
Ruby hanya terdiam,air mata mengalir dari kedua matanya.. terisak. Dia telah putus asa hingga memutuskan untuk memohon pada Louis. Seumur hidup Ruby tidak pernah membayangkan akan berlutut memohon pada seseorang. Dia yang selama ini begitu angkuh dan arogan, akhirnya harus berlutut memohon pada Louis.
"A..aku telah putus asa,Louis.. Tidak ada pengacara yang mau membantu Peter, walaupun ada..aku yakin hanya pengacara yang tidak berkompeten. Setiap mendengar nama kalian, pengacara yang awalnya menyetujui kasus Peter,langsung mundur begitu saja" isak Ruby "ayah dan ibuku terpuruk.. satu-satunya hanya kebebasan Peter yang mampu membantu mereka bangkit kembali"
"Pergilah.." sahut Louis pelan, "aku tidak bisa memenuhi permintaanmu.. Peter....." Louis terdiam "....tetap harus membayar semua perbuatannya!"
Ruby berdiri dengan kepala menunduk, tidak ada harapan ataupun hasil walaupun dia harus berlutut seharian..namun, sebelum datang menemui Louis..Ruby sendiri juga telah menyadari peluang untuk menang sangatlah kecil. Tapi demi ibunya..Ruby rela melepaskan semua harga dirinya untuk menemui Louis.
Perlahan Ruby melangkahkan kakinya menuju pintu, Louis melirik Ruby yang terlihat begitu putus asa.
"Ruby.." sahut Louis.
Perlahan Ruby menoleh menatap Louis.
"Maafkan aku yang tidak bisa membantumu tentang Peter" sahut Louis datar yang hanya di balas dengan senyuman datar juga oleh Ruby, "dan..aku juga meminta maaf karena mengambil ponselmu diam-diam".
Ruby tersenyum kecut, "aku sudah memaafkanmu sejak dulu.. aku.." Ruby terdiam "...aku sudah terlalu lelah untuk berperang terus menerus"
Kediaman Simon Lee,
Ruby kembali ke rumahnya dengan lemas. Dia berdiri di halaman rumahnya, menatap rumahnya dengan putus asa. Rumah yang besar dan indah,namun didalamnya tidak seindah dan sehangat yang terlihat.
Ruby menarik dan menghela nafas panjang,dengan langkah berat..dia masuk ke dalam rumah. Baru saja masuk,dia melihat ayahnya yang duduk dengan tatapan hampa di ruang tamu.
Perlahan Simon Lee menoleh melirik Ruby, "kamu darimana?" tanya Simon dengan suara lesu.
"Aku.. hanya keluar jalan-jalan sebentar" dalih Ruby.
Simon Lee kembali terdiam, Ruby yang awalnya ingin pergi ke kamar Sharron akhirnya mengurungkan niatnya.. dia mendekati Simon.
__ADS_1
"Papa.." sahut Ruby sambil duduk di dekat sang ayah.
Simon menatap Ruby lalu tersenyum kecut.
"Apa ada masalah,pa?" tanya Ruby kembali.
Sebuah anggukan lesu menjawab pertanyaan Ruby.
"Apakah masalah pekerjaan?" tanya Ruby.
"Mengapa papa berkata seperti itu?!" tukas Ruby.
"Papa.. gagal sebagai ayah..dan juga suami bahkan sekarang gagal sebagai seorang pebisnis" jawab Simon dengan air mata yang perlahan menitik.
"A..apa?!" sahut Ruby yang terkejut akan jawaban dan air mata sang ayah.. Simon Lee yang biasa begitu tegas,Ruby bahkan tidak pernah melihat air mata sang ayah..tapi,tidak dengan hari ini, "ada apa dengan perusahaan,pa?"
"Berita tentang abangmu ternyata mempengaruhi bisnis papa... Banyak yang membatalkan proyek mereka. Papa takut... jika terus seperti ini, maka.." Simon Lee menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "...Lee's Ship tidak akan dapat bertahan"
"Papa.."
__ADS_1
Simon menarik nafas dan menatap Ruby lalu tersenyum kecut kembali, "papa..papa harus bagaimana,Ruby.. Kondisi ibumu yang masih terpuruk.. Peter yang ditangkap.. sekarang,usaha papa yang hampir bangkrut.. papa..papa sungguh hancur,Ruby"
Ruby memeluk ayahnya, "tidak..tidak akan,pa!! Kita harus bangkit kembali!!.. Ruby akan membantu papa!!"
Kediaman Luckas,
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu membuat Vanya yang tengah asyik membaca buku,menoleh ke arah pintu. Sebuah senyuman manis langsung menghiasi wajahnya, dia menutup buku yang ada di tangannya lalu bangkit berdiri.
"Lidya.." sapa Vanya.
Lidya membalas senyuman Vanya lalu masuk ke dalam kamar tamu yang ditempati Vanya. Kedua tangan Vanya terlihat membawa segelas jus semangka yang baru saja di buat oleh Desya. Lidya menyodorkan segelas jus tersebut pada Vanya.
"Lidya.. kalian terlalu memanjakanku.. aku rasa,jika lebih lama disini..aku akan gemuk" sahut Vanya sambil menerima jus dari Lidya.
Lidya tertawa, "Louis tidak akan keberatan akan hal itu tentunya,Vanya.."
Vanya tertawa, "aku yang keberatan.."
Lidya menyeruput jus semangka yang segar itu,cuaca panas yang menyengat..segelas jus semangka yang segar sangat cocok untuk siang itu.
"Ah.. aku lupa memberitahumu.. Louis tadi meneleponku dan dia berkata akan mengajakmu dan kami untuk makan malam bersama" sahut Lidya.
"Benarkah? Tapi dia tidak memberitahuku.." sahut Vanya.
"Dia sedang sibuk dengan Luckas,Vanya.. Jadi saat aku meneleponnya,dia meminta tolong padaku untuk memberitahumu"
Vanya mengangguk, "baiklah.."
"Oh ya.. kedua orang tuaku akan datang ke New York.. mungkin tiga hari lagi.."
Vanya menelan salivanya dengan susah payah, "Be..benarkah?"
__ADS_1