Hotel Prince

Hotel Prince
I'll be Loving You Forever


__ADS_3

I'll be loving you forever,


Deep inside my heart you leave me never,


Even if you took my heart,


And tore it apart,


I would love you still, forever


•Westlife•



Dini hari,Belinda sengaja bangun lebih awal dari biasanya. Dia ingin mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat roti. Dia berjalan ke depan rumah dimana tokonya berada,sekilas dia melihat ada sosok yang duduk di kursi yang berada di depan toko mereka. Belinda berjalan perlahan,mencoba mengintip dari pintu kaca mereka, sesosok pria yang ketiduran sambil duduk di depan toko mereka.



Belinda bergegas membuka pintu dan membangunkan pria itu "Demi apa, anak muda.. Kamu tidur di depan rumah saya dengan cuaca yang dingin seperti ini??!!" pekik Belinda.



Luckas mencoba membuka matanya saat mendengar suara seseorang namun matanya terasa begitu berat.



Belinda menepuk dan mengguncang tubuh pria tersebut "anak muda!! anak muda!! Jangan tidur disini!! masuklah..cuaca begitu dingin,bisa berakibat fatal jika kamu tidur didepan!"



Luckas tidak sanggup membuka matanya, baru satu jam dia sampai di rumah Lidya. Mobil yang mengantarnya telah meninggalkannya pergi seorang diri. Awalnya Luckas ingin menginap di hotel terdekat dan merencanakan akan kembali saat pagi hari,namun hatinya sudah tidak sabar ingin bertemu Lidya sehingga dia memutuskan untuk langsung ke rumah Lidya tanpa memperhitungkan waktu yang masih tengah malam tersebut.



Walau pakaian yang membalut tubuh Luckas begitu tebal,namun cuaca dingin apalagi di saat tengah malam sangat tidak disarankan untuk berada di luar rumah terlalu lama.



Belinda kebingungan dan segera berlari masuk ke dalam rumah. Dia tidak sanggup mengangkat Luckas seorang diri. Saat Belinda masuk ke dalam rumah,dirinya berpapasan dengan Lidya yang baru saja terbangun untuk mengambil segelas air putih.



"mom?"



"akh..aduh Lidya..kau mengejutkanku!" seru Belinda sambil mengelus dadanya.


__ADS_1


"sorry,mom.. ada apa,mom? mom terlihat begitu tergesa-gesa.."



"sini..kamu ikut mom ke depan.." sahut Belinda sambil menarik Lidya menuju ke depan rumah mereka.



Mata Lidya membulat sempurna saat melihat sosok pria yang tengah tidak sadarkan diri itu. "Luckas?!!" pekiknya.



Belinda langsung menatap Lidya "kamu mengenalnya?"



Lidya menatap Belinda dengan gugup "dia..ayah Ayles..tapi,mengapa dia bisa berada disini?"



"kita bisa tanyakan itu padanya nanti.. kamu bisa membantu mom mengangkatnya masuk ke dalam rumah?"



"kita coba,mom.." sahut Lidya yang langsung mencoba menompang tangan dan tubuh Luckas di pundaknya,Belinda pun membantu di sisi yang lain. Dengan susah payah,mereka akhirnya membaringkan tubuh Luckas di dekat perapian yang berada di ruang tamu.



"mom..apakah dia akan baik-baik saja?" lirih Lidya.



"seharusnya sayang..biarkan dia menghangatkan dirinya terlebih dahulu" Belinda menyadari Lidya terlihat begitu khawatir,sekilas sebuah senyuman terukir di wajahnya.



Belinda bergegas pergi ke dapurnya dan membuat susu hangat dan bubur hangat untuk Luckas nantinya.



Lidya menatap Luckas dan memeluknya..wajah Luckas terasa dingin,Lidya meletakkan kedua tangannya di wajah Luckas "Luckas..mengapa kamu begitu bodoh.. kamu harus segera bangun,Luckas..jangan membuatku begitu cemas.." bisik Lidya.



Samar-samar Luckas merasakan hangat yang menjalar di tubuhnya,perlahan dia mencoba membuka matanya "Li..Lidya.." lirihnya.



Lidya dengan cepat menatap Luckas dengan wajah yang begitu cemas "Luckas? kamu sudah bangun?"

__ADS_1



Luckas menatap Lidya dengan lemah "a..aku in.. ingin meminta ma..af pa..damu"



"ti..tidak..jangan berkata seperti itu. Tenangkan dirimu terlebih dahulu,Luckas" lirih Lidya.



"a..aku..aku sepertinya tidak akan lama lagi.." lanjut Luckas dengan lemas "aku..ingin bertanya padamu.."



"jangan berkata seperti itu,Luckas..kamu akan baik-baik saja.." isak Lidya.



"apakah a..aku masih ada di hatimu?" tanya Luckas dengan lemah.



Lidya mengangguk cepat "jangan bertanya lagi,Luckas..sampai kapanpun kamu tetap berada di hatiku..aku mencintaimu,Luckas" isaknya.



Luckas tersenyum dan segera duduk dengan penuh semangat,membuat Lidya terbengong menatap Luckas dan masih dengan air matanya yang mengalir.



"kamu--"



Luckas tersenyum dengan menunjukkan giginya dan lesung pipinya "terima kasih,Lidya..aku juga mencintaimu.." lanjutnya sambil memeluk Lidya yang masih juga tidak menyadari apa yang terjadi.



Lidya mendorong tubuh Luckas "kamu membohongiku?"



"tidak..tentu tidak! aku tadi hampir tidak sadarkan diri,Lidya.. tapi sekarang sudah tidak" sahut Luckas dengan wajah tidak berdosa.



Lidya memukul lengan Luckas bertubi-tubi "kamu jahat!!! mengapa bercanda seperti itu!! kamu tahu seberapa cemasnya aku melihatmu seperti itu!!" isak Lidya.


__ADS_1


Luckas meringis kesakitan dan segera memeluk Lidya yang masih terisak "maafkan aku,Lidya.. tapi aku sungguh senang mendengar kata hatimu.. dan aku sungguh-sungguh minta maaf karena menyakitimu. Tapi,aku akan bersumpah di depan kedua orang tuamu..aku tidak akan pernah menyakitimu dan aku akan selalu mencintaimu sampai akhir hayatku!!" ucap Luckas dengan serius, Lidya semakin terisak mendengar semua ucapan Luckas yang begitu tulus.



__ADS_2