
Times Square,
Luckas sengaja memilih restoran yang dekat dengan lokasi Times Square supaya memudahkannya untuk menemui Lidya. Dari Edward,Luckas mendapat info Lidya sedang duduk di salah satu kafe yang ada di dalam mall, Luckas telah memberikan Lidya salah satu kartu kredit berwarna hitamnya dan dia menyuruh Lidya memanjakan diri dengan shopping apapun yang dia inginkan. Tapi,Lidya sejak tadi hanya melihat-lihat tanpa membeli dan dia memilih menunggu Luckas sambil duduk di salah satu kafe..tentu Edward duduk di salah satu meja dekat Lidya. Edward menolak tawaran Lidya untuk duduk satu meja dengannya.
Lidya duduk sambil menikmati lemon ice teanya sambil sesekali menatap handphonenya menunggu telepon dari Luckas. Saat dia menatap jendela, dari kejauhan dia melihat Luckas yang berjalan mendekatinya sambil tersenyum,sontak Lidya berdiri..sebuah senyuman langsung menghiasi wajah cantiknya.
Luckas mengecup kening Lidya dengan lembut "apa yang kamu lakukan disini,sayang? Bukankah aku menyuruhmu untuk shopping?"
Lidya hanya tersenyum "belum ada yang menarik perhatianku", baginya berfoya-foya memakai uang orang lain bukanlah tipenya,sekalipun uang kekasihnya padahal Luckas tidak keberatan dengan itu.
Luckas duduk disamping Lidya "Kamu sudah makan?"
Lidya menggeleng.
"kamu ingin makan disini atau di hotel?" tanya Luckas sambil mengelus rambut Lidya.
"Bagaimana disini saja,Luckas? disini ada spagethi carbonara kesukaanmu" tawar Lidya
"kamu salah.."
"hm?"
"sekarang aku memiliki favorit lainnya.."
"oh ya? apa itu,Luckas? Aku akan tanyakan pada pelayan disini"
Luckas mendekati telinga Lidya "kamu.. aku selalu haus dan lapar akan dirimu.." wajah Lidya sontak memerah dan memukul ringan dada bidang Luckas.
Luckas terkekeh dan melihat menu yang disodorkan salah satu pelayan kafe itu. Setelah beberapa saat,Lidya dan Luckas memesan makan malam mereka. Tentunya,Edward juga.
Saat menikmati makan malam mereka,Edward mendapat laporan mengenai kelakuan Freya saat di restoran. Edward mendekati Luckas dan berbisik menyampaikan laporannya. "urus saja" perintah Luckas. Edward mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Lidya menatap mereka dengan keheranan "apakah ada hal penting?" tanya Lidya.
__ADS_1
Luckas tersenyum "tidak ada yang penting,sayang.. oh ya,kamu masih ingin berada di New York atau ingin kembali ke Washington?"
Lidya menggeleng "aku ingin kembali ke Washington, jika kamu masih ada urusan disini. Aku bisa kembali sendiri"
"kita kembali sama-sama" balas Luckas
#######
Kediaman Green,
Freya mendapat laporan mengenai Lidya dari managernya tapi hanya tidak begitu detail. Dari managernya, dia hanya mendapatkan nama Lidya Claresta..tidak lebih dari itu. Akhirnya Freya mencoba menelepon Dora.
"halo..Freya sayang.."
"Grandma...huhu.." sahut Freya dengan membuat suaranya terdengar sedih
"ada apa denganmu,nak?? apa yang terjadi??"
"Luckas mengajakku bertemu..huhu"
"dia menyuruhku membatalkan pertunangan kami..katanya dia telah mencintai wanita lain" lirih Freya
Dora menghela nafas begitu kuat hingga Freya dapat mendengarnya "tidak usah kamu dengar perkataan Luckas. Dia sedang tergoda oleh gadis miskin itu"
Bibir Freya melengkung seketika tapi dia tetap menahan suara lirihnya "gadis miskin,grandma?"
"Lidya..Lidya Claresta. Dia hanya gadis biasa saja yang mendekati Luckas saat bekerja di hotel Ryans. Dan dia berhasil menggoda Luckas"
"dia bekerja di hotel Ryans?"
"benar..di Washington. Grandma tidak bisa memecatnya karena kuasa penuh sekarang dipegang oleh Luckas. Kamu tidak usah mendengar perkataan Luckas ya,sayang"
__ADS_1
"huhu..apa aku harus tetap melanjutkan pertunangan ini,grandma?"
"tentu saja!! hanya kamu satu-satunya cucu menantu grandma!"
"baiklah,grandma..aku akan menuruti perkataan grandma"
"tenanglah..jangan bersedih lagi.. Kamu akan tetap menjadi pendamping Luckas" sahut Dora dan mengakhiri telepon dari Freya.
Freya menghapus air mata palsunya yang sedikit mengalir 'ah..sekarang aku tahu harus mulai darimana..'
##########
Hotel Ryans, Washington.
Sejak kembali ke Washington, Lidya sangat disibukkan dengan pekerjaannya. Beberapa artis yang menginap di hotel Ryans cukup membuat pekerjaan Lidya semakin sibuk. Tidak jarang karyawan-karyawan hotel Ryans terlihat heboh saat mendapat tamu dari kalangan artis. Walau dihadapan tamu,mereka selalu profesional tapi dibelakang mereka akan heboh. Siapa yang tidak heboh saat bertemu orang terkenal bukan??
Sore itu, Lidya baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dia terlihat begitu lelah, dia berjalan gongtai ke ruangan kantornya. Tapi seluruh karyawan terlihat heboh 'siapa yang datang kali ini?' pikir Lidya. Dia duduk di kursinya, tanpa berniat bertanya ada gerangan apa, dia terlalu lelah untuk bertanya.
Pretina mendekatinya, Lidya menatapnya sambil tersenyum "jadi..siapa yang datang kali ini? artis Hollywood atau Korea?"
Pretina menggeleng "mmm..yang datang kali ini-"
Gina berlari mendekati mereka berdua "tu..tunangan bos datanggggg.."
Seakan disiram air es di sekujur tubuhnya,Lidya membeku "tu..tunangan??"
Pretina mengangguk "Freya Green.."
"Sebenarnya dia biasa saja..hanya status barunya sekarang yang menjadi tunangan bos kita jadinya karyawan kita heboh ingin melihat wajahnya.." sahut Gina
"lebih tepatnya mereka ingin membandingkan seberapa cantiknya dia hingga begitu beruntung bisa menjadi tunangan Luckas Ryans" lanjut Pretina.
__ADS_1