Hotel Prince

Hotel Prince
Missing You


__ADS_3

Stop being so obvious


Because the world was always dark


(you heard what I said)


How can you smile so brightly? (what?)


But looking closely, I see your face is sad


I know I’ve been there before


•2ne1•


~~`


Akhirnya Luckas bernafas lega saat mendengar jawaban pria itu,dia mengenal Lidya!! Luckas mencoba tetap terlihat tenang,menutupi rasa gembira yang hampir tidak bisa dibendungnya.


"Bisa saya bertemu dengannya? Saya adalah teman dekatnya" Luckas berbohong,dia tidak ingin berterus terang terlebih dahulu. Luckas takut jika Lidya akan pergi saat mengetahui jika dia mencarinya.


"Tapi..Miss Lidya baru saja pindah tugas ke kota New York,sir..atau apakah ada hal yang penting,mungkin kami bisa membantu anda menyampaikannya" sahut pria itu.


Luckas tidak sanggup menutupi perasaan kecewanya. "apakah memungkinkan jika saya meminta nomor teleponnya?"


Sedikit terkejut dengan pertanyaan Luckas,namun pria tersebut tetap mencoba meladeni Luckas dengan profesional dan ramah "saya sungguh minta maaf,sir.. kami tidak bisa memberikan data pribadi beliau pada anda.. namun,bagaimana jika anda memberikan nama dan nomor telepon anda? kami akan menyampaikannya pada beliau"


Luckas menggeleng "tidak..tidak apa". Memberikan namanya pada Lidya,sama saja seakan memberitahu Lidya jika Luckas hampir telah menemukannya. Dan hanya memikirkan Lidya yang kembali menjauh lagi darinya membuat Luckas lemas.

__ADS_1


"Baiklah,sir.. ini kartu kamar anda,sir.. anggota kami akan membantu dan mengantarkan anda pada kamar anda..terima kasih,sir.. semoga anda memiliki waktu yang indah disini" sahut pria itu ramah sambil memberi kode pada salah satu bell boy mereka.


Luckas mengikuti bell boy tersebut masuk kedalam lift dengan langkah yang terlihat tidak bertenaga. Saat Luckas menoleh ke dinding lift,terlihat adanya foto Lidya di sana.


"The Best Manager"


Lidya telah memotong pendek rambut panjangnya,namun hal itu tidak mengubah kecantikannya. Dia terlihat menawan seperti tiga tahun lalu,tidak ada yang berubah. Luckas memandang foto Lidya dengan hati yang sangat pedih. Baru saja dia memiliki harapan mengenai keberadaan Lidya,dan sekarang dia dihadapkan oleh kenyataan pahit kembali.


"apakah kamu mengenal dia?" tanya Luckas pada bell boy yang berdiri disampingnya.


Pria tersebut tersenyum "tentu saja,sir. Beliau sangat ramah pada kami semua,sekalipun kami yang hanya sebagai bell boy atau cleanning service.. tapi beliau selalu mengingat nama kami dan ramah pada kami semua"


Tanpa sadar Luckas tersenyum bangga mendengar jawaban pria itu, 'benar..itu adalah Lidyaku!!' sahutnya dalam hati.


"apakah dia telah...menikah?" tanya Luckas perlahan.


Seakan disambar petir, jiwanya seakan menghilang dari dirinya begitu mendengar jawaban pria itu. Dia menatap foto Lidya yang tersenyum begitu cantik, namun terasa sakit di hati Luckas "Lidya..apakah kamu sungguh-sungguh telah berpaling dariku?" lirih Luckas dalam hati.



**Tiga tahun yang lalu**...



Setelah pergi dari kehidupan Luckas,Lidya sangatlah terpukul. Hidupnya bagaikan sebuah kapal kecil yang tengah berada di tengah lautan ganas,terombang ambing tanpa tujuan pasti. Dia memutuskan untuk tidak akan berhubungan dengan apapun yang menyangkut Ryans,dan termasuk dia harus kehilangan pekerjaannya.


__ADS_1


Terlintas di pikiran Lidya untuk pulang ke Lexington, kampung halamannya. Namun, mengingat kondisi dirinya yang tengah hamil,dia mengurungkan niatnya. Dia yakin kedua orang tuanya akan sangat kecewa padanya,terutama ibunya yang begitu mempercayainya. Lidya bertekad untuk berjuang sendiri.



Boston..



Tempat dimana Lidya memutuskan untuk memulai hidup barunya. Mencoba melamar di beberapa hotel namun hasilnya tetap nihil,akhirnya dia terpaksa melakukan kerja sambilan untuk memenuhi kehidupannya terlebih dahulu,tentu tidaklah mudah baginya memulai hidup baru dari nol dengan kondisi perut yang semakin lama semakin membesar.



Lidya mulai merasa putus asa dan terpuruk. Sering kali Lidya merasa ingin menyerah bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Namun, mengingat anak yang didalam perutnya membuat Lidya kembali ingin berjuang,karena sekarang dia bukanlah sendiri saja. Lidya mengelus perutnya lembut seakan mengingatkan dirinya untuk tetap tegar demi anak yang ada di dalam perutnya.



Keesokan harinya, seperti biasa Lidya berjalan-jalan pagi disekitar lingkungan tempat tinggalnya. Dengan kondisinya sekarang,Lidya memilih tinggal di kost kecil dan kumuh untuk membantunya lebih irit. Walau kostnya terlihat kumuh,namun lingkungan sekitaran kostnya sangatlah berbeda dengan kondisi kostnya yang terletak masuk kedalam gang kecil itu.



Jalan santai Lidya hari ini berakhir di salah satu mini market. Lidya selalu membeli sarapan roti kukus untuk mengisi perutnya,roti kukus favoritnya dan juga murah. Lidya melangkah di kasir untuk membayar rotinya tapi matanya terpaku oleh halaman koran yang melampirkan mengenai lowongan kerja di salah satu hotel DeParis.



Tanpa menunggu lama,Lidya segera mencoba melamar di hotel tersebut. Setelah berhenti dari hotel Ryans,Lidya begitu merindukan untuk bekerja di hotel kembali,tentunya lowongan kali ini tidak ingin Lidya sia-siakan.


__ADS_1


__ADS_2