Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Back New York


__ADS_3

"Peter.. ini mama.. bisakah kamu membuka pintumu?' sahut Sharron dari balik pintu kamar Peter.


".........."


"Peter?"


"Pergilah,ma.." sahut Peter dengan suara lemah.


"Apa yang terjadi padamu,Peter?. Jika kamu memiliki masalah, kamu bisa membicarakan pada mama.."


"Pergi!!!" pekik Peter sontak membuat Sharron terkejut.


"Ada apa ini?!" Sharron berbalik saat mendengar suara suaminya yang tiba-tiba berada di belakangnya.


"Simon.." Sharron mendekati Simon "Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Peter.. dia telah mengurung diri di kamarnya beberapa hari ini.."


Simon terlihat mengerutkan keningnya, dia baru saja kehilangan proyek yang bernilai lumayan besar. Karenanya dia memutuskan untuk pulang dan beristirahat lebih awal dari biasanya, tapi suara pekikan Peter membuatnya melangkahkan kakinya menuju kamar anaknya. Simon memijat keningnya yang berdenyut, dia mendekati pintu kamar Simon.


"Buka!" tukas Simon.


"......."


"Aku bukan meminta tapi ini perintah!!. Buka atau ku hancurkan pintu sial*n ini!!" pekik Simon.


Sharron terkejut mendengar suara jeritan suaminya yang terdengar murka, "S..simon.."


Denyutan di kepala Simon semakin kuat menderanya, "Terserah padamu, Peter.. Kamu ingin mengurung diri hingga berminggu-minggu.. terserah!! Tapi.. ingat janji papa padamu dan Ruby!! Jika kalian gagal tentang proyek dengan hotel Ryans.. maka bersiaplah menerima konsekuensinya!!" tukas Simon.


Prang!!


Suara pecahan kaca terdengar dari dalam kamar Peter,Sharron semakin ketakutan.


"Pe..Peter!!" pekik Sharron sambil menggedor pintu "su..suara apa itu??. Mama mohon bukalah pintumu!!. Biarkan mama masuk"


"Pergiii!!!" pekik Peter.


Simon memutar kedua bola matanya, "sudahlah,Sharron!! Dia bukan anak kecil yang harus kamu bujuk terus menerus!!". Simon mendekati pintu Peter kembali, "ingat ucapan papa tadi!!"


"SI*L!!!!" pekik Peter kembali.


Emosi semakin memuncak dalam diri Simon, "jaga sopan santunmu!!! Atau kamu ingin papa memberimu pelajaran?!"


"Simon!!" Sharron yang merasa tertekan karena Peter,sekarang suaminya bukan membantu malah membentak dan mengancam Peter.


Prang!!

__ADS_1


Simon dan Sharron menatap pintu kamar Peter bersamaan.


"Simon.." lirih Sharron yang mulai putus asa.


Simon menatap Sharron,istrinya lalu menghela nafas "sudahlah.. biarkan dia istirahat malam ini.. Besok.. aku janji besok akan menyuruh orang untuk membongkar pintu kamarnya" bisik Simon.


Sharron akhirnya mengangguk pasrah, dia bersama Simon kembali ke kamar mereka tanpa mengetahui apa yang menunggu mereka keesokan harinya.



Bandara John F. Kenedy,New York.



Edward yang sejak tadi menunggu kedatangan Luckas,dan lainnya akhirnya tersenyum lega saat melihat keempat sosok yang dia tunggu sejak tadi.



Louis terlihat berjalan sambil memapah Vanya, sedangkan Lidya dan Luckas berjalan bersama. Edward tersenyum kecut,memikirkan kapan giliran baginya bisa seperti kedua pasangan itu.



Dua hari yang lalu,




"Vanya.." Lidya mendekati Vanya "jangan menolak tawaran kami.. Aku menginginkan calon adik ipar yang sehat.." sahut Lidya sambil menatap Louis yang tengah tersipu, "jadi.. terima tawaran kami..biarkan kamu mendapatkan perawatan lengkap di sana".



"Ta..tapi.. bagaimana dengan hotel Ryans?" sahut Vanya gugup.



Luckas tertawa kecil, "peresmian hotel Ryans akan diundur untuk sementara waktu.. Jadi kamu tidak perlu memikirkan itu"



"Apakah karena aku? Jika karena aku,maka aku menolak untuk ke New York.." sahut Vanya.



"Bukan.. Bukan karenamu, bukan karena Louis.. bukan karena siapapun,Vanya.." sahut Lidya "memang ada sedikit masalah pengiriman yang membuat kami harus menunda peresmian pembukaan hotel" dalihnya.

__ADS_1



Louis mendekati Vanya, "jangan menolak niat baik mereka berdua,Vanya.. Aku juga sudah menyetujui usulan mereka kog".



Vanya menunduk, "baiklah.."



Malam itu, Louis mengelus lembut dan mengecup kening Vanya yang tengah terlelap. Louis yang baru selesai mengurus administrasi rumah sakit, dan akhirnya memiliki waktu untuk beristirahat. Dia duduk bersandar di sofa besar yang ada di ruangan Vanya.


Perlahan dia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya, ya.. ponsel milik Ruby.


Louis memeriksa ponsel Ruby, seketika duduk tegak dengan wajah terlihat serius.


"Ruby.." sebuah pesan masuk dari Peter "Kamu masih berada di Bali?"


"Ya.. kamu dimana?" balas Louis.


"Aku.."


"Aku telah kembali ke New York" balas Peter.


"Apa?!"


"Mengapa tidak memberitahuku?!" balas Louis.


"Ada sedikit masalah,jadi aku buru-buru kembali.." balas Peter "Tapi Ruby.. Apakah kamu tidak mendengar kabar apapun dari Louis?"


Louis tersenyum kecut, "Louis? Tidak.. ada apa dengannya?. Terakhir aku memang mendapat kabar jika Vanya terluka"


Detak jantung Peter memacu cepat, "Benarkah?"


"Kamu tahu?"


"Tidak!!!"


"Tentu tidak!!! Bagaimana aku tahu??!!! Aku di New York!!" balas Peter.


Louis terdiam, tidak membalas apapun.


"Tapi..." Peter kembali mengirim pesan, "Apakah pelakunya telah tertangkap?!"


__ADS_1


__ADS_2