
Vanya terlihat syok melihat kedatangan tamunya ini, sedangkan tamunya tengah menatapnya penuh kekaguman.. Vanya begitu memukau di matanya. Penampilan Vanya saat ini seakan menghidupkan kembali rasa lapar yang selama ini di tahannya sejak kehilangan Vanya... Ya, dia adalah Peter.
"Wow.. sayang... kamu terlihat begitu menakjubkan!!" puji Peter "apakah kamu tahu aku akan datang?".
Pujian Peter seakan menyadarkannya dari lamunannya, tanpa basa-basi.. Vanya bergegas menutup pintunya namun sayangnya.. Peter telah sigap menahan pintu rumah Vanya.
"PERGI!!!" pekik Vanya sambil berusaha menguatkan kedua kakinya yang mulai gemetar lemas.
"Hei..hei.. tenanglah.. mengapa kamu begitu kasar pada kekasihmu sendiri?" ucap Peter sambil mendorong Vanya masuk ke dalam dan menutup pintu rumah Vanya. Tidak lupa Peter mengunci pintu rumah Vanya.
Vanya yang terdorong oleh Peter,ditambah kedua kakinya yang sejak tadi lemas. Dia pun terhempas duduk di lantai rumahnya sendiri. Wajahnya seketika memucat saat melihat Peter menutup dan mengunci pintu rumahnya.
Mencoba mengumpulkan seluruh tenaga yang masih bisa Vanya kerahkan,Vanya mencoba bergegas berdiri dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Yang ada di pikiran Vanya sekarang hanyalah satu,yaitu pergi ke kamarnya.. mengunci kamar dan meraih ponselnya, meminta bantuan.
Dengan wajah tersenyum puas,Peter berbalik.. ingin menikmati Vanya seorang diri tanpa di ganggu siapapun,namun.. dia mendapati Vanya yang tengah mencoba berlari masuk ke dalam kamarnya.
Sesaat sebelum Vanya masuk ke dalam kamarnya,Peter telah menahan pintu dan berdiri menatap Vanya dengan wajah beringas.
"Sayang..kamu sungguh tidak sabaran.." sahut Peter dengan senyuman yang begitu menjijikan di mata Vanya.
Samar-samar Vanya mencium bau alkohol dari tubuh Peter. Mata Vanya berkeliling mencari ponselnya yang sebelumnya dia letakkan di tempat tidurnya, namun Peter kembali dengan sigap meraih ponsel Vanya dan melemparkannya dengan kuat di dinding kamar Vanya, seketika.. ponsel Vanya telah hancur. Sama seperti hati Vanya yang juga hancur karena satu-satunya sumber untuk meminta pertolongan telah sirna.
__ADS_1
Air mata Vanya mulai mengalir, "Peter..aku mohon hentikan kegilaan ini.. Kamu sedang tidak sadar atas apa yang kamu lakukan sekarang!" lirih Vanya.
Peter tertawa, "aku sangat sadar,sayang.. aku tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang.." sahut Peter semakin mendekati Vanya, "yang aku lakukan sekarang adalah membuktikan bahwa aku menyayangimu..mencintaimu!!".
Tubuh Vanya semakin lemas, "kamu tidak mencintaiku!!".
Plak!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Vanya, Peter mencengkram wajah Vanya dengan tangan kanannya.
"AKU MENCINTAIMU!!" pekik Peter, "dan kamu juga mencintaiku!!"
"Ib...lis!!" balas Vanya.
Ciuman Peter semakin beringas, tangan kirinya mulai merambah di bagian pay*dara Vanya. Dia meraih kedua tangan Vanya dan menguncinya dengan tangan kirinya.
Vanya memekik, dia berusaha melepaskan diri dari Peter tapi kekuatan Peter yang begitu besar.. membuatnya begitu kesusahan. Setiap Vanya menjerit meminta tolong,Peter mendaratkan sebuah tamparan di pipinya, hingga akhirnya Peter menemukan sebuah baju kaos milik Vanya dan langsung dia masukkan ke dalam mulut Vanya. Peter tidak ingin ada orang yang mendengar jeritan Vanya.
Disaat yang sama,Vanya menyesal telah memilih lokasi tempat tinggal yang sunyi dan jauh dari tetangganya. Namun,bagi Peter.. itu sangat menguntungkannya sekarang.
Air mata Vanya tidak berhenti mengalir, dia semakin syok saat Peter menyibakkan rok gaunnya dan menarik turun celana berbentuk segitiganya itu.
__ADS_1
Vanya semakin memekik dan memberontak, Peter mendorong Vanya hingga terbaring di tempat tidur Vanya. Vanya menggelengkan kepalanya,pancaran matanya seakan memohon pada Peter untuk menghentikan semuanya,namun Peter tidak mengindahkannya.
Dengan sisa tenaga yang ada,Vanya menendang Peter hingga terjatuh. Bergegas Vanya berdiri.. dia menarik keluar baju yang tertahan di mulutnya, matanya tertuju pada sebuah pisau kecil yang ada di sudut mejanya. Pisau kecil yang dipakainya semalam, sekarang menjadi satu-satunya yang mungkin mampu menolongnya dari Peter.
Peter terkejut saat melihat Vanya mengancamnya dengan pisau.
"Va..Vanya.. tenanglah.." sahut Peter dengan gugup.
Walau masih bergemetar hebat, air mata yang masih mengalir dan harga dirinya yang terluka. Vanya memegang pisau kecil itu dengan kuat.
"Keluar!!" pekik Vanya.
"Vanya.." lirih Peter.
"ENYAH!!!" jerit Vanya.
"O..ok.. tenangkan dirimu!!" sahut Peter sambil mengangkat kedua tangannya. Peter perlahan berjalan mendekati Vanya.
"Jangan mendekat!!!!" pekik Vanya kembali.
Namun,Peter tiba-tiba berlari mendekati Vanya dan mencoba mengambil pisau yang ada di tangan Vanya. Keduanya merebut pisau kecil tersebut, hingga akhirnya.. Vanya dan Peter terjatuh berbaring di lantai.
__ADS_1
Peter yang berada di atas tubuh Vanya, dia bangkit perlahan.. disaat yang sama..tangannya menyentuh adanya cairan hangat yang membasahi tangan kanannya, saat Peter mengangkat tangan kanannya, wajahnya seketika memucat... "da..darah??"