Hotel Prince

Hotel Prince
Good time


__ADS_3

Good morning and good night


I wake up at twilight


It's gonna be alright


We don't even have to try


It's always a good time


•Adam Young,Carly Rae Jepsen,Owl City•



Martha menghela nafas,perasaan gembiranya sekarang sirna. Dia lupa akan rasa sakit yang pernah di beri Dora pada anaknya,dan dia terlalu naif mengira Luckas akan dengan senang hati menerima keputusan ini dan menuruti keinginan neneknya yang pernah menyakitinya begitu dalam.


"Mom tidak memaksamu.. Jika kamu merasa keberatan karena Dora, bagaimana jika mom yang memohon pada kalian? Anggaplah semua ini demi mom,Luckas.. Mom begitu gembira saat mendengar perkataan Dora dan apakah kamu tega menghancurkan harapan mom yang menginginkan keluarga ini utuh kembali?" lirih Martha.



Kali ini Luckas menghela nafas, ibunya tahu akan kelemahannya "baiklah,mom.. Kamu tahu akan kelemahanku. Aku akan mencoba membicarakan ini dengan Lidya,dan aku belum bisa menjanjikan apa-apa pada mom".



Martha tersenyum,dia terpaksa memakai dirinya untuk memohon pada Luckas. Di satu sisi,dia menginginkan keluarganya kembali utuh..disisi lain,dia tidak ingin Dora yang mulai terbuka akan terluka dengan penolakan cucunya. "Baiklah,Luckas.. Mom akan menunggu jawaban kalian"



Setelah menutup telepon dari ibunya,Luckas termenung. Dia tidak yakin Lidya akan menerima hal ini,mengingat perlakuan Dora padanya tiga tahun yang lalu.



Hari demi hari..


Minggu demi minggu..


Tidak sedikitpun Luckas membicarakan tentang permintaan Dora pada Lidya,tentu tidak untuk saat ini. Dia tidak ingin memperkeruh hubungannya dengan Lidya lagi.

__ADS_1


Dan hingga akhirnya Louis kembali ke New York. Kembalinya Louis,membuat Lidya bernafas lega. Walau selama ini,Luckas banyak membantu Lidya dalam menjaga Ayles. Tapi Lidya sangat bersyukur saat melihat Louis yang kembali dan bisa membantunya menjaga Ayles kembali.


"Hapus air matamu,Lidya!! Kau membuatku geli melihat wajahmu yang ingin menangis!!" pekik Louis saat melihat Lidya yang seakan terharu melihat kembalinya dirinya.


"oh..adikku sayang.. kakakmu sungguh merindukanmu!!" sahut Lidya sambil berlari kecil mendekati Louis dan ingin memeluknya.


Dengan cepat Louis menghindar kakaknya yang terlihat aneh itu "Sepertinya aku salah rumah..." sahutnya.


Lidya tertawa "ishh..segitunya kamu dengan kakakmu ini!! Aku serius loh merindukan adikku yang ganteng ini!!"


Louis memeluk Ayles yang begitu dirindukannya "ya ampun.. Aylesku sayang..." pekik Louis tanpa menghiraukan kakaknya.


Ayles tertawa dalam pelukan pamannya "angkellllll"


Mulut Lidya seketika memanjang keluar "okay..sepertinya aku yang salah rumah kali ini.. Kalian berdua bagaikan tidak bertemu selama bertahun-tahun.


Louis tertawa "tentu saja..aku begitu merindukan bandit kecil ini.. oh ya,Ayles..grandma dan grandpa ada membelikanmu hadiah yang begitu banyak"


Mata Ayles berbinar-binar mendengar kata hadiah "Holeeee"


Louis menurunkan Ayles dan membuka kopernya yang terlihat penuh oleh mainan-mainan yang sontak membuat Ayles sibuk bermain dengan mainan barunya. Lidya menatap isi koper Louis "Bagaimana dengan hadiahku?"


Lidya memutar kedua bola matanya "lebih sayang cucu daripada anaknya sendiri.." gumam Lidya pelan.


"apa yang kamu katakan??" tanya Louis yang tidak mendengar jelas perkataan Lidya.


"tidak..tidak ada" sahut Lidya cepat.


Louis menatap Lidya lekat "bagaimana dengan asisten penggantiku?"


"ha? asisten apa?" tanya Lidya dengan bingung.


"tentu saja kakak iparku" sahut Louis sambil tersenyum lebar.


Lidya melotot "sejak kapan kalian berdua saling kenal dan bahkan aku merasa kalian begitu dekat?"


Louis tertawa "tentu saja..aku bahkan telah menceritakan kebiasaan-kebiasaan burukmu padanya"

__ADS_1


Lidya mengangkat frying pan yang ada di tangannya dan mengejar Louis yang bergegas masuk kedalam kamarnya dan tertawa begitu keras.


"Awas kau,Louis Claristo!!!" pekik Lidya sambil kembali ke dapur untuk memasak makan malam mereka. Frying pan yang awalnya ingin dipakainya,malah menjadi 'senjata' untuk adiknya.



Hari minggu ini, Lidya ingin mengajak Ayles keluar jalan-jalan seperti biasanya, tapi Louis bergegas menahannya. Dan tentu membuat Lidya bingung akan perilaku adiknya itu, dimana biasanya hari minggu..Louis selalu keluar bersenang-senang bersama temannya atau lebih memilih untuk menikmati waktunya sendiri dirumah.



"Kamu sedang demam?" tanya Lidya heran "biasanya hari minggu gini,kamu selalu molor tidur seharian dirumah dan kamu sendiri yang bilang kalau hari minggu kamu '**bebas** *tugas*' dari Ayles?"



Louis tertawa "ihhh..sejak kapan aku molor seharian.." bantah Louis "aku terlalu merindukan Ayles..sampai membuatku ingin menghabiskan hari minggu ini dengannya.. tapi sepertinya,kakakku keberatan dengan tawaranku ini.." sahut Louis sambil melirik Lidya.



"hei..hei..tentu saja aku dengan senang hati mengabulkan permintaanmu,sir Louis Claristo.. kamu terlihat begitu merindukan keponakanmu,maka aku terpaksa mengizinkanmu hari ini bermain sepuasnya seharian dengan Ayles..." sahut Lidya "dan akhirnya aku dapat dengan tenang beristirahat di tempat tidurku yang empuk hari ini"



Saat Lidya berjalan ingin masuk ke dalam kamarnya,Louis menyodorkan sebuah tiket bioskop padanya.



Lidya menatap tiket itu dengan kebingungan "apa ini?"



"tiket-lah..bukan struk belanja"



Lidya memutar kedua bola matanya "ya tentu aku tahu..yang aku maksud..untuk apa?"


__ADS_1


"ya nontonlah.." sahut Louis.



__ADS_2