
Berulang kali Louis berjalan mondar mandir di depan pintu ruang operasi. Kedua kakinya tidak berhenti berjalan,dia tidak sanggup jika harus hanya duduk menunggu Vanya.
"Sial!!" bisiknya pada dirinya sendiri.
Louis menyalahi dirinya sendiri atas apa yang menimpa Vanya. Dia menyalahi dirinya yang terlalu lama tiba ke rumah Vanya.
"Sial!!!" pekiknya kembali.
Tidak lama kemudian, Chandra berlari menghampiri Louis. Sesaat setelah Vanya di dorong masuk ke dalam ruang operasi,Louis bergegas menelepon Chandra. Dia ingin Chandra mengurus laporan ke pihak berwajib. Sedangkan Louis.. dia hanya ingin berada di dekat Vanya.
"Sir.." lirih Chandra. Mendengar kondisi Vanya juga membuatnya sedih dan terpukul juga.
Louis menatap Chandra dengan tatapan yang bahkan tidak dapat dibaca Chandra. Sedih, marah, kesal, pedih, sesal berkumpul menjadi satu.
"Bagaimana dengan keadaan miss Rose?" tanya Chandra perlahan.
Louis hanya membisu dengan wajah yang sama, "kamu sudah mengurus semuanya?"
Chandra mengangguk, "sudah,sir.. pihak berwajib telah ke lokasi dan mengamankan lokasi" sahut Chandra, "dan.. sepertinya mereka akan segera menemui anda untuk meminta penjelasan lebih lanjut".
__ADS_1
Louis terdiam lalu mengangguk, "apa yang mereka katakan? Apakah perampokan atau..." Louis menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya terasa begitu kering, "...murni hanya pem..bunuhan?" tanyanya.
Chandra menggelengkan kepalanya, "mereka belum pasti,sir.. sedang mereka selidiki. Namun.. mereka beranggapan jika ini bukanlah perampokan.." jelas Chandra lalu terdiam, "mereka sangat berharap jika Miss Rose dapat segera sadar.. sebab itu akan sangat membantu proses penyelidikan mereka".
Louis menatap pintu ruang operasi tersebut, "aku juga berharap demikian.." lirihnya.
Chandra terdiam,dia ikut merasakan kepedihan yang di alami atasannya.
"Chandra.. bantu pihak berwajib.. aku ingin mendapatkan hasil penyelidikan.. secepatnya!! Dengan atau tanpa harus menunggu Vanya sadar!!" sahut Louis dingin "Aku ingin memberi pelajaran pada pelakunya.. siapapun dia!! Hukuman berat akan menantinya!!" pancaran mata yang dingin dan suara yang tegas, membuat Chandra merasa sedikit ketakutan. Melihat apa yang dialami Vanya telah membuat Louis layaknya harimau yang baru saja terluka.
Dengan cepat Chandra mengangguk, menuruti perintah Louis sekarang hanya satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk membantu Vanya.
"Siap, sir!" sahut Chandra.
Louis menghela nafas, "kamu boleh pulang,Chandra.. Mungkin aku tidak akan bisa masuk ke kantor.. Kamu harus berada di sana untuk mewakiliku". Chandra kembali mengangguk dan berpamitan pada Louis.
Perlahan, langit mulai terlihat terang. Suasana rumah sakit masih tetap sunyi, karena waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Terutama di koridor tempat Louis berdiri.. hanya menyisakan dia seseorang yang tengah berdiri,terkadang duduk..menanti Vanya yang masih berada di dalam ruangan yang tidak dapat di masuki oleh Louis.
Tidak ada lagi rasa ngantuk, lapar, lelah.. Yang ada hanyalah rasa takut, cemas, marah. Takut akan terjadi sesuatu pada Vanya.. Cemas akan kondisi Vanya.. Marah atas apa yang terjadi pada Vanya.
__ADS_1
Di saat itu pula, pintu ruang operasi tersebut perlahan terbuka.. membuat irama detak jantung Louis semakin memacu kencang. Dia menghampiri dokter yang juga terpancar lelah di wajahnya.. 'Berperang' selama beberapa jam berusaha menolong nyawa seseorang,bukanlah hal yang mudah.
Louis menghampiri dokter Rudy, beliau merupakan dokter bedah terkenal di Bali. Louis dan juga Vanya sangat beruntung karena dapat bertemu dengan dokter Rudy, tepat sebelum beliau pulang.
"Dokter.." sahut Louis dengan suara parau, menunggu semalaman tanpa makan ataupun minum,membuat suara Louis terdengar begitu serak.
Wajah dokter Rudy terlihat muram, "pisau yang menancap di tubuh nona itu, lumayan dalam.. dan melukai organ dalamnya.."
Serasa bagaikan langit runtuh menimpanya saat mendengar ucapan dokter Rudy.. Louis hampir kehilangan tenaga di kedua kakinya.
"Kita lihat perkembangan nona Vanya.. jika dia dapat melewati masa kritis ini.. maka,dia akan baik-baik saja.." sahut dokter Rudy sambil menepuk pundak Louis seakan memberinya semangat, "berdoalah.. dan yakinlah pada nona Vanya..dia pasti akan berusaha segera sadar, sebab dia tahu ada yang menunggunya.." sahut dokter Rudy kembali lalu beranjak pergi meninggalkan Louis kembali dalam kesendiriannya.
Air mata yang tertahan akhirnya perlahan mengalir keluar dari kedua mata Louis. Rasa takut akan kehilangan Vanya semakin kuat dalam dirinya.
Perlahan terlihat Vanya yang masih berbaring dengan wajah yang hampir seputih kapas. Dua orang suster dengan sigap mendorongnya,menuju ruang ICU.
Louis menyeka air matanya dan mendekati Vanya perlahan, menatap Vanya yang masih tetap tidak sadarkan diri.
__ADS_1