
But the night was warm
We were bold and young
All around the wind blows
We would only hold on to let go
Blow a kiss, fire a gun
We need someone to lean on
Blow a kiss, fire a gun
All we need is somebody to lean on
•Major Lazer & Dj Snake•
Luckas terbengong, saat melihat orang yang membukakan pintu bukanlah Lidya,melainkan Louis. Begitu juga Louis yang kebingungan saat melihat sosok pria yang di depannya.
"anda..?" Louis mencoba mengingat wajah yang sepertinya tidak asing di pikirannya.
"Halo..bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?" sapa Luckas.
"ah..ya..ya..ya..anda yang di party kemarin,bukan? yang menemukan Ayles.." sahut Louis antusias seperti berhasil menebak pertanyaan kuis.
Luckas tertawa "benar sekali,Louis.. dan akhirnya kita bisa bertemu kembali.."
"tapi..bagaimana anda bisa tahu alamat saya?" tanya Louis keheranan.
"jangan salah paham,Louis. Saya kemari untuk bertemu Lidya.."
"Lho..anda mengenal Lidya?"
Luckas mengangguk "tentu saja..dan saya juga baru tahu jika ternyata ibu Ayles adalah Lidya.."
"Lidya belum pulang.. mungkin sebentar lagi. Apakah anda ingin masuk dan menunggunya didalam?" tawar Louis.
"boleh jika diperbolehkan.." sahut Luckas.
__ADS_1
"tentu saja..ayo masuk.."
Luckas masuk kedalam dan duduk di sofa. Louis meletakkan segelas air putih diatas meja untuk Luckas. Luckas melirik sekeliling rumah seakan mencari sesuatu.
"Ayles-" sahut Luckas.
"Ayles sedang tidur.." sahut Louis yang duduk berhadapan dengan Luckas.
Setelahnya keduanya kembali terdiam,suasana canggung begitu terasa diantara mereka berdua. Luckas yang pernah merasa cemburu pada Louis membuatnya menjadi begitu pendiam di hadapan Louis,walau Louis tidak tahu akan hal itu.
"mmm..maaf.." suara Louis memecahkan keheningan "jika boleh tahu,apa hubungan anda dengan kakak saya?"
Luckas tersenyum "saya ayah dari Ayles"
Louis membeku seketika saat mendengar kalimat itu.
"saya ayah dari Ayles dan juga kekasih Lidya.." lanjut Luckas.
"Aku tidak tahu apa yang telah dikatakan Lidya tentang aku.. tapi,percayalah.. aku sangat mencintainya. Tiga tahun yang lalu,dia pergi dan menghilang begitu saja..membuatku hampir gila karena mencarinya" sahut Luckas.
"tidak ada yang dia katakan tentang anda,Luckas. Malah dia tidak pernah dan tidak mau bercerita mengenai anda.."
Luckas tersenyum getir, dia tidak tahu harus sedih atau gembira mendengar perkataan Louis. Yang mana berarti, setelah pergi darinya..Lidya tidak ingin membicarakan tentang dirinya lagi.
"ah..pantes saja Ayles begitu lengket padamu!" sahut Louis saat teringat pertemuan mereka pertama kali.
Luckas tertawa "mungkin Ayles telah mengetahui siapa saya sebelumnya"sahut Luckas diiringi anggukan kepala Louis.
Setelahnya keduanya kembali terdiam,suasana canggung kembali mengisi ruangan itu. Luckas meneguk habis air yang ada di dalam gelasnya, suasana canggung ini membuatnya ingin minum walau dirinya tidak merasa haus.
"Jadi.." suara Louis kembali memecahkan keheningan "walau statusku hanyalah adik Lidya,tapi.. aku ingin meminta satu hal padamu,Luckas"
__ADS_1
Luckas menatap Louis yang terlihat serius.
"Aku tidak tahu jelas tentang apa yang terjadi dimasa lalu kalian. Tapi,jika memang kamu serius ingin kembali pada kakakku,aku tidak keberatan..hanya saja aku minta..jangan sakiti dia lagi. Aku sungguh salut melihatnya begitu tegar dan kuat selama ini, tapi aku salah.. di balik ketegarannya,dia selalu menangis sendirian tiap malam.. dan aku sangat sedih melihatnya" sahut Louis "karena itu,Luckas.. aku mohon jangan pernah membuatnya menangis lagi"
"Kamu bisa percaya padaku,Louis!" sahut Luckas dengan tegas.
Louis mengangguk,tidak tahu mengapa melihat Luckas membuatnya merasa jika Luckas sangat bisa diandalkan.
"Oh ya.. satu hal lagi,Luckas.." lanjut Louis "bisakah bantu aku untuk menjaga Lidya dan Ayles? Selama liburan ini,aku akan pulang ke Lexington,dan aku sedikit khawatir meninggalkan Lidya dan Ayles.. tapi sepertinya sekarang aku bisa sedikit lega.. "
"Dengan senang hati, Louis.. Kamu dapat merasa tenang selama di Lexington" Luckas melirik jam dinding yang tergantung di dinding ruang tamu Lidya "sepertinya Lidya akan pulang terlambat malam ini"
"Dia selalu seperti ini.. selalu lupa akan waktu jika telah sibuk dengan pekerjaannya" sahut Louis sambil memutar kedua bola matanya.
Luckas tertawa "sepertinya aku harus kembali terlebih dahulu.." sahut Luckas "dan..bisakah merahasiakan kedatanganku pada Lidya?"
Louis tertawa "tentu saja,Luckas. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu"
"oh ya..bagaimana jika sesekali kita keluar bersama-sama? tentu saja..aku ingin menaktirmu makan.." ajak Luckas sebelum melangkahkan kakinya keluar dari pintu.
"tentu saja aku akan dengan senang hati menerimanya,Luckas.. dan itu akan sangat menyenangkan" balas Louis.
Luckas menyodorkan kartu namanya "hubungi aku saat kamu kembali,Louis. Aku berhutang padamu telah membantuku menjaga Lidya dan Ayles"
Louis tersenyum.. Luckas berjalan dan masuk kedalam mobilnya. Louis menatap kartu nama pemberian Luckas.
'**LUCKAS RYANS'
CEO OF THE KINGDOM HOTEL**
Kedua kaki Louis terasa lemas seketika '*Ya Tuhan..ayah kandung Ayles adalah Luckas Ryans*??!!'
__ADS_1