Hotel Prince

Hotel Prince
What Are Words (Ending)


__ADS_3

Anywhere you are


I am near


Anywhere you go


I'll be there


Anytime you whisper my name


You'll see


Every single promise I'll keep


'Cause what kind of guy


Would I be


If I was to leave


When you need me most


•Chris Medina•



Kedua orang tua Lidya membeku saat melihat kehadiran Dora di tengah-tengah mereka. Martha menyadari suasana hangat tiba-tiba berubah dingin,bergegas mencoba mencairkan suasana.



"Belinda..Ronald..kenalin ini Dora,ibu Arthur.." sahut Martha "mungkin kalian sudah tahu jika beliau terjatuh sehingga beliau tidak bisa berbicara dan pengelihatannya sedikit terganggu"



Belinda dan Arthur mencoba mendekati Dora dan menyapanya,namun Dora hanya membisu dan tidak mengindahkan kehadiran mereka. Hal itu tentu menjadi suasana canggung bagi Belinda dan Ronald.



Tiba-tiba,Ayles menghampiri Dora dan menyodorkan sebuah cookies coklat di tangan Dora. Dora memicingkan matanya menatap sosok pemilik tangan mungil yang memberinya cookies tersebut "*Ayles*?".



Ayles tersenyum pada Dora "emma..lapal?? ini enak..yummy.. emma Malta yang buat..".



Dora menatap cookies di tangannya,tanpa terasa dia menitikkan air matanya.



Ayles menatap Dora dengan sendu,dia menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata Dora "jangan nangis.. eemma mau lagi? Ailes ada banyak" sahut Ayles yang langsung berlari mengambil beberapa cookies dan memberikan pada Dora.


__ADS_1


Hal itu membuat Dora semakin menangis, dia tidak mengerti mengapa hal kecil ini membuatnya begitu terharu hingga menitikkan air matanya. Dora menutup kedua matanya dengan telapak tangannya,dia terisak bagaikan anak kecil. Kembali Ayles mengelus lembut kepala Dora "jangan cedih ya.. nanti Ailes kasih kukis lagi ya..cup..cup..cup"



Dora memeluk Ayles dan menangis semakin menjadi-jadi. Semua orang hanya menatap Dora dan Ayles tanpa berkata apa-apa, mereka bahkan terbawa suasana haru karena Dora dan Ayles.



Lidya mendekati Luckas "sepertinya hanya Ayles yang bisa meruntuhkan tembok es yang dibangun Dora.." bisiknya. Luckas hanya membisu. Lidya kembali berbisik pada Luckas "dan sepertinya daddy Ayles harus banyak belajar dari anaknya..". Luckas menatap Lidya dan akhirnya hanya tersenyum dan melilitkan tangan kanannya di pinggang Lidya dan mengecup kening calon istrinya.



"Aku mencintaimu.." bisik Luckas.



Satu bulan kemudian,


Lidya terlihat begitu menakjubkan dengan gaun pengantin berbentuk sabrina bagian atasnya, Lidya sengaja memilih ornamen mutiara dan motif yang simple di gaun pengantinnya, walau Martha memaksa memilih gaun yang lebih mewah tapi Lidya telah jatuh hati pada gaun simple yang ada di tubuhnya ini.


Belinda begitu terharu melihat putrinya yang begitu cantik dengan gaun pengantinnya, jangan tanya dimana Ronald..dia bahkan tidak berani masuk ke ruangan tempat Lidya menunggu,setiap melihat Lidya yang dengan gaun pengantinnya..air matanya tidak berhenti mengalir. Putri kecilnya sekarang telah dewasa dan akan menjadi istri dari pria yang dicintai putrinya.


Luckas terlihat tampan dengan balutan jasnya,Louis tersenyum "akhirnya kalian sampai di akhir ini juga!" sahut Louis.


"thank you,Louis"


"sebenarnya aku kasihan padamu.."


"akhirnya masuk ke dalam jenjang pernikahan..Aku mendengar jenjang itu sangatlah mengerikan!" sahut Louis.


Luckas tertawa "kamu akan mengerti saat kamu menemukan wanita idamanmu nantinya! Walaupun beberapa orang mengatakan pernikahan adalah neraka..tapi itu semua karena mereka melupakan saat awal mereka jatuh cinta dan juga alasan mereka saling mencintai satu sama lain.." sahut Luckas "cintai dan sayangi dia jika kamu ingin dia mencintai dan menyayangimu juga,Louis.. karena,seorang wanita..dia akan membalas beribu-ribu kali dari yang kamu berikan padanya, baik itu cinta atau kebencian.."


Louis tersenyum "cih..sejak kapan kamu begitu melankolis? mengapa kamu tidak membuat buku tentang percintaan saja,tuan Luckas Ryans?!"


"ohh..sungguh ide yang bagus! supaya orang bodoh sepertimu bisa belajar!" balas Luckas menggodanya.


"kamu--"


"aduh..kalian dua..mau sampai kapan seperti anak kecil?" sahut Martha yang menghentikan pertengkaran kedua pria dewasa itu.


"jangan salahkan aku,aunty.. anak laki-lakimu begitu menggemaskan untuk ku goda!" sahut Louis.


Martha tertawa sambil menggelengkan kepalanya "sudah-sudah..Luckas..sudah saatnya kamu bersiap-siap.. acara akan segera dimulai!" sahut Martha.


"baiklah,mom.." sahut Luckas "mom..bagaimana dengan Dora? apakah dia tidak datang?"


Martha tersenyum "Dia telah datang,Luckas.. dia tidak ingin kehilangan momen pernikahan cucunya.."


Luckas tersenyum dan mengangguk "dan sekarang..aku sudah siap!!"



Acara pernikahan keduanya akhirnya dimulai. Luckas berdiri di depan pendeta yang akan memberkati pernikahan mereka, menunggu kehadiran pengantin wanitanya. Tidak lama kemudian,sang pengantin wanita akhirnya muncul diiringi sosok mungil yang didepannya yaitu Ayles dengan sebuah keranjang kecil berisi kelopak bunga dan juga Ronald yang berada disamping Lidya,menggandeng anak perempuannya satu-satunya sambil mencoba tangisan yang hampir keluar.

__ADS_1



Nafas Luckas tercekat saat melihat sosok pengantin wanita yang begitu memukaunya, dia tidak berhenti terpesona dengan kecantikan Lidya. Hingga akhirnya Ronald menyerahkan tangan putrinya pada Luckas "jaga putri kecilku baik-baik,Luckas" bisik Ronald dengan mata berkaca-kaca.



"tentu saja,Dad!" sahut Luckas sambil menggenggam tangan Lidya dan sama-sama menghadap pendeta yang telah menanti mereka.



"suatu hari yang berbahagia untuk kita semua karena bisa menyaksikan pernikahan dari saudara Luckas Ryans dengan Lidya Claresta." sahut pendeta tersebut dengan suaranya yang mengisi seisi ruangan.



"Luckas Ryans.. apakah kamu mau menerima Lidya Claresta sebagai istrimu baik dalam keadaan susah ataupun senang,sakit ataupun sehat?" tanya pendeta tersebut.



Luckas menatap Lidya "Lidya Claresta,aku mengambil engkau sebagai istriku untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita"



Lidya menangis haru saat mendengar ucapan Luckas.



Pendeta tersenyum "dan Lidya Claresta.. apakah kamu mau menerima Luckas Ryans sebagai suamimu..baik dalam keadaan susah ataupun senang,sakit ataupun sehat?"



Lidya menatap Luckas sambil mencoba menetralkan suaranya "Luckas Ryans,aku mengambil engkau sebagai suamiku untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita"



Pendeta tersebut kembali tersenyum "Dengan ini,aku menyatakan kalian berdua telah resmi menjadi suami istri" sahut pendeta tersebut diiringi suara tepuk tangan dari semua tamu undangan. Ayles berjalan mendekati mereka sambil membawa sebuah baki kecil yang berisi cincin kedua mempelai, Lidya dan Luckas bergantian memakaikan cincin pada pasangan mereka dan Luckas menarik Lidya dan ingin menciumnya.



"humphh.." Lidya tiba-tiba merasakan mual yang menyerang dirinya, Luckas menatapnya dengan heran.



Lidya termenung memikirkan sesuatu dan akhirnya tersenyum dan berbisik pada Luckas. Sebuah senyuman bahagia tersungging di wajah Luckas seketika "Aku akan menjadi ayah dari dua anak!!!" sahut Luckas dengan lantang.



Seketika seluruh ruangan riuh dengan tepuk tangan yang ikut berbahagia dengan pasangan pengantin tersebut. Martha dan Belinda saling menatap satu sama lain "kita akan memiliki cucu lagi??" sahut mereka hampir berbarengan dan berpelukkan satu sama lain.



author : "finally..😭 thank you uda pantengin novelku ini.. senang banget tiap baca komen dari kalian🙏 😚. See you next time di novelku berikutnya ya ❤️.


thank you and big hug😭

__ADS_1


__ADS_2