Hotel Prince

Hotel Prince
I'm coming


__ADS_3

The strength that still keeps me going


The reason that I hunger for


Is the fear deep in my heart


The voice that can be heard every time I feel like fainting


Now is not the time to rest, don’t forget the hard times


•Rain•



Luckas berjalan keluar dari hotel DeParis dengan tergesa-gesa sambil meraih ponselnya menelepon Edward.



Edward yang terbangun dari mimpinya, menatap layar ponsel yang tertera nama bosnya..tanpa menunggu lama,Edward langsung mengangkat teleponnya.



"Sir--"



"maaf jika aku mengganggumu,Edward.."



"tidak..anda tidak menggangguku..saya belum tidur,sir.." bohong Edward.



Luckas bernafas lega "aku ingin penerbangan paling cepat menuju Lexington.."



Edward mengerutkan keningnya "Lexington?"



"Lidya berada disana..aku harus segera kesana,Edward"

__ADS_1



"baik,sir..saya mengerti!"



Luckas mengakhiri teleponnya dan bergegas kembali ke penthousenya untuk mengemas beberapa pakaiannya. Dan tidak lama kemudian, ponselnya pun berdering.



"bagaimana Edward?"



"dewi keberuntungan sedang berpihak pada anda sir.. dua jam lagi ada penerbangan ke Lexington dan merupakan penerbangan terakhir untuk hari ini.. saya akan segera mengantar anda ke bandara,sir"



"terima kasih..terima kasih,Edward.."



Setengah jam kemudian, Luckas dan Edward telah berada dalam mobil perjalanan menuju bandara. Sesampai di bandara,Luckas bergegas turun..




"aku sudah mengatur mobil dan supir yang akan menjemput anda setibanya di sana.." lanjut Edward "semoga anda dapat bertemu Miss Lidya segera, sir.."



Luckas tersenyum dan mengangguk.



Lexington,


Seharian ini toko roti milik orang tua Lidya sangat ramai akan pengunjung,Lidya bahkan tidak sempat berbicara dengan Darren..namun Darren malah terlihat begitu menikmati dirinya yang membantu di toko roti Lidya, tanpa menunggu lama..Darren menjadi idola bagi wanita yang berbelanja di toko mereka. Dan karenanya..toko mereka tutup lebih cepat dari biasanya karena stok roti yang telah habis di borong pelanggan.


Sore itu,Lidya dan Belinda kembali berkutat di dapur..mempersiapkan makan malam mereka. Louis menyarankan Darren untuk makan malam bersama mereka,namun Darren menolaknya dengan sopan dan mengatakan ingin kembali ke hotel. Ronald yang mendengar hal itu segera menahan Darren untuk menginap di rumah saja.


"sangat tidak sopan jika kami membiarkanmu pergi tanpa menaktirmu makan malam,Darren.. bahkan kamu yang baru tiba harus lelah membantu kami seharian di toko.." sahut Ronald.

__ADS_1


"jangan berkata seperti itu,sir.. aku sangat menikmati hari ini. Rasanya aku tidak pernah menikmati hariku begitu santainya sama seperti hari ini...dan bahkan dikelilingi oleh aroma roti yang begitu menggiurkan.." sahut Darren.


"Kamu sangat pintar berkata-kata,anak muda.." sahut Belinda sambil meletakkan sop krim jagung yang baru matang diatas meja makan.


Darren menatap Belinda dan tersenyum "aku berkata jujur,madam..terutama roti coklatmu merupakan favoritku!"


"Ailes uga..Ailes uga!!" sahut Ayles seketika saat mendengar roti coklat,membuat semua orang tertawa.


"iya,sayang...Ayles suka roti coklat grandma?" tanya Belinda.


Ayles mengangguk kencang "cuka,emmaa".


Belinda mengecup pipi tembem cucunya itu.


Setelah makan malam,Belinda dan Lidya membersihkan kamar tidur Louis untuk ditempati Darren malam ini. Belinda sesekali melirik anak perempuannya,dia begitu ingin menanyakan sesuatu tapi dia juga ragu. Lidya tersenyum karena sejak tadi telah menyadari lirikan ibunya. Lidya menatap ibunya "apa yang mau mom tanyakan?" tanyanya.


Belinda tersenyum canggung "tahu aja.."


"lirikan mata mom sejak tadi seakan menusukku dari belakang,mom.."sahut Lidya sambil tertawa.


Belinda terkekeh "mom ingin bertanya.. apa hubunganmu dengan Darren?. Setahu mom, namanya bukanlah yang disebutkan Louis pada mom"


"kami hanya berteman,mom..tidak lebih dari itu! Dan..ya,mom benar..dia bukan ayah Ayles" jawab Lidya.


"Kamu yakin dia juga menganggapmu sebagai teman saja?"


Lidya terdiam "apapun anggapannya..bagi Lidya,dia hanyalah temanku dan tidak akan lebih dari teman. Darren pria yang baik,mom..dia pantas mendapatkan yang lebih baik dariku" sahut Lidya.


"hei..anak perempuanku juga pantas mendapatkan yang terbaik!!" sahut Belinda.


Lidya tertawa "terima kasih,mom.."


"Lidya..apapun atau siapapun pilihanmu.. Mom dan Dad akan tetap mendukungmu. Dan ingatlah,siapapun yang menjadi pilihanmu..baik buruknya dia,itu adalah konsekuensi dari pilihanmu sendiri" sahut Belinda yang membuat Lidya terdiam "ingat,Lidya..ikuti kata hatimu..dan berbahagialah.. selamanya mom dan dad selalu di belakangmu"


Mata Lidya berkaca-kaca dan memeluk ibunya "terima kasih,mom..Lidya begitu bersyukur memiliki ibu seperti mom.."


"mom juga sangat bersyukur memilikimu,sayang"


Percakapan yang mengharu biru tersebut membuat mereka tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di balik pintu kamar tersebut dan mendengar semua percakapan antara ibu dan anak itu. Hatinya sedikit merasa sakit setelah mendengar percakapan mereka.


'dia hanyalah temanku dan tidak akan lebih dari teman'. Kalimat yang keluar dari mulut Lidya begitu menusuk hatinya.


__ADS_1


__ADS_2