Hotel Prince

Hotel Prince
Why I'm so lonely


__ADS_3

I'm speechless I want to be like couples


in the movies


nananannan I want that kind of love


Baby why I'm so lonely


I'm so desperate, but you're not


Baby no, my heart


I don't know when you will leave me


•Wonder Girls•


"aku memiliki urusan lain,Edward" sahut Luckas. sejak kehilangan Lidya,Luckas semakin menutup dirinya dengan dunia luar, dia semakin jarang bersosialisasi dengan orang lain dan hal itu sangat membuat Edward khawatir.


"jika urusan yang dimaksud adalah rapat dengan para staf,anda tidak perlu khawatir.. aku akan mengaturnya di hari lain" balas Edward.


Luckas menghela nafas panjang, "baik..baiklah.. aku akan pergi" Luckas terdiam menatap foto Lidya yang ada di mejanya "mungkin memang seharusnya aku sedikit beristirahat dan melihat dunia luar sebentar" Luckas mengalihkan pandangannya ke arah Edward "untuk rapat,tidak perlu kamu ganti di hari lain, aku ingin kamu yang memimpinnya.."


Edward mengangguk "anda dapat tenang dan menyerahkannya padaku,sir.. dan aku akan segera menyiapkan hadiah untuk pernikahan kenalan anda. Dan tentunya pakaian terbaik anda"


Luckas tersenyum "terima kasih,Edward"



Suasana vintage memenuhi ruangan pesta, seluruh dekorasi dan bahkan para undangan memakai baju berbau vintage, Luckas tertawa dalam hati "pantas saja Edward memberiku pakaian aneh ini.." ucap Luckas dalam hati saat melihat dirinya di baluti jas dan celana berwarna coklat dengan gaya vintage.


__ADS_1


Pesta tersebut diselenggarakan di salah satu hotel di kota New York. Sebelumnya hotel tersebut hampir diambang kehancuran tapi tidak lama kemudian mereka mengganti konsep mereka dan menonjolkan pelayanan terbaik mereka di hall mereka. Hall Hotel mereka menjadi favorit dan merupakan salah satu daya pikat dari pihak hotel. Mereka menyediakan tema pesta sesuai dengan yang diinginkan para kliennya,dan dengan berbagai fasilitas dan pelayanan yang akan sangat memuaskan kliennya. Luckas menatap sekeliling,dia mengagumi ide brilian ini.



Pakaian ala retro di tubuh Luckas,tidak mengurangi ketampanannya..dan malah menambah daya pikat dirinya yang sanggup menarik lawan jenis tanpa susah payah. Begitu dirinya berada ruangan itu,tidak sedikit wanita yang mulai meliriknya bahkan mencoba mendekatinya. Luckas berusaha keras menghindar mereka dan mencari kenalannya untuk menyapa dan memberikannya hadiah. Luckas bisa saja memberikan hadiah pernikahan di meja depan yang tersedia,tapi dia memilih bertemu langsung dengan kenalannya terlebih dahulu.



Luckas menepuk bahu sang mempelai pria yang terlihat begitu bahagia. "Luckas!!! kamu datang!! terima kasih,sobat!!" ucap Benny,kenalannya.



"aku yang berterima kasih padamu telah mengundangku,Benny" ucap Luckas sambil menyalaminya "dan ini ada sedikit hadiah dariku untuk kalian..semoga kalian berbahagia selalu.. dan segeralah memiliki momongan!"lanjut Luckas sambil menyodorkan amplop berisi beberapa lembar uang.



Benny tertawa "terima kasih,sobat..dan kamu tidak perlu khawatir sebab..." Benny mendekatkan mulutnya pada telinga Luckas "aku akan segera menjadi ayah"




Benny kembali tertawa "tidak perlu,sob!! dia telah menjadi hadiah terbaik bagiku... oh ya.. bersenang-senanglah malam ini.. aku harus menyapa tamu lain sebelum acara dimulai" sahut Benny sambil berjalan pergi menyapa tamu-tamu lain yang mulai berdatangan.



Sepeninggalan Benny,Luckas mengambil segelas wine merah dari baki salah satu pelayan yang melewatinya. Seorang Luckas Ryans yang terlihat sendirian,hal itu tidak dilewatkan oleh para wanita dan gadis-gadis muda yang mencoba mendekatinya, dengan sopan..Luckas mengambil jarak dari mereka. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan baginya untuk tidak ingin hadir di acara seperti ini. Perlahan-lahan,Luckas berjalan menuju pintu yang mengarah di balkon. Balkon terlihat sepi tanpa ada orang lain,terutama para wanita dan gadis mudah yang mencoba mendekatinya. Luckas menghela nafas, menyeruput wine yang ada ditangannya sambil memandang pemandangan.



'*Lidya..aku sungguh merindukanmu*' lirihnya dalam hati. Suasana terdengar begitu ramai di dalam ruangan,sepertinya acara resepsi pernikahan telah dimulai, Luckas tidak terlihat ingin kembali ke ruangan itu. Rasa rindunya pada Lidya begitu kuat hingga membuatnya meneguk habis seluruh isi wine yang di gelasnya seakan berharap wine itu mampu membuatnya menghilangkan rasa rindunya pada Lidya.

__ADS_1



Tiba-tiba dia merasakan ada tarikan kecil di bagian bawah celananya, Luckas menoleh..sosok malaikat kecil yang memakai jas hitam mungil memegang celana Luckas,dan dia terlihat ingin menangis.



"Mommy..mommy.." isak anak laki-laki itu.



Luckas tersenyum melihat malaikat kecil itu, anak itu sangat tampan dan imut..membuat Luckas tidak kuasa menahan untuk menggendongnya.



"Halo..ksatria.. kamu kenapa? terpisah sama mama ya?" tanya Luckas.



Anak kecil itu mengangguk dan matanya terlihat merah menahan air matanya.



"Bagaimana jika paman membantumu mencari mamamu?" anak itu mengangguk cepat "tapi..sebelumnya kamu harus berjanji untuk tidak menangis" anak itu kembali mengangguk dan menyeka matanya.



"anak pintar.." sahut Luckas "boleh kasih tahu paman..nama kamu siapa??"



"ai..les" Luckas tertawa mendengar nada cedal anak laki-laki itu,bahkan dia terlihat semakin imut saat menyebutkan namanya.

__ADS_1



__ADS_2