Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Second Plan


__ADS_3

Di salah satu bar di kota New York, terlihat Ruby yang tengah sendirian..meneguk minuman keras. Tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan antara Vanya dan Louis saat dia mencoba mengejar Louis tadi siang.


Hatinya terasa hancur saat mengetahui Vanya yang tengah mengandung anak Louis dan di tambah lamaran dari Louis pada Vanya, masih terngiang-ngiang di telinganya.


"Arghhh!!!" pekik Ruby tiba-tiba. Refleks mendapat perhatian oleh semua pengunjung yang ada di bar itu, Ruby menatap mereka dengan murka, "lihat apa kalian semua?!!" pekik Ruby kembali "dasar sampah!!".


Pemilik bar hanya bisa diam menutup mata, mengusir Ruby sama saja kehilangan pelanggan VVIP-nya. Ruby merupakan salah satu pelanggan yang setia mengunjungi barnya. Daripada kehilangannya, lebih baik dia berpura-pura buta dan tuli akan kelakuan Ruby.


"Nona muda,mengapa anda sembarangan memarahi orang lain?" suara pria terdengar dari belakang Ruby.


Ruby menoleh dengan wajah kesal dan kasar, "enyah ka--!!!" Ruby terdiam "kakak?"


Peter tersenyum, dia memberi kode pada bartender untuk memberinya sebuah gelas kosong. Bartender tersebut mengangguk dan tanpa menunggu lama,dia langsung menyodorkan sebuah gelas kosong,lengkap dengan es besar berbentuk bola. Peter meraih sebotol minuman beralkohol yang ada di depan Ruby dan menuangkannya di gelasnya.


"Sedang apa kakak disini?" tanya Ruby acuh.


"Mencari adikku yang hilang.." jawab Peter singkat.


Ruby memutar kedua bola matanya, "pergilah!! aku malas meladenimu" sahut Ruby sambil mencoba meneguk minumannya kembali, namun Peter menahan gelasnya.


"Kamu telah minum terlalu banyak,Ruby.." sahut Peter.


"Jangan hentikan aku untuk hari ini!. Hanya minum yang bisa menjadi pelipurku!"


Peter mengerutkan keningnya, "ada apa denganmu? Bukankah kemarin kita telah membicarakan tentang rencana kita?"


Ruby tertawa sinis, "rencana? bahkan Louis telah berhenti kerja.. rencana apa lagi?!. Semua sia-sia,kak.." sahut Ruby dengan suara yang terdengar begitu perih "bahkan aku baru saja mengetahui jika Vanya tengah hamil..hamil anak dari Louis.." isak Ruby.


"Hah?!" Peter tidak kalah terkejutnya "kamu serius?"


Ruby kembali tertawa sinis menatap Peter, "kita berdua kasihan sekali,bukan?. Wanita yang kakak cintai bahkan tengah hamil anak orang lain.."


Peter terdiam, "berarti apa yang Vanya katakan waktu itu,benar adanya.." gumam Peter dalam hati. Waktu itu dia hanya mengira jika ucapan Vanya hanya sekedar akal-akalannya untuk membuatnya menjauh tapi ternyata Vanya serius.


"Lalu?" sahut Peter datar.


Ruby menatap Peter dengan bingung, "Lalu? Apa maksudmu? Kita telah kalah,kak!!. Apa kakak tetap ingin memisahkan mereka berdua?"


Peter meneguk minumannya hingga habis tak bersisa, "Ruby.. kamu tahu? Aku memegang prinsip 'Jika aku tidak bisa mendapatkannya,maka aku akan menghancurkannya.. jadi,tidak seorangpun bisa mendapatkannya' " sahut Peter dengan wajah dingin.


"Jangan!" seru Ruby "aku tidak mau kakak menyakiti Louis!".


Peter tertawa sinis, "dasar bodoh! Dia telah menyakitimu tapi kamu masih menginginkannya?!"

__ADS_1


"Terserah apa katamu!! Yang penting, jangan sakiti Louis!" seru Ruby sambil menatap abangnya dengan serius.


"Tentu..tentu saja,tuan putri.. Jika berhasil, bahkan kamu bisa mendapatkannya kembali.." sahut Peter.


Ruby menatap Peter penuh curiga, "apa rencanamu?"


"Kemarilah!!" sahut Peter sambil mendekatkan mulutnya di telinga Ruby, Peter berbisik pada Ruby..menceritakan semua rencana yang ada dipikirannya.


Seulas senyuman menghiasi wajah Ruby setelah selesai mendengar rencana Peter.


Melihat wajah adiknya yang tersenyum puas,Peter tahu jika Ruby setuju akan rencananya tanpa perlu dia pastikan, "walau terkesan kekanak-kanakan, tapi..patut dicoba, bukan?" sahut Peter sambil tersenyum penuh arti.


Ruby tertawa, "kamu sungguh anak Simon Lee,kakak.."


Peter tertawa, "jika tidak,bagaimana aku bisa mengurus perusahaan papa di Beijing,gadis mungil.. semua karena ini.." sahut Peter sambil menunjuk-nunjuk kepalanya.


Ruby tertawa lalu mengangkat gelasnya, "*cheers?"


"Cheers*!!" balas Peter sambil mendekatkan gelas miliknya dengan Ruby hingga terdengar suara nyaring,ditambah suara tawa dari keduanya.



Kediaman Vanya,




"Tidak,Louis!" tolak Vanya, Vanya merasa gugup untuk bertemu dengan calon kakak iparnya.



Louis menghempaskan dirinya di sofa milik Vanya dengan kesal, "lihatlah!! perutmu telah mulai terlihat!! Apa kamu ingin menjadi pembicaraan orang-orang??"



Vanya tersenyum, "Aku tidak masalah, bahkan orang kantor telah mengetahui jika aku tengah hamil,termasuk Mr.Zhang".



Louis terbengong menatap Vanya yang begitu tenang.


__ADS_1


"Walau beberapa diantara mereka yang membicarakanku di belakang tapi banyak dari mereka juga menyelamatiku!!" lanjut Vanya.



Louis memutar kedua bola matanya, "dan kamu puas akan itu?!"



Vanya tersenyum melihat calon suaminya yang tengah merajuk, "Setelah kamu selesai pelatihan.. kita akan segera menikah,aku berjanji.."



Louis membisu menatap Vanya yang terlihat bersikeras dengan keputusannya, "kamu sungguh wanita yang aneh.. biasanya wanita lain,telah sibuk ingin segera menikah sebelum pria mereka kabur dari tanggung jawab"



Suara tawa terdengar dari mulut Vanya, "aku percaya padamu..Kamu tidak akan kabur,bukan?"



"Tergantung pelayananmu,nona Vanya.."



Vanya tertawa, "sepertinya aku bisa memulainya dengan segelas jus jeruk dingin untuk meredakan api dari dalam dirimu.." sahut Vanya sambil berjalan menuju dapur mininya,dia membuka kulkasnya untuk mencari jeruk-jeruk yang baru saja dia beli.



*Tring*..



Louis menatap layar ponselnya, sebuah pesan masuk.



"Ruby?" gumam Louis dalam hati saat membaca nama pengirim pesan singkat itu.



Curcol author :


Jangan lupa mampir ke novel keduaku "Still Holding On"❤️

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya selalu😍


__ADS_2