Hotel Prince

Hotel Prince
When I was your man


__ADS_3

Now my baby's dancing


But she's dancing with another man


My pride, my ego, my needs, and my selfish ways


Caused a good strong woman like you to walk out my life


Now I never, never get to clean up the mess I made, oh


And it haunts me every time I close my eyes


•Bruno Mars•


.


Luckas memeluk Ayles yang memilih ingin di pangkuan Luckas daripada Lidya. Luckas merasa jika pemandangan yang sekarang,seperti sebuah mimpi baginya. Wanita yang dia cintai dan buah cinta mereka ada didepannya sekarang,dia begitu bahagia. Tidak menyangka jika hari ini menjadi kenyataan.



Luckas menyesali pertemuan pertamanya dengan Ayles, menyesal jika saja saat itu dia lebih sabar menunggu..maka saat itu juga dia bisa bertemu Lidya. Padahal tanpa sengaja, Ayles telah membantunya untuk segera bertemu dengan Lidya..namun Luckas menyia-nyiakan kesempatan itu.



Mengingat pertemuannya dengan Ayles,mengingatkan Luckas pada Louis. Luckas menelan ludah,menahan dirinya untuk bertanya pada Lidya..dia takut Lidya akan memberikan jawaban yang menyakitkan hatinya. Luckas tidak ingin merusak pertemuan pertamanya dengan Lidya.



"kamu terlihat menakjubkan sekarang,Lidya" puji Luckas.



Lidya hanya membalas dengan senyuman singkat, dia menatap Ayles yang begitu lengket dengan Luckas membuat hatinya luluh.. dia sadar jika pepatah darah lebih kental daripada air itu bukan hanya sekedar pepatah.



"Bagaimana mungkin kamu tega menyembunyikan anak kita dariku,Lidya? Selama tiga tahun ini aku hampir gila..mencarimu,merindukanmu..putus asa, kecewa,marah semua telah bercampur aduk. Aku membencimu tapi juga mencintaimu hingga mengalahkan rasa marahku padamu. Bahkan terlintas dipikiranku untuk memberimu pelajaran saat kita bertemu.." sahut Luckas pelan "tapi..sekarang setelah menemukanmu.. semua hilang,Lidya.. ternyata aku sungguh begitu merindukanmu"

__ADS_1



Lidya memalingkan wajahnya, dia tidak ingin menatap Luckas. Selama tiga tahun ini,tidaklah mudah menjadi orang tua tunggal..namun,hanya karena Ayles-lah dia berusaha tegar dan kuat. Dan sekarang pria di hadapannya membuat dirinya luluh dan merasa lemah.



"Bagaimana kabar mom?" tanya Lidya mencoba mengalihkan pembicaraan dan mencoba menenangkan dirinya.



"Dia begitu merindukanmu,Lidya.. dan juga dia begitu ingin bertemu dengan-" Luckas menatap Ayles terlihat mulai mengantuk dalam pelukan ayahnya, membayangkan Martha yang bertemu dengan cucunya..Luckas jamin Martha akan langsung jatuh hati dan menyanyangi cucunya ini.



"sampaikan salamku pada mom.." sahut Lidya.



"Lidya.." panggilan lembut Luckas yang menggetarkan hati Lidya. Panggilan lembut yang sudah lama tidak didengarnya, dan sekarang dengan begitu mudahnya meruntuhkan tembok yang telah dibangun Lidya di hatinya selama tiga tahun ini. "Selama tiga tahun ini..aku selalu menunggumu.. dan aku sangat berharap jika kita dapat bersatu kembali"




"semudah itu kamu melupakanku?" tanya Luckas getir.



"aku-" suara tangisan Ayles menghentikan pembicaraan sekaligus reuni antara pasangan ini. Lidya menatap Ayles dan menggendongnya "Ayles telah ngantuk..aku harus pulang,Luckas"



"Aku akan mengantar kalian" sahut Luckas.



"Tidak perlu,Luckas.." tolak Lidya

__ADS_1



Luckas terdiam,dia sadar Lidya telah membangun tembok diantara mereka "tapi..apakah kita akan bertemu lagi?" tanya Luckas "setidaknya biarkan aku bertemu dengan anakku,Ayles"



"Aku tidak akan melarang jika kamu ingin bertemu Ayles,Luckas.. Kita akan bicarakan hal ini lain kali..biarkan kami pulang terlebih dahulu..Ayles telah tertidur.." pinta Lidya.



Dengan berat hati,Luckas mengangguk dan hanya menatap Lidya yang menggendong Ayles dan keluar dari ruangan Elena.



Diam-diam dia mengikuti Lidya, sampai di depan hotel..Luckas melihat seorang pria yang sama yang dia temui saat pesta,membukakan pintu mobil untuk Lidya. Luckas menahan geram, dan sekarang dia sadar.. jika kehadiran pria itu lah yang menjadi tembok antaranya dengan Lidya.



Luckas kembali kerumahnya dengan perasaan hancur,telepon yang berbunyi membuyarkan lamunannya. Dia sungguh tidak bertenaga walau hanya sekedar mengangkat telepon. Namun..nama yang terpampang di layar membuatnya mau tidak mau harus mengangkatnya.


"Mom.." sahut Luckas lemas.


Sebelumnya Luckas telah memberitahunya jika dia telah mengetahui keberadaan Lidya. Dan Martha sangat tidak sabar untuk mengetahui bagaimana pertemuan antara keduanya.


"Luckas..kalian sudah bertemu?" tanya Martha antusias.


"sudah" sahut Luckas dengan lemas.


Dari suara Luckas..Martha mengetahui jika pertemuannya dengan Lidya tidaklah berjalan mulus "apakah terjadi sesuatu?" tanya Martha.


"Lidya berubah,mom.. dia begitu dingin.."


"Berikan dia sedikit waktu,Luckas. Mungkin dia sangat sakit hati dengan perlakuan keluarga ini. Beri dia waktu,Luckas..mom yakin dia akan kembali seperti dulu"


"tapi..sepertinya dia sekarang telah memiliki pria lain..aku merasa seperti orang bodoh yang dengan bodohnya tetap menunggunya selama tiga tahun,sedangkan dia dengan mudahnya melupakanku dan menjalani kehidupannya sendiri dengan begitu baik"


__ADS_1


__ADS_2