Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Beijing


__ADS_3

Enam bulan yang lalu, Perusahaan Lee's Ship,Beijing.


Jangka waktu dua bulan sejak kedatangan Vanya di Beijing,perlahan Vanya mulai dapat beradaptasi dengan pekerjaan dan lingkungan kerja barunya di Beijing. Selama itu juga,perlahan Vanya terlihat mulai bisa melupakan masalahnya dengan Louis. Dan juga,dia secara perlahan mulai dapat membuka diri untuk Peter yang tidak berhenti memberinya perhatian dan kasih sayang.


Walau Vanya tidak secara langsung menerima Peter,tapi keduanya terlihat akrab satu sama lain. Bahkan pegawai dan rekan kerja mereka mengira jika keduanya telah berpacaran.


Setelah Vanya berada di Beijing,seakan itu menjadi kesempatan emas untuk Peter mendekati Vanya. Seseorang yang tengah terluka lebih mudah untuk didekati, bukan?. Dan bagi Vanya yang baru berada di Beijing,belum mengenal siapapun, hanya Peter satu-satunya yang menjadi sandarannya.


Dalam waktu empat bulan,Vanya semakin dekat dengan Peter. Sore itu, Peter mengajak Vanya untuk makan malam bersama..makan malam yang lebih istimewa dari biasanya,Peter ingin mengajak Vanya untuk menjadi kekasihnya. Dengan bantuan asistennya,Peter berhasil memesan salah satu restoran barat yang terkenal di Beijing,lengkap bersama seratus tangkai bunga mawar merah untuk menjadi kejutan buat Vanya.


"Vanya..bagaimana jika malam ini kita makan malam bersama?. Aku menemukan restoran yang sangat enak dan ingin mengajakmu ke sana" ketik Peter di layar ponselnya. Selesai mengirim pesan pada Vanya,Peter berjalan masuk ke dalam kantornya dengan wajah yang terlihat begitu gembira. 'Hari ini akan menjadi hari terbaik dalam hidupku!' gumam Peter dalam hati. Dia sangat optimis jika Vanya akan menerimanya kali ini. Sejak kejadian yang menimpa Vanya,Peter semakin tulus mencintainya.


Peter membuka pintu kantornya sambil membaca pesan balasan dari Vanya yang menyetujui ajakannya.


"Hao xiang wo de ge ge hen kai xin (sepertinya abangku sedang berbahagia)", Peter menatap ke sumber suara dengan wajah yang langsung berubah muram.


"Apa yang kamu lakukan di sini?!" sahut Peter sinis.


Ruby tersenyum sambil merapikan baju berkerah berwarna dusty pink, "aku? tentu saja ingin melihat abangku" sahut Ruby.


Peter berjalan mendekati sofa yang berada di depan adiknya itu, Peter semakin menjauh dari Ruby sejak kejadian yang menimpa Vanya. Bahkan tidak jarang Peter mengacuhkan telepon dan pesan dari adik perempuannya itu, "pulanglah.. bukankah kamu harus mengurus perusahaan di New York?".


Ruby tersenyum sinis, "tentu.. tapi tidak sebelum aku bertemu dengan wanita itu!!"

__ADS_1


"Untuk apa kamu menemuinya?!" pekik Peter.


"Aku tidak ingin dia terlihat bahagia!! Jika aku saja tidak mendapatkan apa yang aku inginkan,maka dia juga!!" balas Ruby dengan suara tidak kalah besar


"Ni you bing! (kamu gila)" bentak Peter.


Ruby tertawa sinis, "dan begitu juga denganmu,ge ge! Setelah dengan apa yang kamu rencanakan dulu,mengapa malah kamu yang mendapatkan apa yang kamu inginkan?"


Peter menatap Ruby dengan tajam, "tutup mulutmu!"


"Mengapa? kamu takut ada yang mendengarnya?!" tukas Ruby, "kamu pikir aku tidak tahu jika kamu terlihat bersenang-senang dengan wanita itu di sini??? Sedangkan aku? Aku kehilangan Louis!! Dia bahkan telah pergi dari New York,dan aku bahkan tidak tahu dimana dia saat ini!!" pekik Ruby.


"Itu bukan salahku!"


"Diam!"


"Dan kamu juga yang berpura-pura memberitahu Vanya secara tidak langsung supaya dia memergoki kami!!"


"Diam!!"


Ruby tertawa sinis, "dan sekarang kamu berpura-pura menjadi malaikat setelah apa yang menimpa wanita itu! Padahal apa yang menimpanya,semua itu juga karena kamu!!"


"Diam kataku!!" bentak Peter sambil mendekati Ruby dan menutup mulutnya.

__ADS_1


Pintu ruangan Peter terbuka, Vanya berdiri mematung setelah mendengar apa yang baru saja di dengarnya di depan pintu tadi.


Wajah Peter sontak memucat, menatap Vanya.


"Va..Vanya?" sahut Peter terbata-bata.


Wajah Ruby terlihat tersenyum penuh kemenangan, menikmati hasil yang atas apa yang baru saja dia perbuat.


Vanya menatap Peter dengan wajah penuh kekecewaan, "te..ternyata semua ulahmu??"


Peter bergegas mendekati Vanya, "tidak..tidak..jangan kamu dengar perkataan Ruby.. Aku bisa menjelaskannya padamu"


Vanya berjalan mundur,menghindari sentuhan tangan Peter yang ingin memegang tangannya, "a..aku begitu bodoh.. Berada di sini karena kalian! Membenci Louis selama beberapa bulan ini,bahkan berulang kali aku mengutuk dan memakinya tiap doaku!"


Ruby hanya tersenyum sinis dan mengangkat kedua bahunya, "bukan salahku jika kamu yang terlalu bodoh!"


"Diam kau!!" bentak Peter pada adiknya.


Vanya melangkah mundur,dan berlari pergi meninggalkan Peter dan Ruby. Dia yang awalnya ingin menemui Peter supaya bisa berangkat bersama-sama ke restoran yang dikatakan Peter,tapi semua berakhir dengan dia yang mendengar pembicaraan kedua kakak adik itu.


"Vanya!!" pekik Peter, dia berbalik dan menatap Ruby, "aku belum perhitungan denganmu!" sahut Peter sambil berlari mengejar Vanya.


"Kamu yang mengajarkanku,ge ge.. "Jika aku tidak bisa mendapatkannya,maka aku akan menghancurkannya".. dan karena aku tidak bisa mendapatkan Louis,maka begitu juga denganmu,Peter.." sahut Ruby sambil meraih handbagnya dan berjalan meninggalkan ruangan Peter dengan penuh kemenangan.

__ADS_1



__ADS_2