
Some people want diamond rings
Some just want everything
But everything means nothing
If I ain't got you, yeah
•Alicia Keys•
"ta--" kalimat Luckas terhenti karena Lidya memegang tangannya. Luckas menatap Lidya yang menggelengkan kepalanya pada suaminya supaya menghentikan ucapannya,walau Lidya tahu niat Luckas adalah untuk kebaikan Louis sendiri.
"Louis..apapun itu,kami selalu ada untukmu.. kapanpun kamu membutuhkan kami..ok?" sahut Lidya.
Louis tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya "tentu saja!! aku--"
Suara dering ponsel Louis menghentikan percakapan mereka. Louis menatap ponselnya dengan bingung karena nomor yang meneleponnya adalah nomor yang tidak dikenalnya.
"Halo?" sahut Louis.
"Benarkah ini dengan sir Louis Claristo?"
"benar..dengan saya sendiri.." jawab Louis "ini siapa ya?"
"jadi begini sir Louis.. kami dari Lee's Ship.. kami hanya ingin memberitahu jika anda kami terima untuk bekerja bersama kami.."
__ADS_1
"ha? Bukankah tadi kalian sendiri mengatakan jika saya tidak diterima?" sahut Louis "*bahkan aku memaki kalian didepan perusahaan kalian*.." lanjutnya dalam hati tentunya.
"benar.. dan kami minta maaf akan hal itu,karena sepertinya ada kesalahan dengan pihak personalia kami.. jadi sir Louis..apakah anda berniat untuk bekerja di perusahaan kami?" tanya wanita itu dengan sopan.
Louis terdiam "ya..bolehlah.."
Kali ini giliran wanita itu yang kebingungan, jawaban dan reaksi Louis sangat baru di telinganya. Dimana biasanya orang-orang akan menjerit kegirangan atau berterima kasih berulang-ulang.
"hem..ehmm.. baiklah..anda bisa mulai bekerja besok.. terima kasih dan selamat siang,sir Louis.." sahut wanita itu.
"yo!! yo.. bye!!" jawab Louis sambil menutup teleponnya.
"perusahaan bodoh mana yang mau merekutmu?" tanya Luckas yang sontak mendapat pukulan di tangannya dari Lidya.
"Lee's Ship.." jawab Louis singkat sambil kembali menikmati makanannya.
"Kamu bercanda,Louis? Lee's Ship salah satu perusahaan ekspedisi yang terbesar di New York itu yang kamu maksud?"
"tentu saja,tuan besar.. berapa banyak perusahaan yang bernama Lee's Ship?" sahut Louis sambil memutar kedua bola matanya.
"apapun itu.. selamat adik kecilku!" sahut Lidya sambil mengangkat gelasnya.
__ADS_1
Louis membalas dengan mengangkat gelasnya "terima kasih,Lidya.."
Perusahaan Lee's Ship.
tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu memenuhi kantor milik Simon Lee,pemilik perusahaan Lee's Ship. Simon Lee seorang pria Asia yang berasal dari China, dia merintis Lee's Ship sejak dia masih muda dan akhirnya bisa maju hingga saat ini. Hingga dia bertemu dengan istrinya Sharron Trey, yang dulunya merupakan pegawainya sendiri. Simon telah menaruh hati padanya sejak pertama kali bertemu dan akhirnya memberanikan dirinya mengajak Sharron untuk menikah dengannya. Keduanya dikaruniai sepasang putra dan putri yang telah beranjak dewasa.
"masuk" sahut Simon.
Sekretarisnya,David perlahan masuk kedalam ruangan besar Simon "semuanya telah selesai,bos.." sahutnya.
"Baiklah..kamu bisa pergi.." sahut Simon sambil melirik wajah putrinya yang sudah terlihat gembira.
David mengangguk dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Sudah? jadi..kamu harus menepati janjimu itu" sahut Simon lembut sambil menatap putrinya.
Ruby Lee,putri dari Simon Lee. Simon Lee telah menyuruhnya untuk belajar akan usaha yang dirintisnya. Putranya,Peter Lee telah memegang Lee's Ship yang berada di cabang Beijing,China dan Simon menginginkan putrinya bisa memegang yang ada di New York ini.
Ruby Lee tersenyum dan memeluk lengan ayahnya dengan manja "papa paling baik..terima kasih,papa.. Aku akan mulai kerja besok.."
Simon tertawa "dasar anak manja.. tapi ada satu hal yang harus kamu tahu.. papa akan merahasiakan statusmu saat bekerja disini.. dan kamu akan memulainya dari bawah,Ruby.."
Wajah Ruby seketika berubah cemberut "mengapa begitu?"
"papa ingin kamu belajar semuanya dari nol. Supaya kamu lebih memahami tentang bisnis papa..jangan mau enaknya dong.." goda Simon "yah..walau beberapa orang telah mengenalmu..tapi tidak semua pegawai papa yang dilantai bawah mengenalmu,Ruby dan itu hal yang baik"
"mengapa?" tanya Ruby.
"Dengan begitu,mereka akan memperlakukanmu setara dengan anak magang lainnya" jawab Simon "dan kamu akan papa tempatkan dibagian yang sama dengan pria yang kamu katakan tadi.."
Seketika wajah Ruby berubah "jika begitu..aku ok,pa" sahutnya sambil beranjak keluar dari kantor ayahnya.
"lho? tapi katanya mau temanin papa makan siang?" tanya Simon.
"lain kali,papa sayang.. aku harus bersiap-siap untuk besok!!" sahut Ruby sambil ngeluyur pergi begitu saja.
Simon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya "papa tidak terlalu memanjakanmu bukan,Ruby?" gumamnya sendiri.
__ADS_1