
Something must've gone wrong in my brain
Got your chemicals all in my veins
Feeling all the highs, feeling all the pain
•Camila Cabello•
Vanya dan Louis menatap satu sama lain, saling mencoba membaca pikiran satu sama lain. Baik Vanya dan Louis sama-sama terpukul, yang ada dipikiran mereka hanyalah merekalah yang saling memulai awal kesalahan mereka satu sama lain..mereka bahkan tidak bisa menuntut satu sama lain,hanya bisa menyalahkan diri mereka sendiri.
"A..aku--" sahut mereka berbarengan yang lalu kemudian terdiam.
"Aku akan bertanggung jawab" sahut Louis yang memecahkan kecanggungan yang mulai menusuk tubuh mereka satu sama lain.
"Pergilah.. aku tidak akan menuntutmu apapun" balas Vanya, "*aku bahkan tidak bisa memarahi ataupun memukulmu,karena semua aku yang memulai sendiri*" lanjut Vanya dalam hatinya.
"Tidak!! Jadilah kekasihku..atau jika kamu menginginkan.. aku bahkan bisa melamarmu dan menikahimu!" sergah Louis. Jika yang ada dipikiran kalian, semua pria akan lepas tangan begitu saja jika terjadi hal seperti ini dan hanya sedikit saja pria yang akan bertanggung jawab..maka Louis adalah salah satu dari sedikit pria itu.
Vanya tersenyum sinis "kamu begitu kuno,Louis.." sahut Vanya sambil mencoba terlihat tenang walau dia masih menahan sakit yang mendera di kepala bahkan di bagian mahkotanya,dia bahkan tidak mengerti mengapa rasa sakit di bagian selatannya tidak kunjung mereda.
"A..apa maksudmu?"
"Kamu begitu kuno,Louis.. bukankah kamu juga sering seperti ini? Aku yakin kamu telah terbiasa dengan situasi *one night stand*?" sahut Vanya dengan nada begitu menusuk hati Louis.
__ADS_1
Louis mengepal kedua tangannya, perkataan Vanya begitu menyakiti perasaannya "jadi..kamu telah terbiasa dengan hal ini?!" tukas Louis dingin.
Vanya sedikit bergidik, melihat sisi yang tidak pernah di lihatnya dari seorang Louis "kamu tahu jawabannya.. jadi sekarang.. keluar dari rumahku! Aku terlalu lelah untuk meladenimu!" tukas Vanya dingin sambil memalingkan wajahnya.
Louis bangkit berdiri,menahan semua emosi yang hampir meluap dari dalam dirinya. Belum pernah dia bertemu wanita yang begitu dingin dan keras seperti Vanya. Louis akhirnya mengambil semua barangnya dan langsung keluar dari rumah Vanya,tidak lupa memberi salam pada Vanya dengan membanting pintu rumahnya begitu keras hingga menggetarkan jendela rumah Vanya.
Selepas kepergian Louis,Vanya duduk termenung..dia hanya mengutuk dirinya karena begitu dingin dan kasar pada Louis. Vanya yang selama ini harus berdiri sendirian sebatang kara semenjak kepergian kedua orang tuanya,begitu banyak halangan yang dihadapinya hingga membuatnya begitu dingin dan sulit menerima uluran kehangatan dari orang lain. Dan karena itu juga menjadi salah satu alasan bagi Vanya tidak memiliki kekasih hingga saat ini.
Air mata mengalir dari kedua pelupuk mata Vanya, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi. Air mata yang menyesali dirinya yang mengusir Louis dan juga air mata yang menyesali dirinya yang mabuk hingga terjadi hal yang tidak dia dan Louis inginkan.
"Aku tidak ingin karena ini,kamu merasa terbebani dan terpaksa bersamaku,Louis.. Aku tidak ingin kita melanjuti hubungan ini tanpa rasa cinta di antara kita berdua.." lirih Vanya yang hanya bisa duduk termenung seorang diri.
Louis melepaskan bajunya dan menghempaskannya dengan kasar di lantai yang dingin, "sial!! sial!!!! mengapa semua ini terjadi?!! dan bahkan kami berdua tidak mengingat apa yang terjadi diantara kami!!" seru Louis, suara penuh kemarahan memenuhi seisi rumahnya.
Louis menghempaskan dirinya berbaring di sofa mininya, perkataan Vanya begitu menyakiti hatinya tapi Louis tidak sanggup membencinya. Louis kembali mengepal tangannya mengingat akan Vanya yang dingin.
"Apa kamu begitu membenciku,Vanya?" lirih Louis "apa memang seharusnya aku mundur darimu?".
Tiga minggu kemudian,
Sejak kejadian itu, Vanya dan Louis semakin menjauh dan keduanya begitu dingin satu sama lain. Hal itu kembali membuat Ruby begitu gembira,terlepas dari apapun yang terjadi antara Vanya dan Louis itu bukan masalah baginya, yang terpenting..Louis yang sekarang bahkan tidak melirik Vanya. Ruby semakin berinisiatif mendekati Louis secara terbuka, tidak ada seorangpun yang tidak tahu akan perasaan Ruby pada Louis.
Sama seperti biasanya..sore itu, Ruby mengekor Louis kemana pun dia pergi. Awalnya Louis masa bodoh akan hal itu,tapi kelamaan Louis mulai merasa jengkel akan sikap Ruby yang seakan bersikap seperti kekasihnya. Bahkan sering kali Ruby meneleponnya hanya sekedar bertanya keberadaan Louis ataupun kegiatan yang sedang Louis lakukan.
__ADS_1
Louis menarik Ruby menuju salah satu koridor yang berada di belakang perusahaan,dimana koridor tersebut sangat jarang dilewati siapapun.
Ruby menarik tangannya dari cengkraman tangan Louis, "Louis.. sakit.." lirihnya "aku tidak menyangka kamu bisa begitu kasar.."
"Ruby.." sahut Louis dengan serius "hentikan semua kegilaanmu! Aku lelah akan sikapmu yang terkesan seperti kamu adalah kekasihku!!"
"Akan!!" tukas Ruby "Akan menjadi kekasihmu!! larat itu!"
Louis menghela nafas "tidak.. tidak akan pernah,Ruby. Aku tidak menyukaimu.. begitu banyak pria yang lebih baik dariku yang menantimu, Ruby!!"
"Tapi kamu yang aku inginkan!! dan aku harus mendapatkanmu!!" tukas Ruby.
"Ka--"
Ruby menarik Louis mendekatinya dan langsung mencium bibir Louis dengan dalam bahkan tidak memberi kesempatan bagi Louis berbicara. Ruby melirik diujung koridor sambil tersenyum menatap kepergian seseorang yang secara tidak sengaja ingin melewati koridor itu.
Louis mendorong Ruby,melepaskan dirinya dari ciuman Ruby "APA YANG KAMU LAKUKAN?!"
Ruby tersenyum dan mendekati Louis, jari telunjuk kanan Ruby dia letakkan di dada Louis "kamu..milikku!"
__ADS_1