Hotel Prince

Hotel Prince
Angry Too


__ADS_3

 buried the unseemly urges


Deep down in the ground with the roots


But it's all coming up to the surface


Maybe it's getting ready to bloom


And I don't wanna be a monster in the making


I don't wanna be more bitter than sweet


I don't know how to be just standing by blankly


Not getting angry


•Lolo Blanc•



"Dasar bajing\*an kamu,Luckas!!" bentak Louis "bagaimana mungkin kamu begitu tega berkata seperti itu??!!! Tidak pernah sedetikpun terlintas di pikiran kakakku untuk mengkhianatimu walaupun dia telah meninggalkanmu!! tahu kenapa?? karena dia begitu mencintaimu!! Karenanya dia lebih memilih menyendiri seorang diri,bekerja sambil menjaga anak kalian!!" Louis menahan dirinya untuk tidak memukul Luckas lagi walau dia begitu ingin memberi pelajaran pada Luckas "Bukankah kamu sendiri yang mencarinya,menghampirinya sampai akhirnya dia luluh untuk kembali padamu?!" Louis tertawa sinis "setelah semua itu,dengan mudahnya kamu berkata seperti itu,seakan-akan Lidya adalah perempuan murahan?!! persetan dengan kau!!"



Louis menggendong Ayles kembali "jangan pernah kau memperlihatkan wajahmu kembali pada kami!! bajing\*n!!" Louis berjalan keluar dan membanting pintu rumah Luckas dengan kasar.



Setelah kepergian Louis,Luckas hanya terdiam memegang pipinya yang berdenyut akibat pukulan Louis, Luckas tertawa..tertawa begitu keras memenuhi seluruh ruangan sampai akhirnya dia menitikkan air matanya "aku.. tidak tahu lagi"



Perumahan Lincoln,


Martha yang kebingungan dengan keadaan sekarang, sejak tadi dia mencoba menelepon Luckas dan juga Lidya,namun tidak ada diantara mereka berdua yang mengangkat teleponnya. Martha yang putus asa,dan takut keadaan ini akan semakin berlarut-larut akhirnya dia menemui Dora yang sudah berada di kamarnya. Martha sudah tidak tahan dengan semuanya, padahal awalnya semua berjalan lancar dan suasana begitu damai dan gembira tiba-tiba berubah menjadi suram seperti ini.


Martha mengetuk pintu kamar Dora "Mom.."

__ADS_1


"Masuklah.." sahut Dora dari balik pintu.


Martha mendekati Dora yang sedang duduk di sisi samping tempat tidurnya "apa yang terjadi,mom?" tanyanya langsung,Martha terlalu lelah jika harus berbasa basi lagi.


"Tidak ada apa-apa,Martha.."


"Tapi-"


"Tapi apa,Martha? apakah Lidya ada mengatakan apa-apa padamu?" selidik Dora.


"jika saja dia telah menceritakan padaku maka aku tidak akan berada disini dan bertanya padamu,mom.."


Dora menggelengkan kepalanya "perempuan itu sungguh keterlaluan.. padahal aku sudah memberi izin dan restu padanya untuk menikah dengan Luckas dan aku hanya meminta jika aku menginginkan tes DNA pada Ayles, tapi dia langsung marah-marah dan pergi seenaknya.."


Martha syok mendengar penjelasan Dora "me..mengapa mom begitu tega berkata seperti itu pada Lidya?!"


Dora menatap Martha dengan tatapan sinis,dia tidak menyangka jika menantunya akan bertanya seperti itu "tega?? aku hanya menginginkan kejelasan mengenai Ayles dan kalian mengatakan aku keterlaluan dan tega??!"


"Apakah tidak terlintas di pikiran mom jika hal itu sama saja menyakiti perasaannya dan juga harga dirinya?!!" sahut Martha dengan suara mulai meninggi,dia tidak menyangka Dora akan bertanya pada Lidya seperti itu "Mom juga seorang wanita..dengan mom berkata seperti itu pada Lidya..sama saja mom menuduhnya seperti perempuan murahan"


"jika apa,mom?!! Jika sesungguhnya Ayles bukan anak Luckas dan Lidya memakai Ayles semata-mata hanya untuk masuk kedalam keluarga ini??!!" potong Martha.


"bukankah wajar jika aku berpikiran seperti itu??!!" sahut Dora dengan sinis.


Martha tertawa sinis "seberapa tingginya keluarga ini,mom?? sehingga membuatmu begitu mudah menginjak-injak orang lain yang kamu anggap lebih rendah dari keluarga kita??"


"kamu!!"


"Jika memang Lidya ingin menggunakan Ayles,dia tidak perlu menunggu sampai tiga tahun,mom!!"


Dora terdiam.


"Jika mom terus menerus bersikeras seperti ini,maka mom bukan saja kehilangan cucu tapi juga menantu mom!!" sahut Martha.


"kamu mengancamku??!!" sahut Dora dengan marah.


"Aku tidak mengancam,mom..aku hanya capek dengan keras kepalanya mom!! aku hanya mengingkan keluarga utuh yang bahagia..aku capek dengan perseteruan ini!!" sahut Martha sambil berjalan keluar dari kamar Dora, meninggalkan mertuanya yang sedang menahan marah.

__ADS_1



Martha berjalan masuk kedalam kamarnya dan segera meraih koper besarnya dan mengisinya dengan baju dan perlengkapan miliknya dengan kasar. Arthur yang masih kebingungan mencoba menahan istrinya.



"jangan menahanku,Arthur!! aku sudah muak dengan ibumu!!" sahut Martha dengan marah sambil menepis tangan suaminya.



Arthur terkejut,belum pernah dia melihat istrinya begitu marah dan berkata seperti itu tentang ibunya. Puluhan tahun menjadi suami istri, Martha selalu sabar dengan sifat keras ibunya tapi tidak dengan hari ini. "Ada apa dengan kalian semua?? Bukankah tadinya semua baik-baik saja??" tanya Arthur.



Martha menghentikan kegiatannya dan menatap Arthur dengan geram "tanyakan saja pada ibumu yang begitu agung dan mulia itu!!"



Martha menutup kopernya yang sudah penuh, Arthur mendekatinya dan kembali mencoba menahan istrinya "bagaimana denganku,Martha?? Apakah kamu tega meninggalkanku??" lirihnya.



Perlahan Martha melirik suaminya yang menatapnya dengan mata yang begitu sendu dan hampir meluluhkan hatinya. Martha mengelus lembut wajah suaminya "Arthur..aku mencintaimu.. tapi aku lelah dengan keegoisan ibumu!!" sahut Martha "dan..aku juga seorang ibu,aku tidak ingin melihat Luckas kembali hancur.. dan aku harus segera meluruskan permasalahan ini sebelum semuanya menjadi benang kusut yang tidak bisa diuraikan lagi..". Martha mengecup lembut bibir suaminya "aku mencintaimu.." bisiknya.



Sambil menarik pelan kopernya, Martha meninggalkan rumah yang terlihat seperti istana...istana dingin yang selalu menyakiti orang lain.



NOTE:


loha❤️ author is back..


jangan lupa vote Hotel Prince terus ya.


Biar author makin semongko buat nulis and update terus.. thank you reader tercinta❤️

__ADS_1


__ADS_2