
I’m warning you just in case (listen carefully)
It’s dangerous now (so dangerous)
Stop provoking me (there’s going to be trouble)
I don’t even know myself
-Exo-
Pranngggg~~~
Seketika, langkah kaki Arthur dan Steward membeku. Mereka saling menatap satu sama lain, pelayan-pelayan yang mendengar suara itu juga tidak kalah terkejutnya,namun mereka tidak berani berbuat apa-apa.
Wajah Arthur memucat, jantungnya berdebar kencang.
"Sir.." sahut Steward setengah berbisik seakan takut Luckas mendengar mereka.
Sekujur tubuh Arthur bergemetar hebat, memaksakan dirinya untuk kembali melangkah cepat menuju kamar ibunya sebelum Luckas melakukan hal yang akan dia sesali nantinya.
Arthur melihat salah satu pelayan yang ada di sana "hubungi madam sekarang!!". Pelayan tersebut mengangguk dengan pucat.
Sesampai di pintu kamar Dora, Arthur bergegas membuka pintu kamar Dora tapi..terkunci?!
__ADS_1
"Luckas!!" panggil Arthur sambil menggedor kuat pintu kamar ibunya. Arthur menoleh menatap Steward "ambilkan cadangan kunci kamar sekarang!!"
Di dalam kamar Dora,
Pecahan kaca berserakan begitu saja di meja rias dan lantai, wajah Dora memucat..sisi Luckas yang tidak pernah di lihatnya membuatnya cukup syok berat.
"A..apa yang kamu lakukan??!!!" pekik Dora.
Mata Luckas tidak terlihat bersahabat, terlihat merah menahan kepedihan karena kehilangan Lidya dan Ayles. Penyesalan yang begitu menyesakkan dari dalam hatinya. Luckas tertawa begitu keras hingga memenuhi seisi ruangan kamar Dora.
"Apakah anda tahu,madam?? Aku sungguh bodoh!! Meyakinkan diriku jika bisa memperbaiki hubungan kita.. tapi ternyata aku terlalu naif, menganggap kamu adalah hal yang mudah dan semuanya akan kembali baik-baik saja.. Dengan bodohnya,aku membawa Lidya masuk kembali kedalam lubang buaya ini!!" sahut Luckas dengan kasar.
Dora berusaha menenangkan dirinya dan mencoba tidak terlihat gugup walau jantungnya hampir meloncat keluar "jadi..kau memecahkan cermin dan mengamuk tengah malam seperti ini,semua memang karena Lidya,lagi? Sungguh keterlaluan wanita itu!!"
Luckas kembali menghempaskan tongkat golf yang ada di tangannya ke lampu meja yang ada di meja di kamar Dora.
Dora kembali syok, baiklah..kali ini Luckas terlihat bagaikan monster di hadapannya..bukan lagi cucu kesayangannya.
Suara gedoran pintu terdengar, Arthur memanggil-manggil nama Luckas dari balik pintu tersebut. Dora yang bergemetar hebat, merasa sedikit lega karena ada harapan pertolongan dari balik pintu kamarnya tapi...Arthur tidak bisa membuka pintu kamarnya, dia menatap Luckas dengan takut.
"a...apa yang terjadi,Luckas?? Kita bisa bicarkan ini secara baik-baik" pinta Dora. Dia tahu dia harus segera melunak jika tidak ingin Luckas semakin mengamuk.
Luckas kembali tertawa "bicarakan?? Apa yang harus saya bicarakan lagi pada anda,madam? Semuanya telah selesai!! Lidya membawa Ayles meninggalkanku LAGI!!!!!" bentak Luckas. Suara lembut Dora bukan membuatnya melunak malah sebaliknya. Setelah semua yang terjadi dan Dora dengan mudah mengatakan ingin bicara baik-baik?!!
"Dan semuanya karenamu,madam!!! Dasar rubah yang berkedok sebagai nenekku!!!!" pekik Luckas begitu kuat sambil mengangkat tongkat golf di tangannya kearah Dora.
"arrrrghhhhhhh!!!!! tolonggggggggggg...." histeris Dora.
Arthur bergegas menahan tongkat yang ada di tangan Luckas "LUCKAS!!!" pekik Arthur.
__ADS_1
Luckas menatap Arthur dengan marah "lepaskan!!! aku ingin menghancurkan rubah licik ini!!!"
"SADAR LUCKAS!!! DIA GRANDMA MU!!!" bentak Arthur sambil menarik tongkat yang ada di tangan Luckas.
"TIDAK!!!!! DIA BUKAN!!!!" pekik Luckas.
plak!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Luckas,membuat Luckas terdiam seketika.
"Bagaimanapun dia adalah nenek kandungmu,Luckas!! apapun itu!!!" bentak Arhur.
Luckas kembali tertawa keras dan berhenti seketika "Dengarlah,dad.. aku tidak akan pernah kembali lagi ke sini dan tidak akan ada lagi 'grandma' dalam hidupku!! Dan seharusnya aku tidak kembali lagi ke sini!!!" pekik Luckas,dia menatap Dora "dan anda!!! jangan pernah lagi hadir dalam hidupku!!!" bentak Luckas sambil berjalan keluar dari kamar Dora, semua pelayan yang mengintip ke dalam kamar Dora seketika berbalik menghadap dinding saat melihat Luckas yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar tersebut.
Dora terkulai lemas duduk di lantainya, air matanya mengalir..seumur hidupnya belum pernah dia merasakan penghinaan hina seperti ini, dan lebih parahnya..penghinaan ini malah dia dapatkan dari cucu kandungnya sendiri.
Martha yang baru saja tiba di rumah,bergegas berlari menuju kamar Dora. Begitu dia dihubungi Steward, jantung Martha seketika berdebar kencang.. walau dia menyalahkan Dora tapi dia tidak ingin Luckas menyakitinya, bagaimanapun Dora adalah mertuanya, ibu dari suami yang di cintainya, dan dibalik semua itu.. Dora tetaplah nenek kandung Luckas.
Semua pelayan menatap Martha dengan gugup dan hanya bisa menundukkan kepala mereka. Martha menyadari semua gerak-gerik mereka semakin membuatnya gugup. Dia berlari menuju kamar Dora dan mendapati Dora yang berbaring lemas dan Arhur yang duduk di samping ibunya.
__ADS_1