
We're running out of time
Chasing our lies
Everyday a small piece of you dies
Always somebody
You're willing to fight, to be right
•Selena Gomez•
Lidya tersipu mendengar bisikan Luckas "Ayles disebelah,Luckas.."
Luckas tertawa "sebenarnya..aku kesini ingin berbicara padamu"
Lidya mengangkat kepalanya dan menatap Luckas "ada apa,Luckas?"
"Dora ingin bertemu denganmu dan juga Ayles.."
Lidya menatap Luckas dengan tatapan bingung "kalian telah berbaikan?"
Luckas mengangkat bahu kanannya "dia mengatakan pada mom jika dia telah mengaku kalah dan salah. Dia ingin bertemu dengan kita.."
__ADS_1
Lidya melepaskan pelukannya "jadi?"
"Sebenarnya aku sangat marah padanya saat dia membuatku kehilanganmu,Lidya.. tapi,bagaimanapun dia adalah nenekku. Tiga tahun lamanya,aku memutuskan hubungan padanya dan tidak pernah menghubunginya,mungkin sudah saatnya dia merasakan kehilangan cucunya"
"jadi..mengapa dia ingin menemuiku dan juga Ayles? terlebih..bukankah dulu dia sendiri yang tidak mengakui Ayles?"
Luckas mengelus lembut rambut Lidya "tapi..sekarang dia telah mengakui salah,bukan?"
Lidya menghela nafas berat "Jika itu maumu..maka aku tidak akan berkata apa-apa,Luckas. Tapi,aku tidak akan tinggal diam jika dia menghinaku ataupun mempertanyakan Ayles lagi!"
Luckas menarik Lidya kedalam dekapannya kembali dan mengecup lembut kening Lidya "jika itu terjadi,maka aku sendiri yang akan maju sebelum kamu..sayang"
Disaat Lidya termenung berpikir keras,Luckas kembali berbisik di telinganya.
"pelukanmu sungguh berbahaya,Lidya. Aku telah menahannya selama tiga tahun ini,tapi hari ini..pelukanmu telah '*mendobrak*' pertahananku,Lidya.."
Lidya memukul ringan dada Luckas yang tidak ditutupi sehelai benangpun. Luckas tertawa "sepertinya aku akan sungguh-sungguh memberikan adik untuk Ayles hari ini.."
Buru-buru Lidya melepaskan diri dari Luckas. Wajah Luckas berubah kecewa seketika,membuat Lidya menertawakannya.
__ADS_1
"Ayles disebelah,sayang.. istirahatlah sebentar.. aku harus membuat cookies untuk Ayles sesuai yang sudah ku janjikan padanya.. Dan juga untukmu.." sahut Lidya sambil mengecup bibir Luckas dan segera keluar dari kamar,Lidya takut Luckas akan menariknya dan tidak akan membiarkannya keluar dari kamar lagi.
Beberapa hari kemudian,
Luckas membawa Lidya dan Ayles ke rumahnya, selain memutuskan untuk menemui Dora,Luckas sendiri ingin memberitahukan mengenai rencana pernikahannya dengan Lidya secara langsung pada keluarganya. Tentunya kali ini, dengan atau tanpa restu dari Dora..Luckas akan tetap menikahi Lidya!
Kali ini,Lidya memilih memakai pakaian casual,celana jeans dengan blouse simple berwarna salem..dia memilih menjadi dirinya sendiri tanpa harus memaksakan diri untuk memakai pakaian yang berlebihan seperti awal dirinya datang ke rumah Luckas.
Sepanjang perjalanan,Ayles terlihat begitu antusias menanyakan tujuan mereka.. Lidya dengan lembut mengelus rambut anaknya "kita akan ke rumah daddy.. disana ada grandma dan grandpa.. Ayles tidak boleh nangis ya,harus sopan loh.."
Luckas tersenyum melirik calon istri dan anaknya, dia pun mencubit ringan pipi anaknya dengan sebelah tangannya "tentu dong..ksatria papa kan kuat.. tidak akan gampang nangis kan??"
Ayles tersenyum menunjukkan lesung pipinya.
Setibanya di kediaman Ryans,Ayles terlihat begitu antusias. Rumah yang begitu besar dengan halaman yang luas layaknya istana mewah sangat menarik perhatiannya.
"umah ciapa,mami?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.
Luckas langsung menggendong Ayles "rumah daddy.. Ayles suka disini?"
Ayles mengangguk begitu cepat membuat Lidya tertawa melihat kelakuan Ayles. Jauh dalam lubuk hati Lidya,dia sangatlah gugup.
Dia melirik sekelilingnya, rumah yang sama..tempat yang sama..tempat dimana dia selalu direndahkan dan di tolak hingga akhirnya dia memilih pergi dari kehidupan mereka.. namun,takdir malah mempertemukan mereka kembali.
Luckas melirik Lidya,dan menggenggam tangannya. Dia menarik Lidya masuk kedalam rumahnya,para pelayan refleks membukakan pintu dan memberi hormat karena kedatangan tuan muda mereka.
Martha yang melihat kedatangan mereka,dengan antusias menghampiri mereka. Sejak awal dia telah tidak sabar ingin bertemu mereka,terutama cucunya.
"Selamat datang,Lidya.."sahut Martha,matanya langsung tertuju pada Ayles yang berada dalam gendongan Luckas "aduh..ganteng sekali cucu grandma.. sini sama grandma yuk" bujuk Martha.
Ayles mencoba tersenyum pada Martha namun masih memegang erat baju ayahnya seakan tidak ingin digendong Martha, Martha tertawa.. "baiklah.. grandma tidak akan memaksamu.."
Arthur menghampiri mereka dan tersenyum,sebuah senyuman yang begitu tulus "selamat datang" sahut Arthur.
Lidya seakan tidak mempercayainya. Tiga tahun yang lalu,Arthur yang begitu ketus padanya dan bahkan selalu menganggapnya tidak ada,sekarang menghampirinya,tersenyum padanya dan bahkan mengucapkan selamat datang padanya. Lidya terbengong dan mematung.
__ADS_1