Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Airport


__ADS_3

Lidya akhirnya memutuskan untuk membawa Louis ke rumahnya untuk sementara waktu, dia tidak ingin meninggalkan Louis sendiri lagi, mungkin tidak untuk saat ini.


Malam harinya, Edward bergegas mengunjungi kediaman Luckas. Sejak tadi sore saat Luckas memberinya tugas untuk memeriksa posisi Vanya. Tanpa basa basi,Edward langsung melaksanakan perintah bosnya, sulit? Tidak! apalagi untuk seorang Luckas Ryans yang telah terkenal di New York.


Baik Louis,Lidya,Luckas dan Edward berada di ruang kerja Luckas. Wajah Edward terlihat begitu serius hingga membuat Louis sedikit merasa gugup.


"Cepat katakan, Edward.. Dimana Vanya?" tanya Louis.


"Sabar,tuan Louis.. Nona Vanya berada di New York.." jawab Edward.


Louis menghela nafas lega, setidaknya Vanya masih berada di New York.


"Dan.. dia berada di apartemen Autumn Yard" lanjut Edward sambil menyodorkan selembar memo kecil yang berisikan alamat lengkap lokasi apartemen Autumn Yard pada Luckas.


Luckas menatap sejenak memo tersebut lalu melirik Louis yang telah tidak sabar, "kamu berhutang budi padaku" sahut Luckas lalu kembali menyodorkan memo itu pada Louis.


Louis mengangguk dengan cepat, "akan ku balas apapun yang kamu minta,kakak ipar!!". Louis meraih memo tersebut lalu bergegas beranjak keluar dari ruangan itu.


Suara dering telepon Edward tiba-tiba memenuhi seisi ruangan. Louis menghentikan langkahnya, dia merasakan firasat buruk akan telepon itu. Semua tatapan menatap ke arah Edward.


"Halo?" Edward terdiam sejenak "Apa?!!!!".


Tanpa melanjutkan pembicaraannya dengan penelepon, Edward menutupnya dan menatap Louis dengan wajah yang gelisah, "saya br mendapat info.." sahut Edward lalu kembali menatap Luckas dan Lidya "Malam ini, Miss Vanya akan berangkat ke Beijing.."


"APA??!!" pekik Louis.


"Dan satu jam lagi,pesawatnya akan berangkat" lanjut Edward.


Perkataan Edward yang seakan memiliki sihir yang melemaskan kedua kaki Louis, "t..tidak...".


Luckas bergegas meraih salah satu kunci mobilnya dan melemparkannya pada Edward yang dengan sigap menangkapnya, "pakai mobilku sekarang juga!"


"Sudahlah.. tidak akan sempat lagi" lirih Louis.


"Jangan pernah menyerah, Louis. Jangan pernah berhenti sebelum benar-benar berhenti!!. Jangan kamu menyesalinya kemudian hari!" tukas Luckas, "Lidya,kamu?"


"Tentu aku ikut!!" sergah Lidya "aku ingin bertemu dengan calon adik iparku!!"


"Dan sepertinya Louis tidak akan ikut dengan kita" sahut Luckas sambil melirik Louis.


"Kata siapa?! Aku ikut!!" seru Louis.


Sekilas sebuah senyuman menghiasi wajah Luckas, "Baiklah.. Edward, aktifkan jiwa pembalapmu!! Tunjukkan pada mereka jika kamu sangat kompeten menjadi pembalap" sahut Luckas yang langsung mendapatkan senyuman penuh bangga dari Edward. Beberapa bulan yang lalu, saat Luckas hampir terlambat dan akan ketinggalan pesawat, dimana dia harus menghadiri pertemuan dengan klien penting. Dan saat itu juga tiba-tiba Edward mengeluarkan bakatnya, alhasil Luckas tiba di bandara tepat waktu dan Luckas masih sempat untuk mengeluarkan isi perutnya karena efek mual dari balapan liar si Edward.


Beberapa menit kemudian, Lidya,Luckas dan Louis telah berada di mobil Luckas.


"Bos.. bagaimana jika kena denda karena ngebut?" tanya Edward.


"Kenapa kamu mikir itu,selama kamu tidak menabrak orang..maka kami tidak perlu memikirkan hal lain" sahut Luckas sambil mengibas-ibaskan tangan kanannya.

__ADS_1


Edward kembali tersenyum, "siap!!".


Louis duduk di kursi depan bersama Edward, sedangkan Luckas dan Lidya berada di kursi belakang. Begitu Edward menghidupkan mesin mobil, Luckas mendekati Lidya dan berbisik "berpeganglah dengan sesuatu, Edward sangat gila jika telah ku perintahkan untuk ngebut".


Dan benar saja, dimana biasanya membutuhkan waktu satu jam dua puluh menit,Edward berhasil sampai di bandara dengan waktu empat puluh lima menit saja. Selama perjalanan,berulang kali Louis mengucapkan makian pada Edward.


"Simpan dulu makianmu pada Edward" sahut Luckas saat Louis kembali menatap Edward dengan kesal, "segera cari Vanya,waktumu hanya tinggal beberapa menit".


Louis berlari masuk ke dalam bandara,mencari sosok Vanya diantara keramaian. Bandara yang begitu luas,sangat menyulitkan Louis untuk menemukan sosok Vanya.


"Kepada saudari Vanya, dipersilahkan untuk menuju ke bagian informasi karena adanya perihal kesalahan data penerbangan milik anda.. Sekali lagi kami sampaikan,kepada saudari Vanya, dipersilahkan untuk segera menuju ke bagian pusat informasi untuk mengkonfirmasi perihal surat data diri anda.. terima kasih.."


Suara pengumuman yang memenuhi seisi ruangan membuat Louis tersenyum, dia tahu jika ini pengumuman itu adalah akal-akalan Luckas.



Disisi lain,



Peter membantu mendorong koper Vanya,berjalan bersama menuju gerbang keberangkatan. Suara pengumuman membuat Vanya berhenti sejenak, dia mengerutkan keningnya.



"Ada apa,Vanya?" tanya Peter.




"Aku yakin itu orang lain,bukankah banyak yang bernama Vanya? Mereka juga tidak menyebutkan nama lengkapmu..Aku yakin,itu adalah orang lain" sahut Peter.



"Tapi--"



Peter yang tidak sengaja menoleh, melihat sosok Louis dari kejauhan. Tiba-tiba,Peter sedikit merasa gugup.



"Aku yakin itu bukan kamu!. Jika memang itu adalah kamu,kita akan segera tahu saat masuk ke dalam pesawat nantinya!" sahut Peter sambil sedikit mendorong pelan tubuh Vanya untuk segera maju.



"Ah..kamu benar..." sahut Vanya pelan.


__ADS_1


"VANYA!!!" suara jeritan Louis sontak mendapat perhatian semua orang, termasuk Peter dan Vanya.



Vanya menoleh dan melihat sosok Louis dari kejauhan, "Lo..Louis?"



"Cepat masuk,Vanya.. kita akan segera berangkat!" seru Peter.



"Ta..tapi.."



"Ingatlah apa yang membuat kamu keguguran dan alasan kamu ingin ke Beijing!" sahut Peter.



Dari kejauhan,Louis yang telah menemukan sosok Vanya dan Peter, mencoba berlari untuk masuk ke dalam, namun petugas bandara dengan sigap menahannya.



"Maaf,sir.. hanya penumpang yang diperbolehkan masuk ke dalam!" tukas para petugas bandara.



"Tidak..biarkan aku masuk sebentar saja" lirih Louis saat Vanya kembali berbalik dan melangkah masuk ke dalam tanpa memperdulikan dirinya, "VANYA!!" pekik Louis kembali.



Vanya mengepal kedua tangannya, dia menatap Peter yang tersenyum lembut padanya, "ayo kita masuk,sebelum aku berubah pikiran" sahut Vanya.



Peter mengangguk, jauh di dalam hatinya..Peter merasa sangat gembira karena Vanya memilihnya daripada kembali pada Louis, "*dan..semua berkat Ruby*" gumamnya dalam hati.



Louis menatap sosok Vanya yang semakin menghilang dari pandangannya, "ti..tidak..VANYA!!" lirih Louis.



Sepuluh menit kemudian,


Luckas dan Lidya menemukan Louis yang duduk di salah satu kursi yang tersedia di sekitar bandara. Lidya berjalan perlahan mendekati adiknya yang telah terlihat semakin terpuruk, dia hanya bisa menghela nafas sambil menatap suaminya, "sepertinya semua tidak berjalan lancar"


Wajah Luckas sendiri terlihat murung, melihat adik iparnya yang begitu terpuruk ternyata membuatnya merasa sakit hati, jauh dalam hatinya..Louis telah bagaikan adik kandungnya sendiri, "bujuklah dia pulang terlebih dahulu.. aku akan memikirkan cara untuk menemukan wanitanya kembali"

__ADS_1



__ADS_2