
We go fast with the game we play
Who knows why it's gotta be this way?
We say nothing more than we need
I say "your place" when we leave
•Rihanna-This is What you cam for•
#######
Wajah Eva memucat, dia tidak bisa mengelak lagi sekarang. Dengan refleks,dia membiarkan segerombolan pihak berwajib tersebut masuk kedalam kamar untuk mencari Freya dan juga menggeledah isi kamar. Eva melirik lemari kecil yang didekatnya, Eva sekarang hanya bisa berdoa jika mereka tidak memeriksa isi lemari ini.
"sir..saya menemukan gunting yang dipakai tersangka" sahut salah satu polisi yang berseragam sesaat setelah dia memeriksa di bawah kolong tempat tidur tersebut.
Detektif tersebut melirik Eva dan mendekatinya "Madam..kami sungguh tidak ingin mempersulit anda. Tapi jika anda dengan sengaja menyembunyikan tersangka,maka anda akan kami tahan sebagai kaki tangan tersangka juga"
Eva menatap detektif tersebut dengan wajah seputih kapas "a..aku...bi..biarkan aku menelepon suami saya terlebih dahulu.." ucapnya gugup, sekarang harapannya hanyalah suaminya. Kejadian ini telah diluar kuasanya,dia membutuhkan suaminya untuk mengurus masalah ini sebelum berlarut lebih jauh.
'klik'
__ADS_1
Semua mata menatap kearah suara tersebut, Freya berjalan keluar dari lemari itu. Penampilan Freya sungguh miris sekali, detektif tersebut hampir tidak mempercayai sosok Freya Green yang begitu mempesona berubah drastis seperti ini.
"saya disini.. jangan mempersulit ibu saya, detektif"
Eva berjalan didepan Freya "ti..tidak!! tidak!! tangkap saja saya.. saya yang bersalah.. jangan tangkap dia"
Freya menarik tubuh Eva pelan "sudahlah,mom..", Freya menatap detektif tersebut "jangan persulit ataupun menarik ibu saya,detektif.. saya mengakui semuanya dan semuanya saya lakukan sendiri tanpa bantuan siapapun!"
Air mata Eva mengalir "Freya!!! mama akan menghubungi ayahmu. Dia akan membantumu!! Mengapa kamu tidak sabar sebentar?"
Freya menggeleng "tidak perlu,mama.. detektif bawa saya segera" sahut Freya sambil menyodorkan kedua tangannya dihadapan detektif tersebut.
"Baiklah Miss Freya Green...anda,kami tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Miss Lidya Claresta. Anda punya hak untuk berdiam diri, dan apapun yang anda katakan bisa dipakai sebagai bukti di muka pengadilan untuk memberatkan kasus anda"
Eva menggeleng memohon, Freya berlutut dan menyeka air mata Eva "maafkan Freya atas semuanya,mama". Eva hanya menangis saat Freya digiring keluar oleh pihak berwajib. 'Hancur sudah duniaku..' lirih Eva.
#######
Di rumah sakit,
Lidya yang masih dalam pengaruh obat bius,dia tidak sanggup membuka matanya tapi samar-samar dia mendengar percakapan antara Luckas dan Martha "a..aku hamil??" ucap Lidya dalam hati.
__ADS_1
Ingin rasanya Lidya bangkit,menanyakan kepastian apa yang dia dengar,dia merasa tidak mempercayainya. Elusan lembut tangan Martha diperutnya membuatnya semakin meyakini apa yang telah dia dengar. Perasaan Lidya bercampur aduk.. rasa bahagia,cemas bercampur aduk. Dia tidak menyangka jika didalam dirinya telah memiliki janin..dan "aku akan segera menjadi ibu?" pekik Lidya dalam hati.
Keesokan paginya,
Luckas memilih duduk dan tidur disamping Lidya tanpa menyadari jika Lidya telah sadar dari mimpi panjangnya. Sesekali rasa nyeri di bekas luka menyerangnya,tapi Lidya menahannya dan berusaha tidak mengeluarkan suara yang bisa membangunkan Luckas. Lidya memandang sekelilingnya,sampai matanya berhenti di sebelah kanannya. Lidya tersenyum menatap Luckas,calon ayah dari anak dalam kandungannya. Perlahan dia menyentuh rambut Luckas, sentuhan lembut itu ternyata membangunkan Luckas dari tidur lelapnya. Lidya segera memejamkan matanya kembali,dia ingin sedikit bermain-main dengan Luckas.
Luckas yang baru saja terbangun dari tidurnya,menatap Lidya yang terlihat masih tertidur pulas "selamat pagi,sayang.." Luckas mengecup lembut kening Lidya "jangan tidur terlalu lama,Lidya..aku telah merindukan senyumanmu.." bisik Luckas, tangan Luckas mengelus lembut perut Lidya "selamat pagi juga,Daddy's little pumpkin". Diam-diam Lidya tersenyum geli melihat Luckas yang berbicara dengan perutnya,dan untungnya Luckas tidak menyadarinya.
Suara ketukan pintu membuat Lidya terpaksa melanjutkan 'sandiwaranya', terlihat sosok Edward melangkah masuk kedalam kamar VIP itu. Luckas yang tidak ingin meninggalkan Lidya, terpaksa menyuruh Edward mengantarkan berkas penting yang harus segera dia periksa,dan juga Luckas memintanya mengantar pakaian bersih untuknya. Serambi menunggu Luckas yang membersihkan dirinya di kamar mandi, Edward menata berkas-berkas tersebut diatas meja kecil yang berada di ruangan itu. Tidak lupa,Edward juga meletakkan secangkir americano yang dibelinya saat menuju rumah sakit tadi, Edward yakin Luckas pasti membutuhkan minuman itu.
Luckas berjalan keluar sambil menyeka rambut basahnya, aura maskulin dari diri Luckas semakin mencuat.. terkadang Edward sedikit merasa iri dengan ketampanan dan aura wibawa bosnya yang tidak dimilikinya.
"terima kasih,Edward.." sahut Luckas menatap berkas yang telah tertata rapi di meja dan secangkir kopi hangat. Edward mengangguk "sudah menjadi tugas saya,sir.." sambil berjalan keluar.
Selang beberapa lama kemudian, pintu kamar tersebut kembali terbuka. Luckas yang baru saja selesai memeriksa berkas-berkas tersebut,terkejut saat melihat sosok-sosok yang berjalan masuk kedalam kamar itu.
"Mom? Dad?" Luckas terdiam sejenak saat menatap.."grandma??"
__ADS_1