Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Back New York (2)


__ADS_3

"Bagaimana kamu tahu jika Vanya di lukai seseorang?" balas Louis.


Peter kembali terdiam, memaki dirinya yang telah mengorek lubang kuburnya sendiri, "a..aku hanya menebak"


"Benarkah?"


"Jawab saja pertanyaanku!!!" balas Peter.


"Tidak..mereka tidak mendapatkan apapun.. Mengapa kamu penasaran? Apa kamu pelakunya?" balas Louis.


"Jangan berbicara yang mustahil!!!" tukas Peter.


Louis tertawa dan mematikan ponsel Ruby, dia lalu menelepon Chandra dari ponselnya sendiri.


"Halo sir?"


"Chandra.. sepertinya peresmian hotel akan tertunda.." sahut Louis.


"Saya telah diberitahu oleh sir Luckas,sir.."


"Dan saya akan kembali ke New York untuk sementara waktu.." sahut Louis "dan selama saya tidak ada,saya harap kamu bisa memantau pengirim kita dengan pihak Ever Ship"


"Sir.. anda telah--"


"Benar.. saya telah menyetujuinya kerja sama dengan pihak Ever Ship.."


"Baiklah..saya mengerti,sir.." sahut Chandra "kapan anda akan kembali?"


"Saya belum pasti.. Tapi,saya akan usahakan kembali secepatnya" sahut Louis "selama aku telah memastikan Peter telah mendapatkan ganjarannya" lanjut Louis dalam hati.


"Baik,sir.."


"Satu hal lagi.. Sebelumnya saya ingin meminta bantuanmu untuk mengirimkan sesuatu pada seseorang" sahut Louis.


"Dengan senang hati,sir.. pada siapa dan dimana,sir?"


"Temui aku sekarang.."



Dua hari setelahnya,



Luckas dan Lidya bergegas membawa Vanya menuju rumah sakit besar yang ada di New York. Timothy, salah satu teman Luckas yang juga salah satu dokter di rumah sakit tersebut terlihat telah menunggu kedatangan Luckas dan lainnya.



"Luckas!!" sapa Timothy. Timothy terlihat seumuran dengan Luckas. Keduanya telah bersahabat sejak kuliah, walau keduanya mengambil jurusan yang berbeda tapi.. keduanya begitu dekat. Awalnya Timothy terlihat dijauhi mahasiswa lainnya, karena Timothy satu-satunya mahasiswa kedokteran yang berkulit hitam. Suatu hari, Timothy yang hampir di celakai mahasiswa lainnya.. Luckas yang tidak sengaja melihatnya, bergegas menolong Timothy. Tidak ada satupun yang berani melawan Luckas karena status keluarganya. Sejak saat itu, Timothy menjadi dekat dengan Luckas. Dan sejak saat itu tidak ada yang berani mengusili atau menyakiti Timothy karena Luckas.

__ADS_1



Luckas menghampiri Timothy dan langsung saling memberi salam khas mereka. Keduanya saling membenturkan pundak kanan mereka dan menggenggam tangan begitu kuat seakan ingin adu panco. Keduanya tertawa satu sama lain.



"Apa kabarmu?!" seru Luckas.



Timothy tertawa keras, menampilkan deretan giginya yang putih "seperi biasa.." Timothy melirik wanita yang ada di balik tubuh Luckas, lalu berjalan menghampiri Lidya "senang berjumpa dengan anda,Lidya.. Saya sangat menyesal tidak bisa hadir diacara pernikahan kalian karena bertepatan saat saya berada di Afrika" sahut Timothy sambil menjulurkan tangan kanannya.



Lidya tersenyum, "senang berkenalan dengan anda,Timothy.." sahut Lidya sambil mencoba membalas uluran tangan Timothy, tapi Luckas bergegas menggenggam uluran tangan Timothy. Seakan menggantikan Lidya untuk bersalaman dengan Timothy.



"Cih.." Timothy mengejek Luckas, "awas nanti aku laporin tingkahmu saat kuliah dulu.."



Luckas menatap Timothy dengan kesal, "jangan membuat gosip palsu!! Lebih baik kamu secepatnya mengurus pasienmu.." sahut Luckas sambil melirik Vanya dan Louis.




"Apa tidak terlalu berlebihan,dokter?" tanya Vanya yang merasa sungkan.



Timothy tertawa, "anggap saja kamu sedang melakukan *medical check up*,miss Vanya.."



Luckas menghampiri Vanya dan Louis, "dengarkan dia saja,Vanya.. Walau dia terlihat seperti preman,tapi percayalah.. dia dokter yang hebat.."



Timothy menatap Luckas dengan kesal, "pujian atau hinaan?"



Luckas mengangkat kedua pundaknya, "tergantung kamu menganggapnya apa,*brother*.."



"Aku akan perhitungan denganmu!!" sahut Timothy lalu membawa Louis dan Vanya pergi meninggalkan Lidya dan Luckas.

__ADS_1



Beberapa saat kemudian, ponsel Luckas berdering. Luckas menatap layar ponselnya dan bergegas mengangkatnya.



"Richard!"



Richard telah kembali ke New York terlebih dahulu atas perintah Luckas. Luckas ingin dia secepatnya memproses penangkapan Peter.



"Sir.. Pihak berwajib telah memproses dan akan segera melakukan penangkapan dengan Peter Lee" sahut Richard dengan puas.



"Bagus!!"



"Dan malam ini juga,mereka akan menangkapnya di kediamannya.." sahut Richard.



"Apakah kamu yakin dia tidak melarikan diri?"



"Tenang,sir.. pihak kepolisian telah mengintai dan memeriksa posisi Peter Lee sejak saya membuat laporan, dan di pastikan dia berada di rumahnya sejak kembali dari Bali.." sahut Richard.



"Berikan yang terbaik!! Aku tidak ingin ada masalah atau hasil yang tidak sesuai dengan yang aku inginkan"



"Kita bisa percayakan pada pihak berwajib,sir.."



"Baiklah,Richard.. terima kasih atas kerja kerasmu" sahut Luckas.



Richard tersenyum, inilah yang membuat Luckas berbeda dengan pengusaha kaya lainnya yang selalu otoriter. Luckas selalu menghormatinya dan tidak segan mengucapkan terima kasih dengan tulus. Berbeda dengan pengusaha lain yang selalu menganggap pekerjaan Richard adalah suatu keharusan membantu mereka dan harus mematuhi perintah mereka, terlepas dari baik buruknya kejahatan mereka.


__ADS_1


__ADS_2