Hotel Prince

Hotel Prince
Where are you now


__ADS_3

See I gave you faith


Turned your doubt into hoping, can't deny it


Now I'm all alone and my joys turned to moping


Tell me, where are you now that I need you?


•Justin Bieber•


########


Luckas berjalan menuju mobilnya, Edward terlihat telah menunggunya. Luckas telah menghubungi Edward untuk segera menjemputnya saat sebelum dia bertemu dengan Ayles.


"apakah pestanya telah selesai,sir?" tanya Edward.


Luckas menggeleng "aku ingin segera beristirahat"


Edward mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk tuannya. Ketika Edward akan menutup pintu mobil,tidak jauh dari mereka terlihat sepasang suami istri dengan anak kecil. Anak kecil itu tertidur begitu pulas di pelukan ibunya,sedangkan ayahnya dengan segera membukakan pintu mobil untuk mereka.


'Suatu pemandangan yang indah' pikir Edward dalam hati saat melihat sepasang suami istri itu. Saat wanita itu berbalik untuk masuk kedalam mobil,nafas Edward tercekat seketika. Seakan disihir,Edward hanya mematung dan wajahnya terlihat pucat.


Jendela mobil turun perlahan, "hei,Edward!" Luckas menepuk tangan Edward yang sedari tadi hanya membisu dan tidak sadar jika Luckas memanggilnya.


Edward menatap Luckas, dia berusaha mengeluarkan suara dari mulutnya.. tapi, tenggorokannya serasa memiliki batu besar yang menahannya untuk berbicara "i..itu.. sir..i..tu-" Edward hanya menunjuk ke arah mobil suami istri yang baru saja melaju pergi.

__ADS_1


Luckas menoleh kearah yang ditunjuk Edward,tidak ada yang aneh di tempat yang ditunjuk Edward hanya sebuah mobil yang melaju pergi , dia tidak mengerti apa maksud Edward "Ada apa,Edward? apakah kamu melihat sesuatu?"


Bukannya menjawab Luckas,Edward tergesa-gesa masuk kedalam mobil dan segera menghidupkan mobil. Dia mencoba mengejar mobil yang dinaiki suami istri tadi. Dia tidak yakin dengan apa yang telah dilihatnya tadi, Edward hanya membisu dan menjalankan mobil dengan cepat.


"Edward..bisa kamu jelaskan? ada apa denganmu?" tanya Luckas yang kebingungan dengan perilaku asistennya ini,baru kali ini Edward menjalankan mobil begitu kencang membuat Luckas semakin kebingungan.


"Maafkan aku,sir.. tapi aku ingin memastikan sesuatu dulu, dan setelahnya aku akan segera mengantar anda pulang" jawab Edward. Luckas ingin bertanya lebih lanjut tapi melihat Edward yang begitu serius,Luckas mengurungkan niatnya. Luckas membuka jendela mobilnya untuk menikmati angin malam. Sejak Edward memilih untuk tetap mengikutinya saat dia tidak memiliki apa-apa,Luckas telah menganggapnya seperti saudaranya sendiri.


Edward mencoba mengejar mobil silver yang tidak jauh darinya. Namun sayangnya,usaha Edward sia-sia.. mobil Luckas tertahan oleh lampu merah,sedangkan mobil silver tersebut berhasil melewatinya sesaat sebelum lampu tersebut berubah warna. Edward memukul setir mobil,menahan kesal karena gagal mengikuti mobil silver itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata,Edward memutar balik mobilnya untuk mengantar Luckas ke hotel.


Luckas menyadari Edward memutar balik mobilnya "apa yang kamu kejar,Edward? atau lebih tepatnya..siapa yang kamu kejar?"


Edward menelan ludah "tadi aku melihat seseorang yang aku kenal dan sudah lama tidak bertemu dengannya bahkan sudah lama tidak mendengar kabarnya. Tapi aku ragu apakah tadi yang aku lihat adalah orang tersebut,karena itu aku mengejarnya, sir.. maafkan aku telah berbuat seenaknya" sahut Edward.


Edward tertawa "bukan..tentu saja bukan,sir.."


Luckas melirik Edward dari bayangan kaca mobil "sepertinya sudah saatnya kamu memiliki kekasih,Edward"


Edward terdiam,selama ini bukan karena dia tidak mau memiliki kekasih..akan tetapi dia selalu mematung jika berada di dekat wanita yang disukainya. Hal itu menjadi hambatan tersendiri baginya,dia berbeda dengan Luckas yang begitu penuh percaya diri sekalipun saat berada di dekat wanita yang disukainya.


"terima kasih,sir.. Tapi untuk sementara ini,aku masih ingin mengikuti anda" jawab Edward.


Luckas kembali melirik Edward, dia menatap Edward dengan seksama. Wajah Edward tergolong tampan di mata Luckas,dia tidak mengerti alasan mengapa dia masih memilih sendiri. "kamu...."sahut Luckas pelan.


Edward melihat tuannya dari kaca mobil.

__ADS_1


"kamu..bukan...menyukaikukan??" tanya Luckas dengan serius.


Mendengar pertanyaan Luckas membuat Edward hampir menabrak pembatas jalan, dengan cepat dia menghentikan mobilnya dan menoleh kebelakang menatap tuannya dengan wajah serius "tentu tidak akan pernah,sir!! Aku pria normal yang menyukai lawan jenis!" sahut Edward dengan nada menahan geli,membayangkan dirinya menyukai sesama jenis membuat bulu kuduknya merinding seketika. Dia tidak habis pikir darimana Luckas bisa berpikiran seperti itu.


Luckas tertawa keras "sorry..sorry..aku hanya menggodamu saja.. tidak kusangka kamu menganggapnya serius" sahut Luckas yang masih tertawa.


Edward menghela nafas lega "itu sangat menjijikan,sir.. jangan pernah berpikiran seperti itu lagi,sir" pinta Edward.


Luckas mencoba menahan tawanya "baik..baik..lupakan perkataanku tadi.. oh ya..ada satu pertanyaanku padamu"


"apapun itu,sir.."


"Bukankah sejak setahun yang lalu,aku telah memerintahkan mu untuk memanggil namaku saja saat diluar jam kerja?"


Edward terdiam "aku minta maaf,sir.. aku..masih belum terbiasa dengan hal itu" jawab Edward.


"Biasakanlah,Edward!! anggap ini perintah dariku.. lagipula dari segi umur kamu lebih tua dua tahun dariku. Dan disisi lain,kamu sudah aku anggap seperti saudaraku.." ucap Luckas.


Edward mengangguk "akan kuusahakan,Luckas"


"Nah..seperti ini dong!!" sahut Luckas sambil mengacungkan ibu jarinya pada Edward "dan satu hal lagi,Edward..jangan pernah merasa sungkan untuk meminta bantuan padaku saat kamu membutuhkan sesuatu..kapanpun dan apapun itu!"


Edward terharu mendengar ucapan Luckas "terima kasih,Luckas..terima kasih"


__ADS_1


__ADS_2