
"Luckasssss!!!!" seru Lidya, Lidya terbangun dari mimpi buruknya. Lidya memandang sekeliling kamarnya,air matanya mengalir deras.
'Bagaimana jika mimpiku menjadi kenyataan,ya Tuhan? aku belum sanggup menerima pengkhianatan yang sama'
Lidya duduk bersandar di tempat tidurnya, dia tidak menyangka rasa takut kehilangan Luckas begitu kuat dalam dirinya.
Lidya menatap jam dinding kecilnya yang bertengger di dinding kamarnya 'ah..sudah jam 11 malam..sepertinya aku ketiduran cukup lama' lirih Lidya dalam hati. Lidya menatap jendela yang berada di samping tempat tidurnya sampai Lidya mendengar dering dari handphonenya,Lidya menatap layar telepon dan nomor tidak dikenal yang terpampang disana.
"halo.." sahut Lidya lemas.
"Lidya..kamu dimana?"
Suara yang ditunggunya seharian membuat Lidya bangkit berdiri seketika "Luc..Luckas?"
"ini aku..aku memakai nomor Edward.." Luckas meminjam handphone Edward, karena dia lelah akan kejaran para wartawan yang menggebu-gebu seperti buaya yang siap menerkamnya kapan saja.
Lidya merasa lega saat mendengar suara kekasih hatinya "kamu..baik-baik saja?"
"aku ada didepan apartemenmu"
Lidya langsung berlari menuju pintu depannya, saat dia membuka pintu depannya terlihat sosok yang sangat dia rindukan dari balik pintu itu.
__ADS_1
Luckas segera masuk dan memeluk Lidya begitu kuat. Lidya membalas pelukan pria yang dicintainya itu. Hanya pelukan dari Lidya yang dibutuhkan Luckas sekarang, wangi khas dari tubuh Lidya seakan menjadi oksigen baginya untuk bernafas lega dikala dia lelah akan semua kejadian yang menimpanya. Lidya menahan diri bertanya mengenai Freya, dia tahu Luckas membutuhkannya sekarang. Dan dia juga sudah mendapatkan jawaban walau tidak bertanya pada Luckas bahwa hanya dirinya yang dicintai Luckas.
Lidya memeluk Luckas sambil menepuk pelan bagian punggung Luckas dan sesekali mengelus lembut punggungnya "semua akan baik-baik saja.." bisik Lidya.
Luckas melepaskan pelukannya "kemasi barangmu,Lidya!"
"hah?!"
"kita akan ke New York!!"
"HAH??!!"
"kita akan menemui kedua orang tuaku!!"
Luckas menghela nafasnya yang terasa berat "Pertunangan ini hanyalah ide nenekku semata, karena dia menyukai Freya dan tanpa persetujuanku dia membuat pertunangan ini. Dia bahkan tidak menanyakan persetujuanku.. dan sebenarnya pertunangan ini hanyalah sekedar perjodohan antara kedua keluarga tanpa persetujuan aku dan Freya!! Dan aku akan membawamu menemui mereka agar mereka mengetahui aku telah memiliki kekasih supaya membatalkan ide bodoh ini"
Nenek Luckas merupakan anggota keluarga tertua di keluarganya dan sangat disegani oleh semua anggota keluarganya. Segala yang menjadi keputusan nenek Luckas,tidak akan bisa di ganggu gugat kecuali nenek Luckas sendiri yang merubahnya. Luckas tahu membawa Lidya menemui keluarganya terutama neneknya belum menjadi jaminan jika pertunangan bodoh ini akan dibatalkan. Tapi,Luckas tidak ingin pasrah begitu saja..Lidya harus dia perjuangkan, hanya Lidya yang bisa menjadi istrinya!!
"ta..tapi..ba.. bagaimana jika mereka tidak menyetujui hubungan kita? apalagi nenekmu" lirih Lidya.
"walau kedua orang tuaku sangat menghormati nenekku tapi mereka juga sangat menyayangiku dan aku yakin mereka akan bisa membantuku untuk membujuk nenekku"
__ADS_1
"ta..tapi-"
Sebuah ciuman dari Luckas menghentikan kalimat Lidya "aku merindukanmu.." bisik Luckas dan kembali ******* bibir Lidya, wanita yang sangat dicintainya. Lidya membalas ciuman intens dari Luckas, ciuman yang sangat dirindukannya. Begitu dalam seakan mereka telah melebur menjadi satu.
########
Lidya mengurus izin cutinya di hotel, walau kesal tapi Rainy tetap memberi izin pada Lidya karena dia mendapat perintah izin dari pimpinannya. Rainy juga tidak berani bertanya apalagi memberitahu orang lain.
Selama perjalanan mereka ke New York, Lidya melihat Luckas yang sedikit gelisah. Lidya menggenggam tangan Luckas, Luckas tersenyum padanya dan membalas mengelus lembut rambut coklat Lidya yang menjadi favoritnya. Luckas merasa gelisah karena dia tahu peluang untuk menolak pertunangannya sangatlah kecil, ditambah ayahnya yang sangat menyayangi dan menghormati neneknya itu tidak pernah menolak ataupun membantah perintah dan keinginan neneknya. Luckas menghela nafas.. dia harus menghadapi ini,demi Lidya.
Begitu tiba di bandara, Luckas dan Lidya langsung di sambut oleh empat orang staf yang bertubuh dari keluarga Ryans. Mereka melayani Luckas dan Lidya, sehingga Luckas dan Lidya cukup masuk kedalam mobil mewah yang telah disiapkan. Lidya merasa risih karena tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini. Luckas terkekeh saat melihat tingkah Lidya, dia memeluk pinggang Lidya sambil berjalan masuk kedalam mobil.
"Sir..anda ingin pulang ke rumah atau ke hotel Ryans?" tanya salah satu staf yang duduk disamping supir.
"Hotel.." jawab Luckas "but..ke hotel Winter!" pria bertubuh besar itu hanya mengangguk dan menyuruh supir tersebut menuju ke lokasi yang diperintah Luckas.
Lidya merasa heran dengan pilihan Luckas,tapi dia hanya terdiam..dia yakin jika Luckas memiliki alasan mengapa memilih hotel lain selain Hotel Ryans. Luckas melirik Lidya seakan mengetahui apa yang dipikirkan wanita itu, "aku ingin kita istirahat terlebih dahulu sebelun bertemu mereka. Dan aku merahasiakan kedatanganku di New York sebab itu aku memilih menginap di hotel lain" bisik Luckas.
Lidya mengangguk..
"Lidya.." Luckas kembali berbisik.
__ADS_1
Lidya mendekatkan telinganya kearah Luckas dan Luckas melayangkan kecupan di pipi Lidya. Lidya terkejut mendapat serangan seperti itu, refleks dia menatap kedua orang yang berada ditempat duduk depan itu. Kedua orang itu terlihat sibuk dengan diri mereka sendiri ataupun mereka memang tidak berani menoleh walau tahu apa yang dilakukan tuan mereka. Mereka tidak sebodoh itu mencampuri urusan tuan mereka dengan resiko kehilangan pekerjaan.