
Hey! Where did you get that body from?
Where did you get that body from?
Where did you get that body from?
I got it from my DADDY
I got it from my DADDY
•Psy•
Suara petir yang begitu kuat ternyata membuat Ayles terbangun dan gelapnya kamarnya membuatnya ketakutan.
"mamiiii..." isak Ayles dari dalam kamarnya.
Luckas dan Lidya terkejut mendengar tangisan Ayles, bergegas menuju kamar Ayles. Ayles tengah menangis di tempat tidurnya,Lidya segera memeluknya dan menenangkannya "maafin,mommy.. Ayles terbangun ya?" bisik Lidya.
Ayles masih terisak di pelukan Lidya, saat dia menyadari ada orang lain di kamarnya..seketika Ayles terdiam dan menatap orang tersebut "angkel?" (uncle maksudnya) sahut Ayles.
Lidya membaringkan Ayles di tempat tidurnya,dan dia juga ikut berbaring disamping menemani Ayles. Luckas mendekati mereka dan ikut berbaring di samping Ayles. Ayles yang masih terisak,menoleh menatap Luckas "ang kel?" sahutnya.
"daddy, sayang.." bisik Lidya. Ayles tersenyum dan memeluk Luckas "angkel..." bisiknya dan tertidur sambil memeluk Luckas. Ayles tertidur begitu nyaman ditengah-tengah ayah dan ibunya.
Kediaman Ryans,
__ADS_1
Martha begitu antusias menceritakannya pada suaminya tentang pertemuannya dengan Ayles. Saat itu,mereka bertiga termasuk Dora,tengah duduk di ruang tamu sambil menonton televisi.
Diam-diam Dora tertarik dengan cerita Martha tapi dia berpura-pura menatap televisi seakan tidak tertarik akan cerita mengenai Lidya dan Ayles. Sedangkan Arthur terlihat begitu serius mendengar cerita istrinya.
"Benarkah dia mirip dengan Luckas?" tanya Arthur,cerita istrinya membuatnya penasaran dengan sosok cucunya.
Martha mengangguk dengan antusias "aku akan mencari dan memberikan foto masa kecil Luckas pada Lidya,aku yakin dia pasti akan mengira foto itu adalah Ayles"
Arthur tersenyum,dia melirik ibunya yang terlihat acuh dengan cerita Martha.
"tapi..aku sungguh salut pada Lidya..Dia begitu kuat, bekerja dan mengurus Ayles sendiri" sahut Martha "dan kamu tahu? Lidya benar-benar berbakat..Dia bekerja di hotel DeParis"
Arthur mengerutkan kedua alisnya "DeParis? Bukankah itu hotel yang hampir bangkrut? Aku mengenal pemiliknya dulu.. Gerald Kyler. Setahu aku,setelah dia meninggal..hotelnya di wariskan pada anak perempuannya dan setelahnya hotel tersebut semakin menurun"
Martha mengangguk "benar sekali!! Dan Lidya-lah yang membuat hotel itu bangkit kembali!! Aku sungguh bangga padanya!!" sahut Martha, dia sungguh seperti seorang ibu yang begitu bangga akan keberhasilan anak perempuannya.
Arthur mengangguk dan kembali melirik ibunya yang masih terlihat masa bodoh dengan cerita Martha. Diam-diam Arthur menghela nafas, dia sungguh bingung akan sifat keras ibunya. Dengan Luckas memutuskan hubungan pada mereka,hal itu telah cukup menjadi suatu tamparan keras padanya dan juga Dora. Apalagi disaat Luckas sanggup berhasil tanpa bantuan Ryans,Arthur semakin menyesali dirinya.
Berbeda dengan Dora,rasa egonya yang begitu kuat membuatnya sulit menerima dan terbuka. Walau jauh dari dalam hatinya,dia benar-benar mengaku kalah dan salah.
Hari minggu yang santai,Luckas memilih pergi ke rumah Lidya, dia ingin menikmati dan menghabiskan waktu seharian bersama Ayles. Luckas bermain-main bersama Ayles di kamarnya.
"Ayles.." sahut Luckas, dia dan Ayles tengah bermain-main di lantai kamar Ayles,mainan terlihat berserakan dimana-mana.
Ayles tengah bermain dengan mainan baru yang baru saja diberi oleh Luckas, hanya memandang Luckas saat namanya disebut.
"panggil '*daddy*' dong.. daddy pengen dengar Ayles panggil daddy.." pinta Luckas dengan nada merengek seperti anak kecil.
__ADS_1
Ayles tertawa mendengar suara rengekan lucu ayahnya,dia merasa lucu melihat Luckas yang berperilaku seperti anak kecil,tapi dia kembali fokus pada mainan barunya. Luckas merengek dan menggelitik Ayles memohon supaya memanggilnya..sontak membuat Ayles tertawa karena rasa geli.
Lidya tengah berada di dapur menyiapkan makanan,tersenyum sendiri saat mendengar tawa Ayles yang begitu kuat.
Selesai menyiapkan makan siang,Lidya pergi ke kamar Ayles untuk memanggil keduanya untuk makan siang. Lidya berjalan keluar sambil menggendong Ayles, Ayles memohon jika dia ingin duduk disamping Luckas. Lidya memenuhi permintaan anaknya.
Ditengah-tengah makan siang,Lidya tertawa saat melihat Luckas dan Ayles.
"sekarang aku mengerti, kenapa Ayles begitu susah saat disuruh makan wortel.. ternyata kamu juga sama" sahut Lidya sambil tertawa saat melihat keduanya menyisihkan wortel di piring mereka.
Luckas tersenyum dan mencium pipi Ayles "that's my boy!! Ternyata bukan hanya ketampananmu saja yang ikut daddy.."
Lidya tertawa dan menatap Luckas "kamu terlalu percaya diri dengan menyebut 'ketampananmu',Luckas.."
Ayles melihat ibunya dan menggelengkan kepalanya "deedi..antenggg,mom.."
Luckas terkejut "kamu..baru saja memanggil daddy??" sahutnya sambil menatap Ayles.
Ayles hanya tersenyum, menunjukkan lesung pipi yang ada di pipi tembemnya.
"Ya Tuhan.. kamu sungguh membuat daddy terharu,Ayles.." sahut Luckas. Lidya tersenyum melihat kelakuan ayah dan anak ini.
__ADS_1