Hotel Prince

Hotel Prince
Disapointed


__ADS_3

I thought you was better than that


Now I lost all respect and you never winning it back


I'm disappointed in you


So disappointed


•Don Trip•



Kediaman Lidya,



Begitu tiba di rumah Lidya,Luckas menekan bel dan mengetuk pintu rumah bergantian. Dia ingin segera bertemu Lidya.



Louis membuka pintu rumah dengan kesal karena suara bel dan ketukan pintu yang tidak berhenti walau sudah dia jawab dari dalam rumah, dan dia semakin kesal saat melihat sosok yang berdiri didepannya sekarang.



"Buat apa kau kesini?!!" bentak Louis,dia tidak senang dengan kedatangan Luckas setelah pertemuan terakhir mereka.



"Louis.. biarkan aku bertemu kakakmu.." pinta Luckas sambil mencoba mendorong dan mengintip ke dalam rumah.



Dengan cepat,Louis mendorong Luckas kembali "untuk apa?? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan tidak mempercayainya?? Dan sekarang untuk apa kamu menemuinya?? Belum cukup penghinaanmu padanya semalam??!!" bentak Louis kembali.



"Louis..aku akan menerima apapun darimu..makian,pukulan,semuanya..terserah padamu. Tapi, sebelumnya izinkan aku bertemu Lidya terlebih dahulu.." pinta Luckas kembali.



"kamu--"



"Siapa,Louis?" terdengar suara dari dalam rumah. Lidya yang baru saja keluar dari kamar Ayles,melihat Louis yang terlihat bertengkar dengan seseorang di depan rumahnya.

__ADS_1



"Bukan siapa-siapa!! Hanya salah alamat!!" sahut Louis sambil mencoba menutup pintunya.



Bergegas,Luckas menahan pintu yang hampir tertutup itu dan berteriak "Lidyaaa!!"



Sontak membuat Louis menatap Luckas dengan tatapan marah,tapi Luckas tidak menghiraukannya.



"biarkan dia masuk,Louis" sahut Lidya.



"untuk apa?!!! kamu tidak perlu membuang waktumu untuk bertemu dengan bajing\*n seperti dia lagi!!" sahut Louis dengan nada tinggi.



"Jaga ucapanmu!! Ayles bisa mendengarnya!!" tukas Lidya "biarkan dia masuk,ada yang harus aku sampaikan padanya!"




Luckas masuk kedalam rumah,pandangan matanya langsung tertuju pada Lidya yang duduk diruang tamu menunggunya. Mata Lidya terlihat sembab dan wajahnya muram tanpa ekspresi, saat itu juga Luckas seakan ingin menampar dirinya sendiri..memang pantas Louis memanggilnya bajing\*n.. Luckas telah mengingkari janjinya pada Louis untuk tidak membuat Lidya bersedih kembali. '*kau memang tidak patut dimaafkan, Luckas*!!' maki Luckas dalam hati.



"Lidya.."



"duduklah.." sahut Lidya dengan wajah datar "Louis..aku mohon..tinggalkan kami sebentar" pinta Lidya.



"tidak!! aku tidak akan pernah meninggalkanmu dengan si brengs\*k ini!!"



Lidya menatap Louis dengan tatapan tajam "jaga ucapanmu!! sudah kukatakan Ayles bisa mendengarmu..", Lidya menghela nafas "aku mohon padamu,Louis..tinggalkan kami sebentar dan tolong bawa Ayles besertamu"

__ADS_1



Louis menghela nafas panjang dan menatap Luckas dengan tatapan dingin "kita belum selesai!! Jangan kau macam-macam dengan Lidya!!!". Louis masuk kedalam kamar Ayles dan selang beberapa lama,dia menggendong Ayles keluar, Ayles yang menyadari kehadiran ayahnya namun dia hanya membenamkan kepalanya di tubuh pamannya,Ayles masih mengingat perlakuan Luckas padanya.



Luckas kembali mengutuk dirinya saat melihat sikap Ayles padanya. Dia sangat ingin meminta maaf pada Lidya dan juga Ayles. Setelah kepergian Louis dan Ayles,Luckas mendekati Lidya dan berlutut dihadapannya sambil memegang tangan Lidya.


"Lidya.." sahut Luckas dengan suara lirih "maafkan aku yang begitu bodoh ini.." Luckas merogoh sebuah cincin dari kantongnya "maukah kamu memaafkanku,Lidya?".



Lidya menarik tangannya "duduklah..aku ingin berbicara" sahutnya dengan wajah datar dan tanpa menatap Luckas,lebih tepatnya dia tidak ingin menatapnya.



Luckas menundukkan kepalanya,dia tahu Lidya marah padanya dan pastinya kecewa padanya. Dia kembali duduk di kursi sofa dan meletakkan cincin Lidya diatas meja "aku aku telah membuatmu kecewa.." lirihnya "Lidya..aku mohon..berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini.."



Lidya mengeluarkan sebuah amplop coklat dan meletakkan diatas meja "itu adalah hasil tes DNA Ayles.." sahut Lidya dengan nada berat "bukalah jika memang kamu penasaran tapi..aku tidak ingin kamu membawa hasil itu pada Dora!!" tukasnya "aku hanya ingin kamu tahu kejelasan tentang Ayles!!"



"ti..tidak.. tidak!! Jangan berkata seperti itu!!" pinta Luckas.



Lidya tersenyum sinis,sekilas tersirat rasa sakit dari matanya "terserah padamu.. dan pergilah sekarang,bawa amplop itu beserta cincinmu itu!"



Seketika Luckas merasakan langit runtuh menimpanya, Lidya mengusirnya!. Luckas sangat menyesal dan hatinya terasa sakit dan hancur melebihi tiga tahun yang lalu saat Lidya meninggalkannya "Lidya.." suara Luckas terdengar parau.



Lidya mengalihkan kepalanya "Jangan pernah kembali dan masuk kedalam kehidupan kami lagi!! Jika kamu melihat kami,anggaplah kami hanya orang asing yang tidak kamu kenal,begitupun sebaliknya..kami juga akan seperti itu"



Luckas bangkit berdiri "tidak!! tidak!!" Dia mengoyak amplop coklat itu tanpa melihat isinya, dalam sekejap amplop beserta isinya telah tidak terbentuk,Luckas berlutut "maafkan aku,Lidya.." lirihnya "aku mohon padamu..aku..aku tahu aku salah..kamu bisa menghukumku sesukamu,Lidya tapi jangan meninggalkanku lagi"



"sudahlah,Luckas.. Kita akhiri saja,aku lelah dengan semua ini..Bagaimana kita bisa melanjutkan hubungan kita sedangkan kamu tidak bisa mempercayaiku?!" isak Lidya "Aku tidak membutuhkan harta kalian tapi keraguanmu seakan aku memang mengincar harta kalian.. dan yang paling membuatku sakit hati--" Lidya menghapus air matanya yang mengalir di pipinya "kamu bahkan meragukan anakmu,darah dagingmu sendiri..". Louis telah menceritakan padanya tentang perlakuan Luckas pada Ayles,karenanya Lidya merasa kecewa dan sakit hati.

__ADS_1



__ADS_2