Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Resign


__ADS_3

Lee's Ship,


Suasana kantor mulai ricuh saat mendengar kabar Louis yang akan segera resign, dan hari ini merupakan hari terakhirnya bekerja di Lee's Ship. Bagaimana tidak? Louis yang baru saja bekerja tiga bulan lamanya, dan telah melewati masa training, bahkan setelahnya dia akan menjadi pegawai tetap ditambah kenaikan gaji sepuluh persen dari gaji awalnya. Tapi,Louis malah mengundurkan diri?


Mr.Zhang sendiri kebingungan saat menerima surat pengunduran diri Louis,


"Kamu telah berpikir dengan matang?" tanya Mr.Zhang.


Louis mengangguk "bahkan sudah overcooked (kematangan)!!!" sahut Louis serius.


"Louis.. kinerja kamu selama disini sangat bagus dan bahkan kamu akan segera diangkat menjadi pegawai tetap,mengapa kamu mau berhenti??" tanya Mr.Zhang yang tidak habis pikir.


Louis termenung, "memang sih. Tapi Mr.Zhang,aku merasa Lee's Ship bukanlah perusahaan yang tepat untukku" sahut Louis.


Mr.Zhang menggaruk-garuk kepalanya, rambutnya semakin menipis seiring bertambahnya usia. Bukan masalah jika Louis ingin berhenti, yang dipikirkan Mr.Zhang adalah Ruby. Alasan Ruby bekerja hanya karena Louis,dan sekarang..alasan utama Ruby akan berhenti. Kepala Mr.Zhang terasa pusing terlebih dahulu saat memikirkan reaksi Ruby.


"Ka--"


Brak!


Mr.Zhang dan Louis sama-sama menatap ke sumber suara. Melihat sosok yang berdiri di depan pintu ruangan Mr.Zhang,membuatnya keduanya menghela nafas hampir bersamaan.


"Tidak bisakah anda mengetu--"


"Louis!!" Belum sempat Mr.Zhang menyelesaikan ucapannya, Ruby terlebih dahulu memotong pembicaraannya.


Louis memutar kedua bola matanya, "sedang apa kau disini?!"


"Tidak!! tidak!!" Ruby berjalan cepat mendekati meja Mr.Zhang dan merampas surat pengunduran diri milik Louis dan merobeknya hingga tidak terbentuk, "aku!! tidak mengizinkanmu untuk berhenti!!" tukas Ruby.


"Hei!!" Louis menatap surat pengunduran dirinya yang telah berserakan di lantai "apa yang kamu lakukan?!"


"Menghentikanmu!" tukas Ruby sambil melipat tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


Louis menatap Ruby dengan kesal, "dengan segala hormat,Miss Ruby..Anda tidak berhak menghentikan ataupun menolak pengunduran diriku!! Anda bukan siapa-siapa!"


"Aku berhak!!" pekik Ruby.


"Ehem..Ruby.. apa yang dikatakan Louis itu benar.." sahut Mr.Zhang yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ruby.


"Aku berhak menolak!!" seru Ruby kembali.


Louis tertawa sinis, "terserah anda,Miss Ruby.. dan Mr.Zhang, aku telah selesai berbicara.. tentang surat pengunduran diriku..aku akan memberikan padamu kembali.. bila perlu-" Louis menatap Ruby "-aku bisa mengukirnya di batu ataupun baja supaya tidak ada yang bisa merusaknya" sahut Louis dingin sambil berjalan keluar dari ruangan Mr.Zhang.


Suara jeritan Ruby memenuhi ruangan Mr.Zhang, Mr.Zhang hanya bisa menutup kedua telinganya jika tidak ingin kehilangan fungsi pendengarannya.


Vanya berdiri mematung di depan ruangan Mr.Zhang, Louis menatap Vanya sambil tersenyum. Sedangkan Vanya, wajahnya terlihat begitu serius. Vanya menarik Louis ke tempat yang sepi supaya mereka berdua dapat berbicara dengan leluasa.


"Apa benar kamu akan berhenti?" tanya Vanya.


"Benar.."


"Aku lelah disini,Vanya.."


"Kerja dimana saja semuanya lelah,Louis!" Vanya mengigit bibir bawahnya menahan ucapannya, dia sangat bingung akan keputusan Louis, "Bagaimana hubungan kita kelak?" lirih Vanya dengan suara lesu.


Louis tertawa kecil dan memeluk Vanya, "ternyata kamu mengkhawatirkan kita.." sahut Louis.


"Tentu saja" tukas Vanya sambil memukul ringan dada Louis.


"Vanya,aku berjanji akan memberimu dan anak kita.. kehidupan yang lebih layak! Kamu dan anak kita tidak akan kekurangan apapun! aku berjanji!" sahut Louis.


"Tapi..bagaimana?"


"Aku telah mendapatkan tawaran bekerja di tempat lain,Vanya.." sahut Louis dengan sengaja menyembunyikan tentang Luckas dan Lidya "karenanya aku mengundurkan diri.. Mereka berjanji akan memberiku lebih dari disini.."


"Kamu yakin?" tanya Vanya ragu.

__ADS_1


"Tentu saja,sayang.. tapi.." Louis terdiam sejenak "untuk bekerja disana,aku harus mengikuti pelatihan mereka terlebih dahulu.. aku takut kita akan jarang berjumpa untuk sementara waktu.. kamu tidak apa-apa?"


Wajah Vanya berubah muram, "dimana?"


"Washington.." Luckas dan Lidya telah memberitahunya jika Louis akan ke Washington untuk sementara waktu, mereka ingin Louis fokus mendapatkan pelatihan tentang perhotelan sebelum benar-benar terjun ke dalam lapangan.


Vanya menghela nafas, "baiklah.." sahutnya dengan muram.


"Vanya.. kamu mau menikah denganku?" sahut Louis.


Vanya membeku menatap Louis, seakan tidak mempercayai ucapan Louis.


"Bukan karena kamu mengandung anakku,Vanya.. tapi aku mencintaimu" lanjut Louis.


"Ta..tapi.. kita bahkan belum mengenal satu sama lain.." sahut Vanya bingung.


Louis tertawa kecil, "kita telah 'mengenal' satu sama lain kog.. dan si kecil dalam perutmu adalah buktinya"


Vanya kembali memukul dada Louis yang tengah tertawa, "aku serius,Louis!!


"Aku juga!! Aku lebih serius melebihimu!!" tukas Louis.


"Tapi mengapa aku? Ruby,dia jauh lebih baik dariku.. jika kamu tahu dia ada--"


Louis mengecup bibir Vanya "aku tidak ingin tahu siapa dia.. aku hanya ingin tahu tentangmu, tentang dirimu!! itu lebih dari cukup!"


Vanya tersipu, "Mengapa aku,Louis?"


Louis termenung, "jika memang kamu membutuhkan jawaban.. salah satunya itu karena kamu,Vanya dan aku,Louis.. inisial nama kita saja begitu cocok, LV!"


Vanya kembali menghujankan pukulan-pukulan di dada dan lengan Louis.


__ADS_1


__ADS_2