Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Washington 2


__ADS_3

Vanya akhirnya menyerah,dia menyerah akan mencari Louis. Tanpa adanya bantuan,ataupun informasi yang dapat membantunya dalam mencari Louis, sama saja seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.


Sehari sebelumnya,Vanya telah menyerahkan data dirinya pada wanita resepsionis tersebut. Dengan penuh pengharapan, Vanya sangat berharap dia dapat diterima oleh mereka. Terlebih Vanya sebelumnya merupakan lulusan dari bagian perhotelan,hal itu tentu akan menjadi nilai tambah tersendiri baginya.


Jika kamu bertanya mengapa Vanya bekerja di Lee's Ship jika dia merupakan lulusan bidang perhotelan, disaat itu Vanya yang baru lulus kuliah dan membutuhkan pekerjaan secepatnya,dia akhirnya meletakkan lamarannya di beberapa hotel dan beberapa perusahaan manapun yang membuka lowongan. Vanya tidak mengharuskan untuk bekerja di perhotelan. Baginya,selama dia dapat bekerja,maka dia tidak peduli ataupun menuntut harus di perusahaan apa.


Setelah menyerahkan lamarannya di hotel Ryans, dirinya sekaligus keluar dari hotel Ryans. Vanya ingin mencari hotel yang lebih murah di bandingkan Hotel Ryans. Sebelumnya,dia tidak menyangka jika akan memakan waktu begitu lama untuk menemukan Louis. Sekarang Vanya harus mulai untuk berhemat sebelum dia menemukan pekerjaan baru untuknya, dan dia memutuskan untuk keluar dari hotel Ryans dan mencari hotel yang lebih murah untuk sementara waktu. Walau tabungannya cukup,namun tidak ada salahnya bukan untuk berhemat dari sekarang.


Tiga hari setelahnya,Vanya mendapatkan panggilan dari pihak hotel Ryans untuk datang ke hotel Ryans segera untuk interview. Vanya begitu antusias saat mendapatkan telepon tersebut, dia bergegas menyiapkan diri segera untuk menuju hotel Ryans. Dengan pakaian formal terbaiknya yang baru saja dia beli di pusat perbelanjaan, Vanya datang ke hotel Ryans dengan blouse kemeja putihnya dengan rok hitam di bawah lututnya, rambutnya diikatnya dan di tata rapi olehnya, kesan pertama selalu menjadi penentu terutama bagi segala aspek!


Begitu tiba, Vanya dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan bagian personalia. Seketika Vanya merasa gugup saat menginjakkan kakinya ke dalam ruangan itu, seorang wanita dan seorang pria yang terlihat berumur sekitar kepala empat terlihat duduk dengan wajah yang sangat tidak bersahabat,dan di samping mereka terlihat seorang pria yang lebih muda dari mereka.


"Selamat siang,Miss--?"


"Ah.. anda dapat memanggil saya...Rose!" sahut Vanya. Rose dari Rosanne,untuk memulai hidup barunya!!. Dan dengan pekerjaan ini,Vanya bertekad untuk memulai hidup barunya dengan atau tanpa Louis dalam hidupnya.



"Miss Rose!! Miss Rose!!" suara sahutan pegawainya menyadarkan Vanya dari lamunan panjangnya. Tanpa terasa dia telah berada di Bali selama hampir dua bulan. Dan dia begitu menikmati dirinya selama bekerja di sini. Keindahan Bali membuatnya selalu sukses melepaskan semua kepenatannya selama bekerja, dan setiap waktu senggang, Vanya selalu berjalan di sekitaran pantai untuk menenangkan diri.



"Apa?! Tidak perlu sekeras itu memanggilku,Amara!" tukas Vanya.


__ADS_1


Amara,gadis muda yang bekerja di bawah naungan Vanya. Amara merupakan gadis yang ceria namun sedikit ceroboh,berulang kali Vanya selalu menasehati Amara. Namun karena Amara, anak yang sangat pekerja keras, Vanya selalu mentolerirnya.



"Maafkan aku,Miss.." sahut Amara sambil menunjukkan deretan giginya yang putih pada Vanya, jangan lupa kedua lesung pipinya yang begitu dalam di kedua pipi Amara, "soalnya dari tadi aku manggil-manggil Miss..tapi Miss-nya tidak dengar loh.. jadi aku manggil-manggil lagi dan lagi.." sahut Amara.



Vanya memutar kedua bola matanya, "jadi ada apa kamu memanggilku??"



Amara terdiam, "mmm.. apa ya.." sahut Amara "tapi..Miss.. kog nama anda Rose?? Kayak Rose dari Blackp\*nk itu.. atau Miss juga pandai menari kayak Rose??"




Tidak lama terdengar suara derap kaki yang mendekati mereka berdua,seorang gadis muda seumuran Amara mendekati mereka dengan nafas yang tersengal-sengal.



"Nah.. kamu lagi,Caya!! Berapa kali aku bilang jangan lari-lari!!" seru Vanya.


__ADS_1


"Anu,Miss Rose.. Soalnya,sudah dari tadi anda di panggil sama manajer kita" sahut Caya dengan masih mengatur nafasnya.



"Oh iya!! Itu yang tadi mau Amara bilangin!" pekik Amara tiba-tiba.



"*Oh,God*!!" seru Vanya,sambil langsung berjalan dengan langkah sedikit cepat menuju ruangan manajer. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia ditunggu oleh manajer hotel mereka itu.



Tidak lama kemudian, Vanya berdiri di depan pintu ruangan manajer, dia memeriksa pakaiannya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam dan menarik nafas panjang, tidak lupa seulas senyuman menghiasi wajahnya saat masuk ke dalam ruangan manajer.



*Tok..tok*..



Vanya membukakan pintu dengan perlahan, "maafkan jika saya terlalu la--" kalimat Vanya terputus saat melihat sosok pria yang juga tidak kalah terkejutnya menatap Vanya.



"Ka...kamu--"

__ADS_1



__ADS_2