Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Salahku


__ADS_3

Di salah satu rumah sakit di kota New York,


Dalam salah satu ruangan VIP, terlihat Vanya yang terbaring lemah tidak sadarkan diri. Louis yang masih berada di sampingnya,memegang tangannya dengan wajah yang sembab.


"Miss Vanya mengalami pendarahan hebat dan begitu dengan kandungannya. Kami meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan bayi dalam kandungan Miss Vanya,sir.. Dan untuk Miss Vanya,tabrakan yang begitu kuat mengenai kepalanya sangat berkemungkinan berakibat fatal, tapi..kami telah berusaha semaksimal mungkin, semoga miss Vanya bisa melewati masa kritisnya malam ini.."


Ucapan dokter terngiang-ngiang berulang kali di telinga Louis, Louis menatap perut Vanya yang telah rata kembali, hal itu kembali membuat Louis menitikkan air mata, "apa yang harus aku katakan pada Vanya nantinya" lirih Louis dalam hati.



Keesokan paginya, semalaman Louis duduk di samping Vanya,menatap dan hanya bisa mengharapkan Vanya yang kembali sadar hingga akhirnya dia tertidur. Suara ketukan pintu membangunkan Louis dari tidurnya.



"Selamat pagi,sir.." sapa salah satu suster "saya akan menggantikan infus dari miss Vanya ya"



Louis mengangguk, kedatangan suster membuat Louis sedikit lega untuk meninggalkan Vanya sejenak. Louis berjalan menuju kamar mandi lalu pergi ke kafetaria rumah sakit untuk mengisi perutnya yang kosong sejak semalam. Kecelakaan yang menimpa Vanya,membuat Louis tidak merasakan lapar sedikitpun.



Selang setengah jam kemudian,Louis kembali ke kamar Vanya dan menyadari ada dua tamu yang berada di kamar tersebut. Louis bahkan tidak ingin menyapa ataupun melihat mereka.



"Louis sayang.." sahut Ruby sambil mendekati Louis. Louis menepisnya dan menatap tajam kearah Ruby.



"Louis.." sahut Peter "kami datang untuk menjenguk Vanya.."



Louis hanya diam lalu berjalan mendekati Vanya, "pergilah!!" tukas Louis dingin.



Ruby mendekati Louis, "kamu terlihat pucat,sayang.. ikutlah denganku.. kamu harus istirahat yang cukup" sahut Ruby lembut.



Louis kembali menepis tangan Ruby yang mencoba menggenggam lengannya, "enyah dari hadapanku!"



Raut wajah Ruby seketika berubah, "kamu telah menjadi milikku,Louis!" bisik Ruby tiba-tiba.



Bisikan yang membuat Louis terbengong, "aku? tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi milikmu,Ruby!!" tukas Louis dingin.



"Kamu melupakan apa yang terjadi diantara kita?!" sahut Ruby.



"Ki--!!" genggaman tangan Vanya yang lemah di tangan Louis,membuat Louis menghentikan pembicaraan mereka, "Vanya?? Kamu telah sadar???. Ya Tuhan..terima kasih.. terima kasih,sayang.." sahut Louis penuh lembut sambil mengecup kening Vanya.



Peter mendekati Vanya, "Vanya?".



Ruby melipat kedua tangannya, dia tidak berniat mendekati Vanya. Tujuan kedatangannya hanya mengambil Louis kembali, dan karenanya..Ruby memaksa ikut bersama Peter saat mengetahui Peter yang bermaksud ke rumah sakit untuk menjenguk Vanya.



"A..aku dimana?" tanya Vanya lemah.



"Jangan berbicara dulu,Vanya.." bisik Louis.

__ADS_1



"Aku akan memanggil dokter.." sahut Peter yang diiringi anggukan kepala Louis. Peter berjalan keluar, sebelumnya dia melirik Ruby yang hanya diam, Peter mendekati adiknya, "jangan berbuat ataupun mengatakan hal yang tidak sepantasnya!" bisik Peter.



Ruby melirik abangnya dengan kesal, "sesukaku!"



Peter menarik Ruby semakin mendekatinya, "kita telah berhutang banyak pada Vanya karena kecelakaannya.. jangan membuatku semakin berhutang padanya!" bisik Peter kembali.



Tanpa sepatah katapun keluar dari mulut Ruby, Ruby hanya memutar kedua bola matanya sambil mengejek Peter yang telah keluar dari ruangan Vanya.



Vanya menatap Louis, "aku dimana?" bisik Vanya dengan lemah.



"Kamu di rumah sakit,Vanya.." sahut Louis sambil mengelus kepala Vanya dengan lembut.



"Ru..rumah sakit??" seketika Vanya mengingat kecelakaan yang menimpanya, Vanya merasakan sakit di kepalanya yang teramat sangat.



Louis panik karena rintihan Vanya, "Vanya.. tenangkan dirimu.."



"Ka..kandunganku.. kandunganku.." Vanya meraba perutnya yang telah rata, "anakku..anak kita,Louis.. kemana anakku????!!!" tanya Vanya sambil terisak histeris, "anakku,Louisssss!!!"



Air mata mengalir dari kedua bola mata Louis,dia tidak sanggup melihat Vanya yang begitu kehilangan. Suara isakan Vanya bagaikan pisau yang mengiris-iris hati Louis, "maafkan aku.." bisik Louis sambil terisak.




"RUBY!!" suara bentakan Louis membuat Ruby terkejut, Louis yang selama ini begitu lembut pada wanita dan juga padanya, tapi sekarang.. dia bahkan membentak Ruby, "KELUAR KAU!!".



"Tidak!! Tidak!! Anakku!! Louis..ini salahku!! ini semua salahku!! Aku tidak menjaga anak kita dengan baik.." Vanya kembali histeris setelah mendengar ucapan Ruby, Vanya mencoba melepaskan selang infusnya.



Bergegas Louis menahan dan memeluk Vanya, "apa yang kamu lakukan??. Kamu belum boleh berdiri!!"



"Lepaskan aku!!. Jangan menyentuhku!!" pekik Vanya "ini semua karenamu!!. Andai saja kamu tidak bersamanya!!" pekik Vanya kembali.



Dokter dan para suster masuk ke dalam ruangan, bergegas menenangkan Vanya dan memeriksa kondisinya. Salah satu suster dengan tenang,menyuruh Peter,Ruby dan juga Vanya untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu.



Di depan kamar,Louis hanya bisa terisak merasa bersalah. Peter melirik Ruby dengan tajam, "jangan kamu katakan jika kamu telah melakukan hal bodoh?!"



Ruby tersenyum melihat kakaknya, "aku tidak melakukan apapun.. hanya saja.. aku mengatakan kebenaran supaya Vanya sadar.."



"Kamu!!" Peter mengepal kedua tangannya, mencoba menahan emosi yang hampir memuncak. Jika saja wanita yang berada di depannya bukan adik kandungnya sendiri, mungkin Peter telah tidak segan-segan untuk menampar wajah mungil itu.


__ADS_1


Ruby berjalan mendekati Louis, "Louis..ikutlah bersamaku.. kamu harus istirahat.." sahutnya sambil memeluk Louis.



*Brak*!!



Louis mendorong Ruby hingga terjatuh, "PERGI!! DAN ENYAH DARI HADAPANKU!!" pekik Louis.



"Ruby!!" Peter bergegas membantu Ruby berdiri, "apa yang kamu lakukan padanya?!!!" bentak Peter.



"Kalian berdua pergilah!! Kedatangan kalian hanya membuat semuanya semakin kusut!!" tukas Louis.



"Aku akan pergi!" sahut Ruby, "asalkan kamu ikut denganku!!"



"Wanita gila!" balas Louis.



"Jaga ucapanmu!!" tukas Peter dingin.



Ruby menarik tubuh abangnya,lalu menggelengkan kepalanya. Ruby tidak keberatan dengan ucapan dan perlakuan Louis, selama Louis bisa menjadi miliknya.



Dokter kembali keluar dari ruangan Vanya, Louis mendekati sang dokter untuk menanyakan kondisi Vanya.



"Miss Vanya,telah melewati masa kritisnya.." Louis bernafas lega saat mendengar ucapan dokter "namun,untuk sementara waktu jangan membuatnya stress terlebih dahulu.. biarkan miss Vanya memulihkan diri dan menenangkan dirinya terlebih dahulu.." sahut dokter.



Louis mengangguk, "apakah saya boleh masuk ke dalam?"



"Miss Vanya tidak ingin bertemu dengan siapapun.." sahut salah satu suster yang baru keluar dari ruangan Vanya, " dia menolak kunjungan siapapun.. tapi.. siapa diantara kalian yang bernama Peter?" tanya suster sambil menatap Louis dan Peter bergantian, "Miss Vanya hanya ingin bertemu dengannya.."



Louis menatap Peter dengan kesal, dia tidak menyangka jika Vanya lebih memilih ingin bertemu dengan Peter daripada dirinya.



Peter berjalan masuk ke dalam ruangan Vanya,menatap Vanya yang telah kembali terbaring lemah.



"Hei.." bisik Peter lembut.



Vanya mencoba tersenyum.



"Bagaimana perasaanmu?" tanya Peter kembali.



"Peter.." lirih Vanya lemah, Peter menundukkan kepalanya mencoba mendengar ucapan Vanya yang masih lemah, "bawa aku ke Beijing.."


__ADS_1


__ADS_2