel Ryans.." sahut Vanya perlahan.
__ADS_1
"Oh ya..benar,Miss.. apa ada yang ingin anda tanyakan?" tanya wanita tersebut kembali.
"Eemm..saya lihat ada lowongan pekerjaan,apakah masih tersedia?" tanya Vanya sambil menundukkan kepalanya.
Wanita tersebut tersenyum, "tentu saja,Miss..apakah Miss berminat?".
Secercah harapan langsung membuat Vanya kembali tersenyum cerah, tidak bisa dipungkiri dia membutuhkan pekerjaan untuk sekarang setelah berhenti dari Lee's Ship. Bagaimanapun,setiap hari kita membutuhkan uang untuk biaya hidup kita,bukan?.
Vanya mengangguk perlahan.
"Benarkah?" tanya Vanya antusias.
Wanita tersebut mengangguk, "dan setelahnya anda dapat menunggu panggilan dari kami untuk interview selanjutnya"
"Baiklah..baiklah..saya mengerti.. terima kasih,Miss!" seru Vanya.
"Sama-sama,Miss. Dan *Have a good day*" sahut wanita tersebut.
__ADS_1
Vanya berjalan keluar dari hotel Ryans dengan wajah penuh semangat, hari ini terasa begitu indah bagi Vanya. Dia berjalan melewati lobby hotel yang begitu ramai akan para tamu. Vanya berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Di waktu yang sama,Louis yang berjalan masuk ke dalam lift hotel bersama asistennya, menatap sosok wanita yang mirip Vanya berjalan diantara kerumunan para tamu yang berada di lobby.
Refleks Louis menahan pintu lift yang telah bersiap untuk menutup, asisten Louis sedikit terkejut..melirik Louis yang tengah menatap keluar.
"Apakah ada sesuatu yang anda lupakan,sir?" tanya asistennya.
Pertanyaan yang seakan menyadarkan lamunan Louis, "tidak.." sahut Louis lalu melepaskan tangannya dari pintu lift "aku salah orang.." lanjutnya "*tidak.. tidak mungkin wanita tadi adalah Vanya.. aku terlalu merindukannya hingga berhalusinasi*.." gumamnya dalam hati.
Saat itu,Louis yang baru tidak lama menyelesaikan pelatihannya dan langsung di perintah untuk menjadi manajer sementara di hotel Ryans. Asistennya yang juga asisten dari manajer sebelumnya banyak membantunya. Louis bekerja begitu keras,dia ingin membuktikan dirinya lebih dari sanggup dari apa yang dipikirkan Lidya dan Luckas,terlebih dari itu.. hanya bekerja keras dan terus menerus yang membuatnya melupakan Vanya.
"Sir.. anda ingin makan siang terlebih dahulu? sebab jam dua belas siang nanti,anda akan rapat bersama semua kepala bagian" tanya asistennya,Jessi.
Louis menggeleng, "tidak,tidak perlu.. saya dapat makan siang setelah selesai rapat"
Jessi mengangguk, dirinya yang baru saja bekerja bersama Louis selama satu minggu ini namun dia melihat potensi dan betapa pekerja kerasnya Louis.
__ADS_1