Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Just The Way You Are


__ADS_3

And when you smile


The whole world stops and stares for a while


‘Cause, girl, you’re amazing


Just the way you are


•Bruno Mars•



Louis tertawa "kamu tinggal dimana,biar ku antar.." sahutnya.



Vanya menatap ke depan tanpa berani menoleh menatap wajah Louis,dia takut Louis menyadari dirinya yang tengah tersipu, "tidak jauh dari sini,kamu jalan lurus saja.. nanti aku tunjukkan arahnya.." sahut Vanya.



"Wokie Dokie.." balas Louis sambil menghidupkan mobilnya.



Sesampai di depan rumah Vanya, Louis bergegas turun dan ingin membukakan pintu mobil untuk Vanya. Tapi,niatnya sirna saat Vanya telah turun dengan sendirinya. Vanya menatap Louis yang sedikit kecewa akan hal itu.


"Aku bukan nona manja atau gadis kaya untuk diperlakukan seperti itu.." sahut Vanya acuh.


"no..no..no.. ini namanya manner (tata krama),Vanya.. dan hanya gentleman sepertiku saja yang berbuat seperti ini.." seru Louis.


Vanya tertawa "aku setuju! kamu benar-benar gentleman!"

__ADS_1


Louis tersenyum puas.


"Maksudku.. gentle (lembut) & man (pria)" lanjut Vanya sambil tertawa sambil menyibakkan rambutnya panjangnya yang telah basah.


Louis terlihat cemberut seketika "ka..kamu..hatchiiiimmm..", tiba-tiba Louis bersin tidak berhenti.


"Ya ampun, kamu jadi pilek,Louis.. masuk ke dalam,akan ku buatkan minuman hangat untukmu terlebih dahulu.." sahut Vanya, dia merasa bersalah akan hal itu, karena Louis meminjamkan jaketnya padanya.


"Ti..tidak a..apa..hatchimmmm.." wajah dan hidung Louis terlihat sedikit merah.


Vanya memutar kedua bola matanya dan menarik paksa Louis masuk ke dalam rumahnya "masuklah!! Aku tidak ingin kamu meminta pertanggungjawaban karena aku keesokkan harinya.." sahut Vanya.


Louis hanya pasrah ditarik Vanya masuk ke dalam rumah mungilnya, tidak terlalu besar namun tertata rapi. Louis menatap sekeliling rumah Vanya yang sedikit lebih kecil daripada rumahnya dan Lidya yang memiliki tiga kamar tidur, sedangkan rumah Vanya hanya memiliki satu kamar tidur,ruang tamu dan dapur mini. Terlihat dinding ruang tamunya tertata rapi berbagai foto-foto kecil dirinya yang memakai seragam bersama berbagai kucing dan anjing,Vanya terlihat begitu cantik di foto-foto tersebut dan selalu terlihat tersenyum,sungguh berbeda jauh ketika Louis melihat Vanya di kantor.


Di atas foto-foto kecil itu,terlihat sebuah foto besar, foto yang memperlihatkan keluarga kecil yang begitu bahagia. Vanya terlihat tersenyum manis bersama kedua orang tuanya.


Vanya menyodorkan sebuah handuk dan pakaian ganti untuk Louis, "jangan melihat fotoku lagi,ganti dulu bajumu.. Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu! Apa yang kamu mau?"


"Tidak ada.." jawab Vanya.


"Susu hangat jika begitu" lanjut Louis.


"Habis" jawab Vanya.


Louis menatap Vanya "apa yang ada?"


"Kopi instan hangat" jawab Vanya.


"Aduh,gadis manis.. jika begitu, tidak perlu menanyakanku apa yang aku mau.." sergah Louis.


Vanya tertawa, tidak tahu mengapa dia begitu suka melihat reaksi Louis, apalagi jika dia berhasil mengisengi Louis seperti ini. Louis menatap Vanya yang tengah tertawa lepas, "kamu terlihat cantik saat tertawa lepas seperti ini.." gumam Louis tanpa sadar.

__ADS_1


Mendengar ucapan Louis,seketika Vanya berhenti tertawa "tidak perlu berbohong seperti itu.." sahut Vanya lalu berjalan menuju dapur kecilnya sambil membuat kopi dengan air panas yang sudah dia seduh tadi.


Louis tersenyum,dia berjalan mendekati Vanya. Dia menarik Vanya dan mendorongnya hingga tubuh belakang Vanya menyentuh meja makan kecilnya, "a..apa yang kamu lakukan?!" pekik Vanya yang terkejut.


Dengan tubuh yang masih basah, begitu juga rambut dan wajah Louis yang basah, perlahan dia mendekati wajah Vanya "aku tidak berbohong,gadis manis.."


"Jangan menyebutku seperti itu" lirih Vanya sambil memalingkan wajahnya.


"Karena kamu memang manis,Vanya.." bisik Louis "kamu mau menjadi kekasihku?".


Mata Vanya terbelak "ja..jangan bercanda!".


"Aku serius"


Vanya menatap Louis yang juga menatapnya begitu serius dan...dalam, "a...aku... pergilah!" sahur Vanya sambil mendorong tubuh Louis "keringkan dulu tubuhmu yang basah itu!".


Tubuh Louis terdorong sedikit karena Vanya, "apakah jika aku mengeringkan tubuhku,kamu akan memberiku jawaban?"


"Ja..jangan berharap!" tukas Vanya yang masih tersipu.


Louis tersenyum "aku mengerti..aku akan memberimu waktu,Vanya.. aku akan menunggumu.." sahut Louis lalu masuk ke dalam kamar mandi Vanya.


Vanya memegang pipinya yang terasa panas, "ada apa denganku? Pasti semua karena air hujan, aku pasti demam.." sahut Vanya sambil mencoba menenangkan dirinya dan juga jantungnya yang hampir mencuat keluar karena Louis.


Tidak lama kemudian,Louis berjalan keluar dengan pakaian yang telah digantinya. Louis menatap Vanya tajam "Aku ingin berterima kasih,Vanya.. tapi.. sepertinya aku butuh jawaban tentang pemilik dari pakaian ini.." sahut Louis. Baju kaos berwarna putih dan celana training panjang berwarna abu-abu muda, Louis mengenal merk pakaian tersebut, dan dia merasa aneh karena Vanya memiliki pakaian pria di rumahnya.


Vanya menatap Louis dengan bingung, "tentu saja milikku"


"Ini pakaian laki-laki, Vanya. Katakan padaku milik siapa?!" tanya Louis serius "apakah kamu telah memiliki kekasih?".


__ADS_1


__ADS_2