
Washington, Hotel Ryans.
"Miss Lidya.. ada tamu mencari anda" pesan Rainy,atasan Lidya.
"tamu??"
"benar..beliau mengatakan jika dia kenalanmu jadi ingin bertemu dengan anda" jelas Rainy "pergilah..tamu tersebut dari kamar 615"
Lidya beranjak dari kursinya,dia tahu Rainy bukanlah tipe atasan yang suka banyak tanya apalagi tidak mengerjakan perintahnya dengan cepat.
Lidya berjalan dengan wajah penuh senyuman 'ini pasti kerjaan Luckas..tapi bukankah dia memberitahuku jika besok dia baru kembali kesini?' Lidya teringat akan kejadian dulu sehingga dia yakin jika 'tamu' yang dikatakan Rainy tidak lain adalah Luckas 'mungkin dia ingin memberiku kejutan' pikir Lidya. Hatinya sungguh berbunga-bunga hanya memikirkan Luckas. Dia sungguh-sungguh telah jatuh hati pada Luckas.
Lidya mengetuk pintu kamar 615 dengan senyuman yang merekah "permisi..ini Lidya".
Pintu kamar perlahan terbuka, senyuman Lidya langsung sirna melihat sosok yang berdiri di dalam kamar itu. Tamu tersebut menarik Lidya masuk kedalam kamar dan langsung memeluk Lidya tanpa memberikan kesempatan bicara.
__ADS_1
"Lidya!!! aku sungguh merindukanmu!!!" sahut tamu tersebut.
"Lepaskan aku!!!" pekik Lidya sambil mencoba melepaskan dirinya dari pelukan orang yang dibencinya ini.
"Tidak!!! aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi!!! Aku sudah mencarimu kemana-mana tapi tidak menemukanmu!!! Bahkan aku mencoba meneleponmu beribu kali tapi kamu telah mengganti nomormu. Pertemuan terakhir kita di club kemarin mengingatkanku jika kamu pernah memberitahuku kamu bekerja di hotel ini"
"Buat apa kamu mencariku lagi??!!! Tidak ada yang perlu dibicarakan!! apa yang kulihat kemarin sudah lebih dari cukup menjelaskan semuanya!!!" seru Lidya sambil melepaskan diri dari pelukannya.
"aku tahu aku salah, Lidya. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini. Dan aku tahu kamu masih mencintaiku, begitu juga aku Lidya!!! Hubungan kita selama tujuh tahun tidak mungkin hilang begitu saja" sahut Rico dan dia menarik kembali Lidya kedalam pelukannya.
Tapi bukannya melepaskan Lidya, Rico malah menghujani Lidya dengan ciuman,ciuman yang begitu kasar.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN???!!!!" Pekik Luckas yang berdiri di depan pintu kamar 615 dan menyaksikan kedua insan tengah berciuman. Begitu tiba di hotel,Luckas langsung menyuruh salah satu staf untuk memanggil Lidya ke kantornya,tapi dari staf tersebut Luckas mengetahui jika Lidya sedang menemui tamu disalah satu kamar di lantai enam. Karena rasa rindu yang mengebu,Luckas langsung berjalan menuju lantai enam,lantai dimana Lidya menemui tamunya. Tapi ternyata bukan hanya Lidya saja yang dia temukan.
Rico menghentikan ciumannya "bukan masalah anda, tinggalkan saja kami" sahutnya sambil menutup pintu kamar tapi Luckas menahan pintu kamar yang hampir tertutup "Apa yang anda la--", sebuah pukulan mendarat di wajah Rico, Luckas masuk kedalam kamar dan ingin memberi Rico pelajaran tapi Lidya menahannya, Lidya tidak ingin memberikan masalah bagi Luckas.
__ADS_1
"Luckas..please.." isak Lidya. Lidya memang masih sakit hati atas perlakuan Rico tapi dia tetap mencoba menahan Luckas, dia tidak ingin Luckas memiliki masalah nantinya.
Rico memegang pipi kirinya yang kesakitan, tapi dia tertawa sinis "aku ingat sekarang..kamu pria yang di club kemarin!! Tapi tuan.. asal kamu tahu.. wanita ini adalah kekasihku!!!" pekik Rico.
Luckas tidak menghiraukan Rico, dia menarik tangan Lidya dengan kasar, Luckas menarik Lidya menjauh sejauh mungkin dari Rico.
"Luckas...sakit.." erang Lidya,tapi Luckas tidak mengindahkan erangan Lidya.
Luckas berhenti di depan salah satu kamar hotelnya, dia mengambil kartu dari kantongnya dan membuka pintu kamar hotelnya. Luckas mendorong Lidya masuk kedalam kamar kosong itu, dengan cepat Luckas menutup pintu kamar itu dan menahan Lidya di dinding kamar hingga Lidya tidak mampu melarikan diri "Lucka..ss" seru Lidya pelan, dia takut melihat wajah Luckas yang begitu mengerikan,matanya memancarkan amarah yang begitu besar.
Luckas ******* bibir Lidya dengan kasar,bukan ciuman yang lembut seperti biasanya. Ciuman yang begitu kasar bahkan menyakiti Lidya. Lidya meringis kesakitan bahkan membuatnya sulit bernafas. Lidya memberontak mencoba melepaskan diri dari Luckas, Lidya menangis "Lu..Luckas..please" erang Lidya.
Bukannya menghentikan ciumannya,Luckas bahkan mengoyak baju kemejanya..kancing kemejanya berserakan begitu saja dilantai. Lidya menjerit karena perlakuan Luckas yang semakin beringas, tapi Luckas tidak menghentikan serangannya. Ciuman Luckas menjalar bagian leher Lidya,tidak ada sedikitpun bagian lehernya yang lepas dari ciuman Luckas. Tidak puas dengan bagian leher, Luckas bahkan ******* kedua payudara Lidya yang masih terbungkus bra hitam itu. Lidya menjerit karena ciuman Luckas yang mulai merambah ke bagian sensitif "Luckas!!!! aku mohon!!! stop!!!", belum pernah Lidya merasa ketakutan seperti saat ini. Luckas yang di depannya seperti bukan Luckas yang biasanya.
__ADS_1