Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Pertukaran pegawai


__ADS_3


"A..apa?!"



Mr.Zhang menghela nafas "kamu akan di beri akomodasi tempat tinggal,Vanya.. dan hanya dua tahun saja. Setelahnya kamu bisa memilih untuk tetap berada disana atau kembali ke New York" sahut Mr.Zhang cepat.



Vanya membisu, ini terlalu tiba-tiba baginya untuk menerima pembicaraan Mr.Zhang. Mr.Zhang menatap Vanya yang mematung.



"Dan ini bukan memecatmu,Vanya. Ini semua murni karena pilihan pihak perusahaan sendiri. Jadi kamu jangan berpikiran buruk terlebih dahulu" jelas Mr.Zhang kembali.



"Dan apa yang menjadi syaratnya? Mengapa perusahaan memilihku?!" sahut Vanya datar.



"Ti..tidak.. mereka hanya memilih pegawai yang berkompeten,mandiri dan pekerja keras.." jelas Mr.Zhang gugup.



Vanya kembali membisu, berbagai pikiran berputar di kepalanya. Satu sisi,ini merupakan kesempatan baik baginya dan calon anaknya, ditambah dia tidak perlu melihat wajah Louis dan Ruby,lagi. Di sisi lain, dia tidak yakin akan harus pindah ke negara lain dan tidak akan bertemu Louis,lagi.



"Ka..kamu tidak perlu menjawabnya sekarang,Vanya. Perusahaan memberimu waktu satu minggu.. dan kamu bisa memberi kami jawaban setelahnya. Hanya,jika bisa..kami mengharapkan jawabanmu secepatnya"



"Baiklah..saya mengerti.. terima kasih sebelumnya karena telah memilihku,Mr.Zhang" sahut Vanya.



Dua hari kemudian, tanpa sengaja Vanya bertemu dengan Peter di taman atap perusahaan. Vanya hanya memberi senyum datar pada Peter tanpa berniat berbincang-bincang padanya. Dan Vanya memilih meninggalkan tempat itu setelahnya.


"Kamu..akan menerimanya bukan?" tanya Peter tiba-tiba.


Vanya berbalik menatap Peter dengan bingung "anda..berbicara denganku?"


Peter tersenyum "tentu saja.. tidak ada orang lain selain kita berdua,bukan?"


"Oh.." sahut Vanya singkat.

__ADS_1


"Kamu akan menerimanya,kan?"


Vanya mengerutkan keningnya "apa maksudmu? menerima apa?"


Peter mendekatinya "menerima tawaran perusahaan untuk ke Beijing.."


Vanya terdiam sejenak,lalu menatap Peter tajam "jangan kamu katakan jika ini semua adalah idemu?"


Peter tertawa kecil "antara ya dan tidak.."


"Jangan berbelit-belit begitu!"


Peter mendekati Vanya begitu dekat,sampai Vanya memalingkan wajahnya melihat tempat lain "aku.. tertarik padamu!!"


Mendengar perkataan yang mengejutkan, membuat Vanya refleks menatap Peter sehingga membuat wajahnya semakin dekat dengan wajah Peter, Vanya mendorong Peter namun Peter tidak bergeming "cari wanita lain untuk mainanmu!! Aku sibuk!!"


Peter mengerutkan keningnya "jangan menganggapku pria playboy,Vanya.. Hanya kamu bisa membuatku menginginkanmu"


"Tapi tidak denganku!! Jika seperti itu,maka aku akan menolak ide bodohmu!" sahut Vanya sambil mendorong Peter lebih kuat.


"Vanya.. aku mohon!! aku serius akan ucapanku!!" sahut Peter.


Vanya tersenyum sinis "aku tidak yakin kamu akan serius jika aku mengatakan aku sedang hamil,bukan?!" serunya sambil menjauhi Peter.


Peter menarik tangan Vanya yang hampir melarikan diri darinya, "Vanya.."


Peter menggenggam lebih keras tangan mungil Vanya,hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Lepaskan dia!!!" terdengar suara Louis yang seketika mengheningkan keduanya.


Louis mendekati keduanya dan menepis tangan Peter. Vanya menatap Louis mematung, Peter menatap Louis dengan murka, "siapa kamu?!"


Louis membalas tatapan Peter "aku? sepertinya aku tidak berkewajiban menjawab pertanyaan anda!"


"Kamu tidak mengenalku! Aku memerintahmu harus menjawabku!" seru Peter.


Louis tertawa sinis, "dan aku menolak perintahmu!"


"Sepertinya kamu sudah bosan bekerja di sini!" sinis Peter.


Vanya menarik tangan Louis dan menggelengkan kepalanya. Vanya tidak ingin memperpanjang hal ini, Louis menatap Vanya seakan mengerti maksud Vanya. Dia pun menarik Vanya pergi secepatnya dari Peter. Melihat Vanya dan Peter berduaan saja mampu membuat seorang Louis yang masa bodoh menjadi murka.


Peter mengepal kedua tangannya, "aku tidak percaya apa yang baru saja kamu katakan padaku!!!" pekik Peter.



Louis menarik Vanya dengan kasar menuju tangga darurat, dia tidak ingin ada yang melihat mereka berdua, atau lebih tepatnya..Louis tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1



Louis menahan tubuh Vanya di dinding yang terasa dingin di punggung Vanya. Vanya bahkan tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya, dia tidak berani melihat wajah Louis yang tengah murka dan seakan sanggup menelannya begitu saja. Vanya hanya bisa menunduk bagaikan anak kecil yang sedang di marahi.



"Tatap aku!" sahut Louis dingin.



Dengan mengumpulkan keberaniannya,Vanya menatap Louis. Dia bahkan meratapi dirinya, dirinya dulu yang begitu menjauhi masalah dan juga yang namanya pria. Sekarang harus dihadapkan oleh Louis dan Peter, "un..untuk apa kita disini?" tanya Vanya gugup.



Louis menatap tajam kedua mata Vanya, "aku masa bodoh dengan siapa pria yang baru saja bersamamu!!! Aku tidak peduli!!"



"Jadi?! Mengapa kamu membawa dan menahanku disini?!" tukas Vanya.



"Aku mendengar ucapanmu!!" sahut Louis, diiringi tatapan bingung dari Vanya, "jelaskan padaku sekarang!! Apakah anak yang ada dalam kandunganmu adalah milikku?!" tanya Louis.



curcol author:


loha again~~~


btw, author hanya ingin promoin novelku yang lain..


"Still Holding On"


jangan lupa mampir dan like2nya❤️


moga novel baruku tidak kalah seru dan menghibur kalian semua🙏


Once more, maaf kalo belum bisa upload banyak2.. maklum emak yg mesti ngurus anak🥴


oh ya, senang banget bisa baca komen yang selalu menyemangatiku seperti reader yang satu ini..



doa dan komennya membuatku makin semongko.. thank you,darling❤️


dan lagi, thank you all readers!! stay safe dan big hug 😍

__ADS_1


__ADS_2