
Louis menarik tangan Vanya hingga akhirnya mereka tiba di kantor Louis, dan tanpa sepatah katapun.. Louis langsung mengunci pintu.
"Bukankah aku telah memberitahu supaya kamu libur hari ini?!" sahut Louis.
Suara datar dan dingin yang keluar dari mulut Louis, membuat Vanya sedikit takut. Bertemu dengan Peter cukup membuatnya sedikit ketakutan, dan sekarang dia harus menghadapi Louis yang terdengar begitu dingin.
"Ma..maafkan aku.." lirih Vanya sambil menahan isakan yang hampir mendobrak pertahanannya, "a...aku.. aku.." air mata Vanya akhirnya mengalir dari kedua matanya, "maafkan aku..hiks..maafkan aku.."
Louis bergegas mendekati Vanya dan langsung memeluknya, dan Louis merasakan sekujur tubuh Vanya yang masih bergemetar. Louis memeluk Vanya yang masih terisak, tanpa bertanya apapun.. Louis hanya memeluk dan mengelus punggung Vanya dengan lembut.
"Jika sudah waktunya,beritahu aku apa yang terjadi saat kamu di Beijing.." bisik Louis lembut, dan itu semakin membuat Vanya terisak, "dan aku akan membuat bajingan itu membayar semuanya!" lanjut Louis. Melihat Vanya yang begitu takut saat bertemu Peter, Louis merasa jika ada sesuatu diantara mereka hingga membuat Vanya begitu ketakutan.
"Aku benci dia,Louis!!" isak Vanya.
"Bencilah"
"Aku sangat membencinya!!"
"Bencilah sesukamu!"
"Aku ingin dia menghilang dari hadapanku!!" pekik Vanya.
"Aku akan mengabulkannya!"
Vanya menatap Louis, Louis tersenyum dan mengecup lembut bibir Vanya.
"Sekarang.. tenangkanlah dirimu disini.. Jangan keluar dari sini sebelum aku selesai dengan kedua kakak beradik itu" lanjut Louis sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi Vanya.
"Apa yang mereka lakukan disini?" tanya Vanya.
Louis menghela nafas, "ini diluar dugaanku.. mereka datang untuk membicarakan bisnis, hanya.. aku tidak menyangka Simon Lee sungguh mengutus kedua anaknya langsung ke sini" sahut Louis "dan aku baru tahu hal itu hari ini.. karenanya aku menyuruhmu untuk tidak usah bekerja hari ini. Aku tidak ingin kalian bertemu.." Louis kembali menghela nafas panjang, "tapi.. tetap saja kalian bertemu" lanjut Louis.
Vanya membisu, dan akhirnya dia mendapatkan jawaban mengapa Louis menyuruhnya untuk libur.
Kembali helaan nafas panjang keluar dari mulut Louis, "tenangkan dirimu.. aku akan kembali nanti.." sahut Louis sambil menuntun Vanya duduk di kursi sofa empuk yang ada di ruangannya, "aku akan segera kembali.." bisik Louis sambil mengecup lembut kening Vanya, "dan satu hal yang aku inginkan,Vanya.."
Vanya menatap Louis yang terlihat begitu serius, "apa?"
"Aku menunggu kamu menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya antara kamu dan Peter" sahut Louis, ia pun berlalu meninggalkan Vanya sendiri dalam ruangan kosong itu.
__ADS_1
Ruang meeting,
"Ternyata kamu adalah pesuruh dari atasanmu" sahut Peter sambil mengikuti Chandra masuk ke dalam ruang meeting yang tidak terlalu besar itu.
Walau kesal,Chandra tetap berusaha tersenyum, "silakan masuk,sir.." sahutnya dengan tetap menjaga nadanya supaya tetap terdengar sopan, bagaimanapun..kakak beradik ini tetap merupakan tamu. Dan Chandra harus tetap sopan kepada mereka berdua.
Ruby berjalan masuk kedalam dan menarik salah satu kursi yang ada, dia pun duduk sambil menyilangkan kedua kakinya.
"Americano, please" sahut Ruby sambil melepaskan kacamatanya.
"Ha?" jawab Chandra refleks saat mendengar ucapan Ruby.
Peter terkekeh, "me,too!" (aku juga!).
Chandra mengepal kedua tangannya dengan kesal,baru kali ini dia mendapat tamu yang sangat otoriter seperti kakak beradik ini. Tanpa menjawab apapun, Chandra berbalik..dia tidak ingin lebih lama lagi berada di ruangan yang sama dengan mereka.
"Berhenti!!" sahut Peter tiba-tiba.
Chandra berbalik, membalas tatapan mata Peter tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
"Apa jabatan Vanya disini?" tanya Peter.
Ruby menatap Peter lalu memutar kedua bola matanya, "lebih baik,kamu menjawab pertanyaanku.." sahut Ruby lalu menatap Chandra, "Apa jabatan Louis disini? Dan bagaimana bisa dia bekerja disini? Di tambah.." Ruby melipat kedua tangannya, raut wajahnya terlihat kesal "bagaimana mereka bisa bersama-sama kembali?!".
Chandra mengerutkan keningnya, "Silakan tunggu sebentar.. saya akan memanggil manager kami segera" sahut Chandra, sekali lagi mengacuhkan pertanyaan yang dilontarkan kakak beradik itu.
"Hey!! kamu belum menjawab pertanyaan kami!!" pekik Ruby.
Chandra berjalan keluar dari ruangan itu dan menoleh sedikitpun, bahkan saat dia menutup pintu pun..dia tidak menatap salah satu diantara mereka.
"Sialan!!" tukas Ruby.
Peter terkekeh, "sudahlah.. apapun dan siapapun Vanya disini.. yang terpenting aku telah menemukannya.." sahut Peter. Dia telah memutar memikirkan berbagai cara supaya dapat bertemu Vanya kembali.
Ruby kembali memutar kedua bola matanya, "aku tidak mengerti apa yang ada di perempuan jalang itu hingga kamu begitu gila akan dirinya?!"
"Begitu juga denganmu bukan, *mei*?" ledek Peter.
Suara ketukan pintu membuat pertengkaran keduanya berhenti, Louis berjalan masuk diiringi Chandra di belakangnya.
Peter tersenyum sinis, "apakah kamu mengantar pesanan kami?" sahutnya dengan senyum merekah.
__ADS_1