
You stand in the line just to hit a new low
You're faking a smile with the coffee to go
You tell me your life's been way off line
You're falling to pieces every time
And I don't need no carrying on
•Daniel Powter•
Simon Lee tertawa keras "belum juga satu hari,Ruby..".
"Aku sudah menjelaskannya pada papa jika aku tidak bisa.. dan sekarang, aku bahkan mempermalukan diriku sendiri" sahut Ruby.
Simon Lee mendekati putrinya "coba sini..ceritakan pada papa.. apa yang terjadi pada putri cantik papa ini hingga begitu kesal?"
Ruby hanya semakin memanjangkan mulutnya, lalu tersenyum "terkecuali..papa mengabulkan permintaanku.."
"tentu tidak boleh.. bukankah kamu bekerja itu sebab konsekuensi yang kamu terima karena menyuruh papa menerima pekerja baru laki-laki..ah,siapa namanya itu.. Lusi? Lues? ah.. siapapun itu" sahut Simon.
"Louis,papa sayang..Louis.. ingat nama itu,papa.. sebab itu akan menjadi calon menantumu kelak!" sahut Ruby dengan bangga.
Simon Lee kembali tertawa terbahak-bahak "putriku.. apakah kamu mengira,kamu bisa sesukamu menikahi pria sembarangan??" Simon menggerakkan jari telunjuknya "Kamu itu anakku, Simon Lee.. pengusaha terkenal!!".
"Apa yang salah dengan Louis?!" seru Ruby.
__ADS_1
"Hanya satu kesalahannya.." sahut Simon.
Ruby menatap ayahnya dengan serius "apa,pa?".
"yaitu dipilih olehmu!" lanjut Simon.
"Papa!!" seru Ruby seketika.
Simon Lee tertawa "papa serius,sayang.."
"Dan begitu juga aku!! Aku juga serius tentang Louis!" sahut Ruby.
Simon Lee mengerutkan keningnya, dia menyetujui putrinya untuk menerima Louis semata-mata hanya karena ingin membujuk Ruby bekerja di perusahaan. Bagi Simon, menerima Louis atau tidak..tidak ada masalah baginya. Karenanya dia tidak keberatan akan permintaan putrinya. Lagipula,Simon Lee menganggap jika perasaan Ruby pada Louis hanyalah sebentar saja, "masih banyak yang lebih baik dari dia,sayang.. begitu banyak pria yang rela menantimu di luar sana".
Suara helaan nafas panjang terdengar dari mulut Simon "papa malas membicarakan hal ini. Yang papa tau hanyalah..kamu telah berjanji pada papa dan sekarang kamu harus menepatinya.. apapun itu hambatannya,kamu harus menerima dan menjalaninya!!" sahut Simon dengan tegas.
Suara dering notifikasi telepon Ruby berbunyi, Ruby menatap ponselnya dan seulas senyuman menghiasi wajah Ruby sejenak "tentu..tentu,papa.. aku tetap menepati janjiku.. Bukankah hari ini aku telah datang bekerja sesuai janjiku?" sahut Ruby sambil meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Simon memperhatikan gerak gerik putrinya "kamu mau kemana?".
"Karena aku sudah datang bekerja, maka saatnya aku pulang kerja" sahut Ruby sambil tersenyum lebar "aku lelah dan stress,papa.. aku harus *refreshing* sejenak". Salah temannya mengajak Ruby untuk berkumpul bersama, bukan Ruby namanya jika menolak mereka. Dan seperti biasa,Ruby layaknya ladang uang bagi mereka untuk bersenang-senang sesuka hati mereka.
__ADS_1
"Kamu baru bekerja dua jam dan kamu ingin bersenang-senang??" tanya Simon kebingungan.
"Hmm...papa benar.. aku bekerja dua jam,maka aku akan bersenang-senang selama delapan jam!!" sahut Ruby dengan santai.
"ha?"
"*bye bye*,papa sayang.." sahut Ruby sambil mengecup pipi papanya yang masih melongo kebingungan.
Di Kediaman Louis,
Louis menghempaskan dirinya di sofa mini yang berada di ruang tamu. Dia tidak menyangka jika walau bekerja di kantor dapat begitu melelahkan.
Tiba-tiba wajah Vanya membayang pikirannya,seulas senyuman menghiasi wajah lelah Louis "Vanya Rosanne.." bisiknya sendiri "wanita aneh.." lanjutnya "namun.. kenapa membuatku tertarik padanya?".
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya akan wajah Vanya, dan tentunya membuat Louis sedikit kesal. Dia bangkit berdiri dan membuka pintu dengan wajah kesal ditambah saat dia menatap tamu yang tidak diundang berdiri di depan rumahnya sambil mengangkat beberapa kaleng bir.
"Surprise (kejutan).." seru Luckas saat Louis membuka pintu.
Louis memutar kedua bola matanya "ada apa?".
Luckas mengerutkan keningnya "mengapa wajahmu seperti habis dimakan lemon sekilo?" sahut Luckas sambil ngeluyur masuk ke dalam rumah Louis "ah.. rumah ini penuh kenangan indah.." serunya sambil menatap sekeliling rumah.
"Sepertinya bagi Lidya adalah kebalikannya.. dan jika kenangan itu menyangkut dirimu.." seru Louis acuh sambil berjalan menuju ruang tamu dan menatap bir yang di bawa Luckas "setidaknya kamu sekalian membeli cemilan atau makan malam untukku,abang ipar?".
Luckas tertawa "tenanglah.. hitunglah sampai sepuluh.. makanan favoritmu akan tiba".
"Apa maksu--"
Ting tong..
Suara bel rumah Louis menghentikan ucapannya,dia pun melangkah kembali menuju pintu rumahnya dan membuka pintu tapi kali ini.. wajahnya begitu gembira saat menatap tamu yang berdiri di depannya.
"Selamat Sore,sir.. benarkah ini rumah Louis Claristo??" sahut pria tersebut.
Louis mengangguk dengan cepat "benarrrrr...." sahutnya dengan ceria karena dia melihat pria itu dengan seragam fast food favoritnya. Louis menatap Luckas dengan wajah penuh terima kasih, Luckas membalas menatap Louis dan mengangguk sambil menggerakkan bibir dan tangannya jika dia telah membayar semuanya.
"Ini pesanan anda,sir Louis.. Chicken pizza dengan tambahan cheese yang banyak sesuai pesanan anda dan satu lagi hawaian pizza dengan potongan buah nenas sesuai pesanan anda juga.." sahut pria itu sambil menyerahkan kedua kotak pizza tersebut.
__ADS_1
Louis menerimanya dengan gembira sambil mengucapkan terima kasih dan menutup pintu, tapi pria pengantar pizza tersebut menahan pintu rumah Louis "maaf,sir.. ini struk atas pesanan Pizza anda.. total 65 dollar..".