Hotel Prince

Hotel Prince
Burning


__ADS_3

I've been burning, yes, I've been burning


Such a burden, this flame on my chest


No insurance to pay for the damage


Yeah, I've been burning up since you left


•Sam Smith•



Luckas mengetuk pintu kantor Elena, dan masuk ke dalamnya. Dia mendapati wajah Elena yang terlihat muram.



"maafkan aku,Luckas..Pekerjaanku yang begitu menumpuk sehingga membuat anda menunggu begitu lama" sahut Elena dengan nada penuh penyesalan.



Luckas tersenyum "tidak masalah,Elena"



"silakan duduk,Luckas.."



"terima kasih,Elena.. semoga aku tidak terlalu mengganggu pekerjaanmu.."



"ohh..tidak..tentu tidak.." sahut Elena "dan..mengapa anda ingin menemuiku,Luckas?"



Luckas menatap Elena datar "bukankah kau sepertinya sudah tahu maksud kedatanganku?"



Elena terkejut,tatapan Luckas membuatnya menelan salivanya dengan susah payah "mak..maksud anda?"



"katakan padaku dimana Lidya,Elena?"



Seketika wajah Elena berubah muram,sekilas terbesit perasaan sedih dan kecewa dari matanya "Lidya.. seharusnya aku yang bertanya pada anda,Luckas.."



Luckas mengerutkan keningnya.



"Beberapa hari yang lalu,Lidya tiba-tiba berhenti kerja..bahkan dengan tanpa alasan yang jelas. Dia bahkan tidak menghiraukanku yang memohonnya untuk mengurungkan niatnya.." lirih Elena.


__ADS_1


"a..apa??!!"



"dan aku bahkan tidak bisa menghubunginya ataupun Louis.. aku bahkan mencari mereka di rumah mereka,namun sia-sia.."



Jantung Luckas berdetak kencang, wajahnya pucat seketika.



"sebenarnya aku sedikit kecewa dengan Lidya yang tiba-tiba memutuskan hubungan sepihak begitu padahal aku begitu menyayanginya.." lanjut Elena dengan wajah mulai terlihat sedih, dia berakting cukup mengesankan..layak untuk piala Oscar (sepertinya?).



"ka..kamu tidak sedang membohongiku,bukan?" tanya Luckas gugup,dia tidak menyangka ketakutan menjadi kenyataan..Lidya kembali menghilang, meninggalkannya seperti tiga tahun yang lalu. Luckas menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangannya,dia terlihat gelisah dan putus asa.



"untuk apa aku membohongimu,Luckas? Aku sendiri menjadi '*korban*' yang ditinggalkan Lidya..anda bisa lihat sendiri kerjaan yang menumpuk di mejaku.." sahut Elena sambil menunjuk kearah mejanya yang dipenuhi berkas.



Kedua kaki Luckas lemas seketika, wajahnya terlihat pucat. Tanpa basa basi permisi pada Elena,Luckas berjalan keluar dari ruangan Elena.



Sepeninggalan Luckas,Elena meraih telepon genggamnya dan segera mengirim pesan pada Louis.


"Mission Clear!"



"Lidya.." lirihnya "Apakah kamu tidak bisa memberiku kesempatan kedua?? Apakah kamu begitu susah untuk memaafkanku??" isaknya "aku..aku.. semua gara-gara Dora!!!" pekiknya. Dia mengemudikan mobilnya melebihi batas kecepatan normal menuju ke suatu tempat,dimana yang menjadi sumber permasalahan mereka dimulai.



Perumahan Lincoln,



Wajah Luckas terlihat begitu menakutkan, para pelayan rumah mereka yang melihat Luckas,sontak semua menundukkan kepala karena wajah Luckas yang begitu mengerikan.



"Mana grandma?" tanya Luckas dengan suara datar namun mengerikan.



"ma..madam ada di ka..kamarnya.." jawab salah satu pelayan tersebut dengan gugup.



Luckas melihat sekelilingnya dan menemukan beberapa tongkat golf kesayangan Arthur yang terpajang rapi di dalam tas stik golf. Luckas mengambil sembarang sebuah tongkat yang ada. Dia berjalan menuju kamar Dora yang berada di lantai dua.



Dari kejauhan, Steward yang diam-diam melihat gerak gerik Luckas yang mencurigakan..dia bergegas berlari menuju ruang kerja Arthur. Steward tahu jika Arthur tengah berada di ruang kerjanya. Tanpa mengetuk pintu,Steward langsung masuk kedalam ruangan tersebut dan membuat Arthur kebingungan.

__ADS_1



"apakah kamu melihat hantu,Steward?? kamu hampir terlihat seperti akan menembus dinding!" tukas Arthur yang masih berkutat dengan berkas di mejanya.



Wajah Steward terlihat pucat dan gugup "anda dapat menghukumku nanti,sir.. tapi sepertinya anda harus segera ke kamar madam Dora!"



"apa maksudmu?!"



"Tuan muda datang kesini tapi wajahnya terlihat begitu mengerikan dan dia menuju ke kamar madam sambil membawa---" Steward terdiam.



"Ya ampun,Steward?! lanjutkan!!"



"..membawa tongkat golf anda,sir.."



Arthur terkejut,dia langsung bangkit berdiri dan berlari menuju kamar Dora.



di sisi lain..


Luckas masuk kedalam kamar Dora dengan wajah yang penuh murka. Dia memang sangat murka pada neneknya itu,dia tidak mengerti mengapa nenek kandungnya sendiri begitu merusak kebahagiaannya.


Dora yang baru saja terbangun dari tempat tidurnya dan baru saja menyeruput segelas air putih yang berada dekat tempat tidurnya.


Dia menatap Luckas yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya tanpa menyadari sebuah tongkat golf yang disembunyikan Luckas di belakang tubuhnya.


Dora bahkan hanya melirik sekilas saja cucunya itu "ada apa kamu kesini malam-malam begini,bahkan masuk ke dalam kamar grandma?"


Luckas tertawa dan berjalan mendekati meja rias milik Dora "grandma? sejak kapan aku memiliki grandma?"


Dora menatap tajam pada Luckas "kamu datang kesini tengah malam hanya untuk bertengkar pada grandma lagi? Apa karena masalah Lidya,lagi?!" sahut Dora dengan menekan kata 'lagi' pada Luckas.


Luckas kembali marah saat Dora menyinggung nama Lidya "Benar!!" bentak Luckas "dan aku sangat menyesal, menuruti keinginan kalian untuk membawa Lidya kembali kesini dan mendengarkan ocehan omong kosongmu itu!!" bentak Luckas.


"kamu--!!"


Luckas menghempaskan tongkat golf tersebut begitu kuat kearah cermin yang ada di meja rias tersebut, dalam seketika suara pecahan kaca memenuhi seluruh ruangan dan seisi rumah. Dora tersentak,wajahnya pucat saat melihat luapan amukan cucunya sendiri.




author: dukung terus **Hotel Prince** ya🙏.


jangan lupa vote terus guys❤️


thank you

__ADS_1


__ADS_2