Hotel Prince

Hotel Prince
Flashback


__ADS_3

I can't wait,my heart is already in danger


The moment I saw you again,I'm automatic


This kind of feeling is still on and on and on again


In jusy one moment,I get a flashback to that time again


•After School•



".....Li...Lidya??? Ini kamu Lidya?" tanya ibunya, suara panik ibunya membuat Lidya sadar bagaimana perasaan ibunya.



Lidya meneteskan air matanya begitu mendengar suara ibunya "ini Lidya,mom" lirihnya.



"Ya Tuhan!!! kamu dimana sayang?? kami begitu mencemaskanmu!! Bahkan ayahmu pergi ke Washington untuk mencarimu.. dia sangat sedih saat tidak menemukan!"



"Maafkan Lidya,mom..hiks" isak Lidya "maafkan Lidya"



Ibunya terdiam, hatinya perih saat mendengar tangisan putrinya.. selama delapan bulan menghilang tanpa kabar, dan hampir membuatnya putus asa saat tidak kunjung menemukan Lidya. Marah dan sedih tentunya saat Lidya menghilang tanpa jejak,namun diatas semua itu.. rasa cemas,khawatir akan keadaan putrinya melebihi segalanya, "Kamu dimana,sayang? dan.. kamu baik-baik saja?" cemasnya.



"maafkan Lidya,mom.. sebenarnya sudah lama Lidya ingin memberitahu mom,tapi Lidya terlalu takut. Karena itu Lidya bersembunyi dari mom" isak Lidya.



Perasaan ibunya mulai kacau balau,berbagai pikiran negatif mulai berdatangan di dirinya. Dia mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu,menepis pikiran negatifnya dan mencoba untuk mendengarkan cerita anaknya terlebih dahulu. Apapun itu,ini adalah anaknya dan dia akan selalu menerimanya.. kapanpun!.


"Lidya sayang.. Aku adalah ibumu. Tidak akan ada orang yang mencintaimu melebihi kami,orang tuamu terutama aku,Lidya. Kamu adalah segalanya bagi mom. Apapun,kapanpun,bagaimanapun..kami akan selalu menerimamu dan mendukungmu"

__ADS_1



Air mata Lidya mengalir semakin deras saat mendengar perkataan yang begitu hangat dari ibunya. Dia semakin bersalah pada ibunya. Elena benar..orang tua kita yang akan selalu mencintai kita,anak-anaknya.



"Lidya?? semua akan baik-baik saja. Mom akan selalu ada untukmu, cerita ke mom.. ada apa denganmu dan dimana kamu sekarang?"



"Lidya..Lidya hamil,mom" lirih Lidya pelan.



Bagaikan disiram air dingin,sekujur tubuh ibunya membeku saat mendengar ucapan anaknya. Dia tidak ingin mempercayai apa yang baru saja didengarnya "si-.. tidak.. apakah dia milik..Rico?" hanya Rico satu-satu yang terlintas dipikiran ibunya, selama ini Lidya belum pernah menceritakan hubungannya dengan Luckas pada keluarganya.



"Bukan,mom"




Walau tubuhnya bergetar hebat,namun ibunya kembali mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu "Lidya.. ceritalah pada mom"



Lidya mulai menceritakan secara singkat mengenai hubungannya dengan Luckas dan juga keluarga Ryans. Sampai alasan mengapa dia memutuskan untuk menyendiri dan ingin bangkit sendiri di Boston. Dan tentunya juga siapa ayah dari anak dalam kandungannya.



Ibunya bernafas lega saat mendengar cerita anaknya,setidaknya bukan hal buruk yang menimpa anaknya. Ibunya merasa marah atas perlakuan keluarga Ryans.


"Mom akan selalu mendukungmu,nak!!! Tapi berjanjilah satu hal pada mom. Jangan pernah memutuskan hubungan dengan keluargamu sendiri,sayang.."



"maafkan Lidya,mom.."

__ADS_1



Hanya dengan orang tua kita,kita bisa merasa nyaman dan di mata mereka..kapanpun kita tetap hanyalah anak kecil yang selalu menjadi dunianya yang akan mereka cintai dan lindungi.



"mom dan dad akan segera mengunjungimu. Percayalah.. Dad akan sangat senang untuk segera bertemu dengan cucunya" sahut ibunya yang tidak ingin Lidya merasa cemas dan terbebani, apalagi dengan kehamilannya sekarang yang mengharuskannya tidak boleh terlalu tertekan.



Lidya tertawa kecil saat mendengar ucapan ibunya, hatinya terasa begitu lega.. beban yang dipendamnya selama berbulan-bulan akhirnya sekarang menghilang.



Sebelum menutup teleponnya,Lidya memanggil ibunya "mom..terima kasih..dan maafkan aku,mom"



Air mata ibunya mengalir tanpa diketahui Lidya "anak bodoh..mom menyanyangimu"



Lidya terjaga dari lamunannya. Dia tidak menyangka jika tiga tahun berlalu begitu cepat. Hari minggu selalu dia habiskan dengan anaknya,Ayles bersama-sama, dan minggu ini dia membawa Ayles ke taman. Lidya duduk diatas tikar dengan sebuah tas berisi makanan ringan untuknya dan anaknya. Lidya tersenyum melihat Ayles yang tengah berlarian dengan antusias di rerumputan, dan terlihat begitu gembira.


Tidak jauh dari Lidya,terlihat sepasang suami istri bersama anak perempuan mereka yang duduk tidak jauh darinya dan tengah menikmati cemilan yang mereka bawa dari rumah. Anak perempuan mereka terlihat sebaya dengan Ayles, tidak lama kemudian anak perempuan itu mengejar Ayles dengan sebuah biskuit ditangannya.


Ayles menatap gadis mungil yang mendekatinya, gaun putih berumbainya dengan rambut ikalnya yang dikuncir dua oleh ibunya membuatnya terlihat begitu manis. Gadis mungil itu menyodorkan biskuit yang ditangannya pada Ayles.


"ma aci" sahut Ayles sambil mengambil pemberian gadis itu.


Anak itu mengangguk "Nama amu capa?"


"Ai les" jawab Ayles "amu?"


"Shei la"


Lidya tertawa mendengar percakapan kedua bocah mungil itu, begitu juga orang tua dari gadis imut itu. Mereka melirik Lidya dan memberi sapaan dengan senyuman, Lidya membalas mereka dengan senyuman.


Ayles dan Sheila bermain bersama, sampai akhirnya Louis datang menghampiri mereka. Ayles begitu antusias saat melihat Louis, langsung berlari dan memeluk Louis yang sudah bersiap untuk menerima pelukan dari Ayles.

__ADS_1



__ADS_2